
Eby dan Mahira berjalan menyusuri grand bazzar yang sangat luas. Ditangan mereka terselip kertas daftar barang yang hendak dibeli.
Ribuan toko dengan berbagai jenis barang jualan yang menarik dan unik tentu akan membingungkan, bagi pengunjung bila tidak menyiapkan sejak awal apa saja yang hendak dibeli.
"By, ini bagus ya ...." Mahira menunjuk sebuah pajangan kristal yang terlihat indah namun ukurannya cukup besar.
Eby yang semula fokus melihat lampu mozaik di salah satu sudut toko tersebut, menoleh. Ikut mengamati, benda yang ditunjuk sang sahabat.
"Iya bagus, tapi gimana kamu bawanya nanti?" Sahut Eby, mengingat sang sahabat pasti akan membawa banyak barang nantinya.
"Iya juga sih." Gumam Mahira. Tangannya masih terus mengusap kristal itu dengan pelan.
"Udah yuk, cari yang gampang dibawa aja. Jangan nyusahin diri sendiri." Eby menarik tangan sahabatnya agar menjauh dari toko barang antik tersebut.
Mereka melanjutkan berkeliling, masuk dari satu toko ke toko yang lain. Memilih, menawar, untuk mendapat kesepakatan harga sesuai keinginan keduanya.
Mahira sampai harus membeli satu koper besar yang ia gunakan untuk menampung semua barang belanjaannya.
__ADS_1
"Astagaaa Ra, kamu mau jualan nanti di kampung? Banyak banget belanjaan kamu?" Eby terheran saat menyadari jika sang sahabat sudah berbelanja sebanyak itu.
Mulai dari gantungan kunci, pajanga meja, minyak zaitun, teh khas Turki, dan tidak lupa manisan berbagai rasa dan bentuk kemasan, tertata rapi di dalam koper Mahira. Ini belum termasuk tas dan jaket yang beberapa waktu lalu wanita itu beli di salah satu mall.
"Pesanan keluarga besar ini, By. Nggak enak akunnggak beliin. Ntar dikira sombong lagi." Sahut Mahira, sembari menutup kopernya.
"Lagian sejak tadi, apa kamu nggak sadar berapa toko yang udah kita singgahi?"
"Iya juga ya," Eby menggaruk alisnya beberapa kali.
"Tapi barang sebanyak ini, ditambah barang pribadi kamu nanti, apa nggak over bagasi?" Tanyanya kemudian.
"Ooh, baiklah. Aman berarti nanti." Ucap Eby.
"Kamu nggak belanja, By?" Mahira baru sadar jika sang sahabat tidak membeli satu barang pun di tempat tersebut.
"Nggak ah, lagian masih lama waktu aku untuk pulang."
__ADS_1
"Nggak mau titip di aku, sekalian? Nanti kan bisa minta adik atau pacar kamu untuk ambil di rumah aku." Mahira kembali menawarkan diri."
"Memang masih bisa, aku nitip di koper kamu?"
"Bisa kok, ini kan masih longgar tempatnya. Kamu mau beli apa? Ayo sekarang biar aku temani."
Eby diam beberapa saat sebelum akhirnya berkata,
"Nggak ah, nanti aja." Sahut Eby setelah beberapa saat berpikir.
"Ya udah. Kalau gitu, sekarang kita cari makan dulu, gimana?" Ajak Mahira, dan diangguki oleh Eby.
Eby bahagia bisa menemani sang sahabat berbelanja, membeli oleh-oleh yang akan dibagikan untuk orang-orang terdekat di tanah air.
Seperti biasa, setiap kali membahas tanah air, ada kerinduan yang selalu coba Eby tahan. Ia tidak ingin terlihat lemah di depan orang-orang. Mengubur hasrat bertemu dengan orang-orang tersayang itu tidak mudah, namun semua itu harus ia jalani dengan keikhlasan hati.
Ada yang bertanya, untuk apa mencari kerja jauh hingga ke luar negeri? Apa tidak sayang dengan keluarga? Apa uang lebih penting dari sebuah kebersamaan?
__ADS_1
Bagi mereka mungkin keintiman setiap saat adalah hal wajib. Namun bagi Eby, bisa memenuhi mimpi orang-orang tersayang adalah kewajiban. Sekalipun ia harus berdarah-darah di negeri orang, ia tetap harus melakukannya.