
Hidung merah dan mata sembab, menjadi pemandangan tak biasa di bandara Internasional Turki siang itu.
"Bakal kangen banget kami sama kamu, By." Lirih Mahira yang diangguki Ratih, saat memeluk Eby di terminal bandara.
Hari ini adalah hari dimana Eby akan kembali ke tanah air, setelah tiga tahun lamanya mengais rejeki di negeri orang.
Ada rasa bahagia, sekaligus sedih yang menjalar memenuhi dadanya saat ini.
Bahagia, karena sebentar lagi akan segera bertemu dengan keluarga dan orang-orang tercintanya, namun juga sedih karena harus meninggalkan tempat, dimana ia dipertemukan dengan keluarga baru seperti Mahira dan Ratih yang selalu ada untuknya selama ini.
"Semoga setelah menikah nanti, kamu bisa balik ke sini lagi ya," doa Ratih yang hanya dibalas senyuman oleh Eby.
Ia tidak berharap akan kembali ke negara itu lagi. Baginya, sudah cukup ia berpetualang. Ia ingin mengabdikan diri untuk keluarga kecilnya kelak.
"Kalian jaga diri baik-baik di sini ya. Jangan lupain aku. Hati-hati sama orang-orang yang bermuka dua. Jangan mudah percaya pada siapapun." Nasihatnya pada dua sahabatnya itu.
"Iya By, jangan khawatir. Kamu juga jaga diri ya. Semoga selamat sampai tujuan. Dan semoga nanti kita bertemu di sini lagi." doa Ratih bersungguh-sungguh.
"Doakan yang terbaik saja untukku ya, apapun itu. Kembali kemari atau tidak biarkan takdir yang menentukan langkahku. Yang pasti, aku ingin menjadi istri yang baik untuk suamiku. Dengan atau tanpa bekerja di sini lagi." sahut Eby.
Akankah nasib baik menyertai harapan sederhananya itu?
Semoga saja.
Saat suara operator terdengar, mereka berpelukan sekali lagi. Lebih erat, dan rasanya lebih berat. Bahkan tangisan Ratih begitu menyayat, menghadirkan sesak di dada Eby kala itu.
"Sssttt, udah jangan nangis lagi."
"Nanti aku curhat sama siapa, By?" lirihnya.
"Udah, kasihan Eby ketinggalan pesawat nanti. Jangan bikin dia tambah mewek." Mahira menarik bahu Ratih.
__ADS_1
"Hati-hati Eby ...." ucap Mahira, saat Eby sudah menjauh.
Selepas perpisahan penuh haru bersama dua sahabatnya, Eby melanjutkan langkahnya menuju gate keberangkatan, dimana burung besi akan membawanya terbang selama lebih dari 16 jam untuk sampai di tanah air.
Senyum tidak pernah henti menghias bibirnya. Rasanya sudah tidak sabar, ingin melihat wajah terkejut orang-orang terkasihnya, sebab ia pulang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.
Ia mengatakan pada keluarganya termasuk pada William, jika dirinya akan kembali satu bulan lagi.
Aahh rasanya Eby sudah tidak sabar bertemu dengan kedua orang tua serta adik-adiknya, dan William yang pasti.
🌟🌟🌟
Di Indonesia
Sosok laki-laki tampan tengah berdiri seolah menikmati suasana pantai yang sepi.
Kaca mata hitam menutupi tatapan matanya yang kosong.
Pikirannya menerawang jauh, mengulas kembali memori lama yang membawanya sampai pada titik ini.
Titik dimana ia benar-benar telah tenggelam dalam permainan yang ia buat sendiri. Dan untuk terbebas dari lumpur yang menodainya itu, rasanya begitu sulit, bahkan mustahil.
"Apa yang harus aku jelaskan pada Eby, nanti?
Bagaimana aku harus menghadapinya, saat ia sudah kembali?
Mungkinkah dia bisa menerima semua sebagai takdir yang harus ia jalani?" Berbagai macam pertanyaan saling berlomba mendesak jawaban di kepala William saat ini.
Benar kata pepatah, penyesalan selalu saja datang terlambat.
Ia benar-benar menyesal membiarkan sosok lain masuk, mengisi kekosongan hatinya kala itu.
__ADS_1
Menganggap semua yang ia jalani hanya sebagai pelampiasan, ia merasa tidak bersalah jika sedikit bermain curang di belakang Eby.
"Sayang, kamu ngapain? Dari tadi lho aku panggil-panggil." Seorang wanita cantik menghentikan lamunannya. Dia adalah Amanda, wanita yang sekilas begitu mirip dengan Eby.
Postur tubuhnya, rambutnya, cara berjalannya, semua seperti sosok yang ia rindukan selama ini. Hanya saja yang membedakan adalah sikap mereka yang bertolak belakang.
Eby yang mandiri dan sedikit cuek, seolah ditutupi kekurangannya, oleh Amanda yang manja dan perhatian. Sehingga William merasa bisa memiliki keduanya sebagai wujud sempurna seorang Eby di matanya.
Ia menoleh, matanya otomatis tertuju pada perut yang sedikit membuncit, yang terbalut dress putih senada dengan pakaian yang ia kenakan.
Seketika matanya terpejam. Mencoba membunuh kekalutan yang merayap di dadanya.
"Ayooo sesi foto terakhir ini. Mataharinya udah mau terbenam." suara manja Amanda.
Wanita itu menarik tangan William, menuju tempat dimana fotographer telah menunggu mereka untuk pengambilan gambar yang terakhir.
Tanpa banyak protes, ia menuruti keinginan wanita yang masih menggenggam pergelangan tangannya itu.
Amanda adalah wanita yang dikenalnya di salah satu hiburan malam, sekitar dua tahun lalu.
Saat itu ia tengah dilanda stress, karena hubungan jarak jauh yang dijalaninya bersama Eby. Ingin meminta Eby kembali, namun rasanya sulit. William tahu bagaimana karakter wanita yang dipacarinya lebih dari tiga tahun itu. Eby wanita yang sangat keras kepala. Terlebih saat itu keadaan ekonomi keluarganya, seolah memaksa Eby untuk terus bekerja lebih keras lagi.
Secara kebetulan, ia bertemu sosok yang begitu mirip dengan kekasihnya. Mereka akhirnya berkenalan, dan lambat laun hubungan mereka menjadi dekat.
Tidak berselang lama setelah perkenalan itu, mereka sepakat menjalin hubungan yang lebih intim.
William dari awal jujur mengatakan jika dirinya memiliki kekasih. Namun Amanda tetap mau menjadi pemuas nafsu laki-laki itu.
"Tidak apa-apa statusku adalah kekasih simpananmu. Yang pasti pada kenyataannya, akulah yang ada disaat-saat tersulit dalam hidupmu. Aku yang ada, saat kamu lelah. Aku yang bersedia menjadi penghangat malam-malammu yang sepi. Aku yang ada saat kamu butuh kepuasan. Bukankah itu berarti, aku yang lebih kamu butuhkan dibanding dia?" ucap Amanda, saat William mengungkapkan isi hatinya.
Hubungan mereka terus berlanjut. Amanda benar-benar membuktikan jika dirinya adalah wanita yang tepat untuk William.
__ADS_1
Apalagi komunikasi yang terjalin antara Eby dan William tidak terlalu intens, sebab mereka sama-sama sibuk bekerja, serta perbedaan waktu diantara keduanya yang cukup jauh, membuat mereka semakin berjarak.