Luka Di Ujung Asa

Luka Di Ujung Asa
Bab 44


__ADS_3

Eby pulang dengan suasana hati yang cukup baik. Ia membawa beberapa kotak strawberry untuk dibagikan kepada sanak keluarganya, sebagai oleh-oleh. Ia juga membeli beberapa pot bunga, berniat menghiasi halaman depan rumahnya dengan berbagai bunga segar.


Meski tidak terlalu menunjukkan kebahagiaan, setidaknya dari sorot matanya, orang-orang dapat melihat jika perlahan Eby mulai menikmati hidupnya kembali.


Namun, binar harapan di matanya kembali meredup, ketika ia baru saja tiba di depan rumah, dan mendengar suara keras saling menyahut dari dalam. Bahkan ia sempat mendengar, sebuah benda jatuh terbanting dan akhirnya pecah.


Ia yang sempat mematung, seolah ditarik kesadarannya saat mendengar amukan dari dalam itu.


Melupakan semua barang yang ia bawa, wanita itu menerobos masuk tanpa mengucap salam.


"Ada apa ini?" tanyanya dengan wajah datar, saat tiba di ruang keluarga. Terlihat kedua orang tuanya saling menatap tajam, dengan posisi terhalang meja makan. Gelas dan mangkuk berserakan dengan keadaan menyedihkan. Hancur. Bahkan bubur dan teh juga bercampur di lantai berkeramik putih itu.


"Eby!" Karina terkejut dengan kedatangan putrinya. Begitu pun Lingga yang hanya bisa menatap anaknya dengan kikuk.


"Apa yang kalian ributkan sampai seperti ini? Kalian sadar nggak? Suara kalian mengganggu tetangga sekitar!" Wanita itu tidak dapat menyembunyikan rasa kecewanya. Menatap secara bergantian dua orang dewasa, yang dulu bekerja sama menghadirkannya ke dunia ini.


Hening beberapa saat. Sepertinya baik Lingga maupun Karina kesulitan mencari alasan yang tepat untuk masalah yang baru saja terjadi.

__ADS_1


"By, kamu pasti capek, kan? Istirahat dulu di kamar. Biar ibu bersihkan ini." Karina memecah kesunyian dengan mengalihkan topik pembicaraan, dan segera keluar mencari alat pembersih lantai.


"Ayah capek, mau istirahat dulu ya." Lingga juga berniat pergi dengan menyeret kakinya perlahan.


Eby hanya bisa menarik nafas berat. Ada apa lagi ini? Kenapa masalah seolah tidak pernah habis menghampiri kehidupannya?


Dengan langkah gontai, Eby pun masuk ke dalam kamarnya dengan kepala berdenyut, merasa sakit seketika.


Sangking semrawutnya isi otak Eby, wanita itu sampai lupa jika ia pulang bersama Harry. Sepupunya pasti juga mendengar perdebatan kedua orang tuanya. Tapi Eby tidak mau memikirkan itu. Biarkan saja, biar semua orang tahu jika dalam rumah mereka, semua tidak sedang baik-baik saja.


Seperti yang sudah diduga. Harry yang berjalan di belakang Eby juga terkejut mendengar suara dari dalam rumah paman dan bibinya. Namun ia sadar, sebagai orang luar, ia tidak berhak terlalu ikut campur. Ingin pergi saja, tapi ia tengah membawa tas dan beberapa barang bawaan Eby lainnya. Tidak mungkin ia menggeletakkannya begitu saja di teras depan.


Akhirnya dengan terpaksa laki-laki itu menunggu. Berharap Eby tidak lupa, dan kembali keluar menemuinya. Namun sayang bukan Eby yang datang, melainkan Karina yang juga terkejut mendapati keponakan suaminya tengah duduk dengan gusar di kursi plastik yang ada di teras.


"Lho, Harry!" seru Karina. Wajah wanita itu sedikit pias, namun sebisa mungkin ia sembunyikan.


"Tante." Harry bangkit dengan canggung.

__ADS_1


"Kok, nggak masuk ke dalam? Tante buatkan kopi dulu." Karina mengurungkan niatnya mengambil alat pembersih lantai, ia membalik badannya berniat menjamu tamunya itu.


"Eh, nggak usah Tante. Aku nunggu Eby, mau serahkan ini aja kok. Maaf nggak bisa mampir dulu, soalnya sebentar lagi harus jemput tamu di villa deket sini," terang Harry terpaksa berbohong.


"Ooh, gitu ya? Bener ini nggak apa-apa, nggak ngopi dulu?"


"Nggak apa-apa Tante. Dari tadi pagi udah berapa kali lambungku kena kafein, udah sampe kembung ini," kekehnya lagi sambil mengusap perutnya yang rata.


Karin hanya bis tersenyum tipis. Ia tahu lasan laki-laki itu menolak mampir. Pasti Harry sudah mendengar pertengkaran barusan, pikirnya.


Suasana rumah Eby begitu sunyi dan lengang. Bahkan suara nyamuk yang terbang, begitu jelas terdengar sangking tidak ada satu aktifitas pun yang terjadi di dalam sana.


Waktu sudah menunjuk pukul setengah tujuh malam. Sudah lebih dari dua jam setelah kedatangan Eby, namun wanita itu enggan keluar kamar.


Ia begitu betah berbaring, menatap langit-langit kamar. Tidak ada yang menarik, hanya saja ia merasa lebih baik memandang lurus ke atas daripada memiringkan tubuhnya. Ia bisa lebih mudah mengendalikan air mata yang ingin melaju dalam posisi seperti saat ini.


__ADS_1


__ADS_2