Luka Di Ujung Asa

Luka Di Ujung Asa
Bab 86


__ADS_3

Eby tidak tahu jika Murat memiliki nomor berbeda selain yang biasa digunakan untuk menghubunginya. Sehingga ia cukup terkejut saat mendengar suara laki-laki yang perlahan mulai mengisi kekosongan hatinya itu.


"Maaf, tadi masih teleponan sama Tama," Eby menjawab setelah beberapa detik. Ia tidak ingin Murat salah paham, sebab dari nada bicaranya terdengar jika laki-laki itu sedang menahan kesal.


"Ngobrolin apa tengah malam begini?" Masih dengan suara datar Murat bertanya.


"Kepooo!!" seru Eby dengan terkekeh, menutupi kegelisahan di hatinya. Ia tahu Murat kesal, dan sengaja menggoda laki-laki itu.


Sejenak mereka sama-sama terdiam. Namun sambungan telepon masih tetap terhubung.


"By,"


"Hmmm,"


"Belum ngantuk?" Murat kembali bertanya. Melupakan pertanyaan sebelumnya, yang sepertinya enggan Eby jawab.


"Nggak bisa tidur," sahut Eby pelan.


"Kenapa lagi?"


Kembali hening. Eby sepertinya ragu menceritakan masalah keluarganya pada orang lain.


"By, ada apa?"desak Murat lagi.


"Besok aja aku cerita ya, ini udah malem."


"Tapi, kamu baik-baik aja kan?"


"Iya, aku nggak apa-apa. Jangan khawatir."


"Ya sudah, tidurlah. Sudah tengah malam. Apa mau aku temenin begadang? Aku ke kost sekarang?"


"Ish apaan. Nggak!" seru Eby membuat Murat tertawa kecil.

__ADS_1


"Kalau begitu tidurlah, nyalakan videonya, biar aku bisa liat kamu benar-benar tidur atau tidak," titah Murat lagi.


"Apaan sih, nggak! Kayak ABG aja," tolak Eby. Ia segera memutus sambungan telepon dengan Murat.


Eby menatap ponsel yang sudah tidak menyala itu. Mengusap sebentar, sebelum akhirnya ia memutuskan menyimpannya kembali di atas meja.


Kembali merebahkan tubuhnya dalam gelap dan keheningan malam, mencoba menggali rasa kantuk yang syukurnya segera datang menghampiri. Eby terlelap ketika jam sudah menunjuk angka tiga.


Mentari pagi mulai menampakkan sinarnya, menembus celah dedaunan. Menyapa seisi bumi yang sebelumnya tertutup gelap malam. Sinar yang sama pun menelusup masuk ke dalam kamar berukuran 3x3, tempat di mana Eby mengistirahatkan tubuhnya. Wanita itu tersentak ketika menyadari hari sudah siang dan untuk pertama kalinya semenjak ia bekerja, ia bangun sesiang ini.


"Astagaaa! Udah jam sembilan," rutuk wanita itu saat matanya tanpa sengaja menoleh ke arah jam dinding di dekat pintu.


Ia segera menghempas selimut yang membungkus tubuhnya, dan bergegas menuju kamar mandi. Sedikit sempoyongan, sebab bangun dengan terburu. Namun Eby mengabaikan itu.


Beres dengan urusannya di kamar mandi, Eby langsung menuju dapur melanjutkan aktifitasnya di sana. Menghangatkan air, dan mencuci beras untuk ia masak.


Dering ponsel mengalihkan perhatian Eby, ketika dia tengah sibuk mengaduk kopi yang baru saja diseduhnya. Dengan membawa gelas, ia menerima panggilan video yang ternyata berasal dari Murat.


Senyum tipis tersungging di bibir Eby, ketika wajah tampan laki-laki berjambang itu terpampang di layar ponselnya.


"Ya lah, sudah bangun. Sampai bisa terima telepon kamu," sahut Eby, ketus seperti biasa.


Murat hanya bisa menggelengkan kepala. Ia sudah biasa mendapat jawaban yang di luar perkiraan.


"Nanti nggak usah masak, aku udah kirim makanan buat kamu. Sebentar lagi paling nyampe," ucap Murat mengganti topik obrolan.


"Kenapa mesti repot-repot? Aku bisa masak sendiri," tolak Eby. Namun tidak bisa dipungkiri ia merasa bahagia mendapat perhatian dari Murat. Rona merah di pipinya jelas menggambarkan jika hatinya tengah berbunga.


"Aku nggak merasa repot, kok. Malah seneng bisa berguna buat kamu," sahut murat. Senyum menawan, laki-laki itu tampilkan di akhir kalimat.


Eby kembali tersipu, meski wajah judesnya mampu menutupi perasaan yang sebenarnya.


"Makasih kalau gitu. Kamu sendiri, apa udah sarapan?" tanya Eby, sembari meneguk kopi yang belum sempat ia sentuh.

__ADS_1


Murat mengangguk. Matanya terus memandang ke arah layar, begitu betah memerhatikan wanita pujaannya, membuat Eby merasa risih.


"Kenapa liatin aku kayak gitu? Ada yang salah, kah?"


"Nggak ada yang salah. Suka aja liat kamu dengan wajah baru bangun gitu, seksi." goda Murat sembari mengerlingkan sebelah matanya.


Eby hampir saja tersedak mendengar gombalan Murat. Bersyukur kopi yang baru diteguknya sudah masuk melewati kerongkongan. Wanita itu menatap sinis, merasa kesal dengan tingkah kekasihnya.


"Sudah berapa wanita terjebak dengan gombalan recehmu itu?" tanya Eby ketus.


"Apa itu gombal?" tanya Murat dengan kening berkerut.


Eby mencebikkan bibirnya, malas.


"Susah ngomong sama kamu. Udah ya, aku mau masak dulu." Putus wanita itu akhirnya.


"Kok masak lagi? Aku kan udah bilang, nggak usah masak."


"Untuk makan siangku, apa donk, kalau aku nggak masak? Untuk bekal juga."


Murat tidak lagi membantah ucapan Eby.


"Ya sudah, kalau gitu, bawa bekalnya banyakin ya. Aku juga mau,"


"Bayar ya," sahut Eby.


"Iya, tenang aja,"


"Ya sudah. Aku matiin ya." Dan tanpa menunggu jawaban Murat, Eby memutus sambungan video tersebut.


Benar saja, tidak berselang lama, seorang kurir mencarinya. Murat memesankan cukup banyak makanan untuknya pagi itu.


"Astaga, si Muka Datar itu. Masa sebanyak ini pesan makanan, sih?" keluh Eby memerhatikan ada tiga Styrofoam dari plastik yang berbeda, yang diserahkan oleh kurir untuknya.

__ADS_1


Eby mengucapkan terima kasih, serta membagi satu kotak makanan kiriman tersebut untuk sang kurir. Setelahnya ia kembali menuju kamar kost, menikmati sarapan pemberian Murat.


__ADS_2