
Murat menatap foto-foto yang ia ambil secara diam-diam saat berlibur bersama Eby kemarin. Wajah tampan dengan tatapan mata kelam itu, menampilkan senyum tipis di bibirnya, saat menggeser satu demi satu foto Eby dengan berbagai macam ekspresi, yang tentu saja tidak wanita itu ketahui. Namun senyum itu seketika menghilang, ketika di slide terakhir, foto Eby berganti dengan sosok berhijab dengan hidung mancung tersenyum ke arah kamera.
Mata kelam itu menatap intens detail wajah yang terpampang di layar ponselnya. Mengusap kening, hidung, dan bibir, gambar di foto tersebut. Ada rasa yang tak terjabarkan, perlahan meremas hati Murat.
Ingatannya seolah ditarik ke masa lalu. Di mana ia harus rela melepaskan wanita yang dicintainya itu, bersanding dengan laki-laki lain di pelaminan.
'Apa kabar, Cemile? Apa kamu sudah bahagia sekarang? Apa kamu sudah berhasil melupakan aku? Banyak kisah sudah kita lalui, tidak pernah sekalipun aku menyangka cerita kita akan berakhir dengan tangisan. Kamu yang selalu mengerti dan memahami aku, kamu yang sabar dan tulus menyayangi aku, kamu yang selalu ada saat aku butuh sandaran, ternyata adalah tulang rusuk laki-laki lain. Tuhan menciptakan persimpangan di ujung jalan yang kita lewati. Aku terluka kala itu. Rasanya, tidak ada kata yang tepat, yang bisa menjabarkan seperti apa kelam hatiku saat suara bergetarmu melantunkan kata perpisahan. Dunia yang ku pijaki hancur, hingga aku terhempas di negeri orang. Aku masih ingat ucapanmu saat tanpa sengaja kita bertemu. Kamu bilang, suatu saat nanti pasti akan aku temukan seseorang yang bisa mengisi kekosongan hatiku. Akan ada seseorang yang bisa membawa warna berbeda dalam hidupku. Aku menganggap itu hanya omong kosong, Cemile. Aku tidak percaya dan tidak berniat sedikit pun menemukan sosok itu. Tidak ada yang menyamai kesempurnaanmu. Hingga aku masih terpekur dalam bayangmu selama bertahun-tahun, meski ragamu tidak lagi di dekatku.'
Murat menarik nafas panjang, memejamkan mata sembari menyandarkan tubuh di sandaran kursi kerjanya yang empuk. Selintas wajah Eby menari di kepalanya. Kembali Murat membenarkan posisi duduknya, memandang ponsel yang masih menyala itu.
__ADS_1
'Tapi ternyata ucapanmu benar Cemile. Kau tau? Aku sekarang tidak harus memeluk bayanganmu, demi bisa memejamkan mata. Aku sudah bisa tidur tanpa melihat gambarmu lagi. Karena aku sudah bisa melapaskanmu kini. Kamu benar, ternyata ada saatnya aku akan membuka hatiku kembali, membiarkan telapak tanganku disambut oleh genggaman yang lain. Meski butuh waktu lebih dari dua tahun, baru aku berhasil menemukan sosok penggantimu. Cukup lama ya? Kamu tau sendiri, aku bukan orang yang mudah menjatuhkan hati. Tapi kini aku yakin dia akan menjadi orang terakhir yang akan ku tarik ke palung hatiku. Doakan aku ya, agar aku bisa mengikatnya dalam pernikahan. Tapi sebelum itu, maafkan aku, aku harus benar-benar melepaskan kenangan kita.' Murat memejamkan mata sembari menarik nafas dalam. Ia kemudian menghapus satu-satunya gambar Cemile yang ia simpan di dalam ponselnya.
Cemile adalah seseorang dari masa lalu Murat. Mereka menjalin hubungan romantis cukup lama. Namun hubungan yang Murat kira akan abadi itu, harus berakhir karena Cemile memilih menerima perjodohan dari orang tuanya. Alasannya sangat klise, demi balas budi di masa lalu.
Cemile wanita berhati lembut, sabar, dan penurut. Bertahun-tahun mereka menjalin kasih, tidak pernah sekalipun mereka bertengkar sebab wanita itu selalu mengalah. Tidak pernah memperpanjang masalah, dan memilih diam jika tidak menyukai sesuatu. Namun sifat itu pula lah yang akhirnya memisahkan mereka. Empati Cemile yang begitu tinggi, yang tidak bisa melihat keluarganya dalam masalah, hingga ia mengorbankan perasaan dan hubungannya dengan Murat demi keluarga.
"Ehm," Suara deheman yang begitu dekat, mengejutkan Murat yang masih larut dalam lamunan.
"Maaf saya mengganggu, Tuan. Saya membawa laporan yang tuan minta kemarin." Seorang laki-laki paruh baya yang menjabat sebagai asistennya, sudah berdiri di depan meja kerja Murat.
__ADS_1
"Kenapa tidak ketuk pintu dulu?" tanya Murat dengan raut wajah tidak suka.
"Maaf, Tuan. Saya sudah mengetuknya berkali-kali, tapi tidak ada jawaban. Saya kira, saya yang tidak mendengar jawaban Anda," sahut sang asisten sembari menundukkan kepala.
Murat menarik nafas dalam. Ia terlalu asyik dengan menyelam ke masa lalu, hingga tidak menyadari sekitarnya.
"Mana laporannya?" tanya laki-laki itu akhirnya. Tidak ingin berdebat lebih jauh lagi dengan sang asisten.
"Jadi benar, wanita itu ada hubungannya dengan mantan Eby?" gumam Murat, saat memeriksa isi laporan yang diserahkan sang asisten.
__ADS_1