Luka Di Ujung Asa

Luka Di Ujung Asa
Bab 64


__ADS_3

Eby meraih ponsel yang terus bergetar dan berdering di samping tempat tidurnya. Matanya masih enggan terbuka, namun suara benda pipih itu terus mengusiknya. Hingga dengan terpaksa ia menjawab panggilan yang entah dari siapa.


"Hmmm, halo," sahutnya malas, khas orang mengantuk.


"By! Kamu belum bangun? Udah jam berapa ini?" Lengkingan suara dari seberang mengejutkan Eby, hingga matanya terbuka lebar.


Eby tidak menjawab pertanyaan Ratih. Wanita itu masih mengumpulkan kesadaran, yang sebelumnya berserakan menjelajah alam mimpi. Rasanya baru sebentar ia terlelap, dan kini sudah diusik lagi oleh sahabatnya.


"By, jadi ketemuan nggak?!" tanya Ratih lagi dari seberang. Sedikit kesal sebab Eby tidak merespon pertanyaannya.


"Iya, jadi. Kamu nggak sabaran banget, sih? Aku baru bangun," sahut Eby ikut kesal.


"Kamu dimana? Biar aku jemput," lanjutnya sembari menyibak selimut yang masih membungkus tubuhnya.


"Aku udah mau jalan ke kostan kamu, alamat yang kemaren kamu kirim itu kan?"


"Iya bener. Jadi aku nggak perlu jemput, nih? Kalau gitu aku siap-siap dulu ya,"


"Ya sudah sana, aku udh di taksi ini. Dandan yang cantik, By. Siapa tau nanti ketemu cowok ganteng," goda Ratih.


"Ish," Eby segera memutus telepon, lalu bergegas menuju kamar mandi, untuk membersihkan diri.

__ADS_1


Dering ponsel kembali mengganggunya sekitar 35 menit kemudian. Eby yang tengah mengaplikasikan skin care di wajah dan leher, menghentikan sebentar aktifitasnya.


"Halo Rat, udah sampai mana?" tanyanya langsung, pada si penelepon.


"Aku udah di pertigaan, depan Indomaret," sahut Ratih.


"Tunggu sebentar aku jemput." Eby mematikan telepon, lalu bergegas keluar menjemput sang sahabat.


Dua wanita yang sudah lama tidak bertemu itu, menghabiskan waktunya menyusuri jalanan, sembari bercerita kesana kemari. Menikmati sarapan sekaligus makan siang, sebab waktu sudah menunjuk angka 11 di jam tangan milik Eby.


"Habis ini kita kemana?" tanya Eby sesaat setelah memesan makanan.


"Kemana ya? Aku ngikut kamu aja. Eh tapi, kamu nggak kerja sekarang?"


"Pantesan ngebo. Tadi kalau aku nggak bangunin, pasti kamu masih molor sampe sekarang ya?"


"Nggak gitu juga. Kemarin ada insiden tak terduga tau, mangkanya aku telat bangun. Padahal aku udah berencana bikin sarapan spesial, biar kita bisa makan bersama sebelum berangkat," sahut Eby memberi alasan.


"Memangnya ada apa? Eh kamu belum cerita apapun lho tentang masalah yang terjadi. Dari tadi akuu aja yang banyak cerita ke kamu. Giliran donk!" Ratih begitu antusias ingin tahu kisah sahabatnya itu. Sejak Eby pulang ke tanah air, ia tidak pernah menceritakan dengan detail apa yang menimpa hidupnya. Bahkan sifatnya sedikit berubah menjadi lebih pendiam saat ini. Di kesempatan ini, Ratih ingin Eby menceritakan semuanya. Bukankah mereka bersahabat? Seperti halnya Eby yang selalu ada saat ia bersedih ketika berpisah dengan Angga, ia juga ingin ada saat Eby mengalami ujian yang sama seperti saat ini.


"Panjang kalau diceritain ulang, Rat. Yang pasti, seperti yang aku udah kasih tau kamu dan Mahira dulu, aku batal nikah sama dia. Karena ternyata dia udah nikah duluan saat itu, dan istrinya tengah hamil. Hanya itu yang aku tau,"

__ADS_1


"Terus kamu gimana jalanin hari kamu, By? Pasti berat banget kan? Apalagi kamu ada di rumah saat itu. Tekanan dari keluarga juga pasti membuat kamu merasa semakin terpuruk." Ratih memposisikan jika dirinya menjadi Eby, pasti ia tidak akan sanggup. Sebab seringkali orang-orang yang mengatas namakan paman, bibi, kakek, nenek, akan mengolok-olok kegagalan kita, atau membanding-bandingkan dengan orang lain.


Idealnya, keluarga adalah tempat terhangat dan ternyaman saat kita dalam masalah, tapi tidak bisa dipungkiri, ada banyak keluarga yang justru menjadi lingkungan yang paling beracun untuk seseorang terlebih disaat kondisi psikis tidak stabil. Ucapan nyinyir, nada prihatin, bahkan tidak jarang orang-orang disekitar menyalahkan kita saat sesuatu yang buruk tengah menimpa. Mencap itu sebagai karma, sebagai hukuman, dan banyak lagi hal tidak pantas yang terlontar.


Eby menarik nafas dalam. Benar memang yang dikatakan Ratih, banyak nada sumbang yang menghampiri telinganya. Namun saat itu ia tidak terlalu memikirkan itu, karena fokusnya terbagi pada masalah keluarga yang datang secara beruntun di dalam rumahnya.


"Semua sudah berlalu. Buktinya aku baik-baik saja hingga kini. Kamu kayak nggak kenal aku aja, Rat. Nggak semudah itu menumbangkan aku," sahutnya angkuh menutupi jeritan hatinya.


"Tau deh, yang paling kuat," sahut Ratih dengan senyum menyebalkan. Ia kenal Eby cukup lama, rasanya ia juga memahami karakter wanita yang duduk di hadapannya itu seperti apa.


"Trus insiden yang kamu bilang kemarin itu, apa?" Ratih mengalihkan topik pembicaraan. Rasanya sudah cukup ia kembali mengulik luka bernanah di hati sahabatnya itu.


Kembali Eby menarik nafas dalam, sebelum akhirnya ia membuka suara. "Kamu tau nggak, kemarin pas aku pulang kerja, aku ketemu siapa?"


Ratih mengangkat bahu tanda tidak tahu. "Artis Korea? Atau pemain film Indonesia?" tebak wanita itu asal.


Eby menggeleng. "Aku ketemu William. Dan keadaannya ...." Wanita itu menggeleng. Ia tidak tahu harus menjelaskan seperti apa kondisi yang dialami laki-laki yang pernah begitu dicintainya itu.


"Dia kenapa?" Ratih membenarkan posisi tubuhnya, saat mendengar nama Willi terucap dari bibir Eby.


Dan kembali cerita Eby mengalir, mengulas kisah yang terjadi hingga membuatnya bangun kesiangan.

__ADS_1


"Mungkin nggak sih, si cewek itu pakai guna-guna, By? Aku kok jadi curiga ya? Kasihan juga si Willi kalau sampai itu terjadi," ucap Ratih dengan pandangan menerawang jauh.


__ADS_2