
Tanpa sadar, Eby terlelap ketika Murat mengantarnya kembali pulang ke kostan. Lelah sebab tidak dapat beristirahat sejak pagi, membuatnya lupa, sat ini ia sedang bersama atasannya.
Murat melirik ke samping kiri. Menyadari penumpangnya memejamkan mata, ia tidak berniat mengganggu sama sekali. Ia tidak mengatakan atau bertanya apapun pada wanita yang duduk di sampingnya.
Hingga mobil yang ia kendarai, berhenti tepat di depan gang menuju kostan Eby.
"Hei! Sudah sampai," ucap laki-laki itu, sembari menggoyangkan bahu Eby.
Eby yang semula terlelap itu pun tersentak kaget, saat kepalanya hampir saja jatuh akibat gerakan yang dilakukan Murat.
"Ah,"
"Bangun! Sudah sampai," ulang Murat lagi.
Eby melihat sekitar. Ia masih linglung, belum sadar kemana bosnya itu membawanya pergi.
"Sampai mana?" tanya wanita itu bingung.
"Ya depan kost kamulah! Mana lagi?" sahut Murat kesal.
"Ooh. Makasih Tuan," ucap Eby bersiap turun dari mobil mewah milik bosnya.
__ADS_1
Meski merasa ada yang aneh, tapi karena kelelahan, Eby mengabaikan perasaan itu.
Eby melangkah dengan merasakan satu kejanggalan. Namun hingga masuk ke dalam kamarnya pun, ia belum tahu di mana letak keanehan yang mengganjal di hatinya.
Setelah membersihkan diri, wanita itu merebahkan tubuh rampingnya, di kasur kecil berukuran 120x200 cm. Ia memainkan ponsel menunggu rasa kantuk kembali menyerang.
Sebuah pesan masuk dari nomor ponsel Ratih, menanyakan keberadaannya saat ini.
Eby mengatakan jika Murat sudah mengantarnya sampai Kostan.
Pesan singkat itu pun berubah menjadi sebuah panggilan telepon. Obrolan mereka kembali berlanjut.
"Sorry ya, tadi Ahmed lupain obatnya, jadi cuman Murat yang antar kamu balik," ucap Ratih penuh sesal.
"Sama-sama. Eh, tadi ngobrol apa aja sama Murat? Nggak nyangka ya, ternyata dia bosmu!" Ratih begitu antusias ingin membahas soal Eby dan Murat.
"Ngobrol apa? Orang aku ketiduran. Dia bangunin aku, pas mobilnya udah sampai di depan gang," jelas Eby malas.
Eh tapi tunggu dulu! Dia kan tidur. Lalu dari mana laki-laki muka datar itu tahu alamatnya? Ooh, ini dia kejanggalan yang sejak tadi menggelayut di hatinya. Eby sampai terperanjat, menyadari hal itu.
"Yaah, nggak seru banget sih, kalian!" seru Ratih lagi.
__ADS_1
Eby tidak menanggapi ucapan sahabatnya itu. Pikirannya masih tertuju pada sesuatu yang baru ia sadari. Menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi. Mungkinkah ... Tapi untuk apa? Rasanya tidak mungkin, seorang Murat menjadi penguntit. Dan yang diuntit adalah karyawannya sendiri. Buat apa?
Pikiran-pikiran itu terus berputar, saling menyahut di kepala Eby.
"By, tau nggak? Si Murat itu cerita banyak hal sama Ahmed, lho!" lanjut Ratih tanpa mengurangi semangatnya sejak awal.
"Hmmm," sahut Eby sekenanya. Pikirannya masih keman-mana.
"Dan itu semua tentang kamu. Ternyata diam-diam dia ....." Banyak hal yang Ratih ucapkan. Namun Eby tidak mendengarnya sama sekali. Ia seolah masuk dalam dunianya sendiri, yang entah di mana.
"By, hallo! By!" panggil Ratih lagi, tapi Eby tidak menjawab.
"Eby!!" teriak Ratih dari seberang. Sejak tadi ia bicara panjang lebar, tapi suaranya seolah tertelan bumi, lenyap tanpa sisa. Eby tidak mendengarnya sama sekali.
"Apaan sih, Rat! Aku nggak budek, ih!"
"Males ah, kamu nyebelin banget! Udah aku tutup teleponnya!" sungut Ratih kesal.
Eby menyadari kesalahannya. Dan segera menghentikan niat sahabatnya itu.
"Eeh jangan dulu! Sorry, aku tadi kurang fokus. Tiba-tiba keinget sesuatu. Sorry banget ya. Ayo lanjutin lagi ceritanya," pinta Eby.
__ADS_1
Ia tentu merasa tidak enak hati. Sahabat yang dulu menemaninya melewati suka-duka di negeri orang, kini ia abaikan karena hal yang tidak terlalu penting.
Meski rasa penasaran masih menggelitik hatinya, tapi sebisa mungkin ia menahan agar tidak memikirkan hal lain, saat ini.