Luka Di Ujung Asa

Luka Di Ujung Asa
Bab 51


__ADS_3

Eby dan Karina bergegas mendekati kamar dimana Lingga beristirahat. Mereka terkejut saat mendapati Lingga sudah tergeletak di lantai, dengan kondisi tidak sadar. Sementara gelas kaca yang sebelumnya ada di atas meja, juga pecah dan berserakan di dekat Lingga, dengan air menggenang di sekitarnya.


"AYAAAH!!!" teriak keduanya langsung mendekat. Bahkan Eby tidak menyadari ada pecahan beling yang tanpa sengaja ia injak hingga telapak kakinya berdarah.


"Cepat bawa ayah keluar, ke ruang tamu!" Perintah Karina.


Eby tanpa berkata apapun mengikuti ucapan sang ibu. Mereka dengan bersusah payah membawa Lingga menuju sofa.


"Telepon om Angga, minta dia datang bawa mobil!" ucap wanita itu lagi. Sementara dia sedang memangku sang suami yang tidak berdaya.


Tanpa terasa kedua wanita itu meneteskan air mata kesedihan. Eby dengan tangan gemetar menghubungi sang paman, yang menjadi pemicu pertengkaran mereka sebelumnya. Menjelaskan secara singkat keadaan Lingga saat ini, dan meminta laku-laki itu untuk datang secepatnya.


Setelah sambungan telepon terputus, ia memijit kaki sang ayah, membalurkan minyak kayu putih di telapak kaki Lingga yang terasa dingin.


Tidak menunggu lama, Angga datang bersama dua orang lainnya.


Mereka lalu menggotong tubuh Lingga keluar rumah, melewati gang sempit, sebab mobil hanya bisa terparkir sampai di depan gang.


Eby bahkan tidak sempat mengganti pakaiannya. Ia hanya mengambil tas, dompet, dan ponsel, lalu bergegas mengejar orang-orang yang akan membawa ayahnya ke rumah sakit.

__ADS_1


Beberapa tetangga mencoba mencari tahu apa yang terjadi, namun Eby tidak berniat menjawabnya. Ia mengabaikan panggilan para tetangga yang seketika keluar, saat mendengar suara kepanikan dari dalam rumahnya.


"Kamu di depan aja, biar ibu yang temani ayah kamu di belakang," ucap Karina saat Eby hendak masuk di pintu belakang, menemani sang ayah yang sudah lebih dulu di tidurkan di kursi penumpang.


Eby sempat menatap sang ibu sekilas, sebelum akhirnya ia mengalah. Ia duduk di kursi depan, di samping Angga yang menjadi sopir saat itu. Sementara dua orang yang sebelumnya bersama Angga, memilih tidak ikut ke rumah sakit.


Angga mengemudikan mobilnya dengan tenang. Sesekali ia melihat ke belakang melalui kaca spion tengah.


Eby memerhatikan semua itu. Ia juga ikut mengintip, dengan ekor matanya. Tentu ia ingin tahu bagaimana sikap ibunya saat ini.


Karina menunduk, sesekali mengusap air mata dan cairan bening di hidungnya, menggunakan baju yang ia kenakan. Tangannya yang lain mengusap lembut wajah laki-laki yang kini ia pangku.


"Kenapa Mas Lingga bisa drop lagi?" Akhirnya Angga membuka suara, memecah keheningan.


"Apa dia tengah banyak pikiran?" lanjutnya saat tidak ada diantara dua wanita itu menjawab pertanyaannya.


Baru saja Eby hendak menjawab, "iya," namun sang ibu sudah membuka suara lebih dulu.


"Nggak kok, mungkin dia ada salah makan aja. Kamu tau sendiri, dia suka bandel." Mendengar jawaban ibunya, Eby mendelik ke arah belakang. Ia tidak terima ayahnya disalahkan lagi. Selama ini Lingga cukup patuh dengan diet yang harus dia jalani. Terlebih yang selama ini lebih banyak menemani Lingga adalah dirinya sendiri, ia tahu persis apa saja yang dimakan oleh ayahnya itu. Tapi kenapa Karina seolah tidak menghargai usaha suaminya? Yang sudah berusaha keras menahan keinginan demi bisa segera sembuh.

__ADS_1


Terdengar Angga menarik nafas kasar.


"Kenapa kalian membiarkan dia makan sembarangan? Harusnya sebisa mungkin kalian jauhkan dia dari hal-hal semacam itu. Ini bahaya lho, sudah berapa kali mas Lingga kolaps seperti ini beberapa bulan terakhir?" Angga terlihat marah mendengar ucapan Karina.


"Iya, sepertinya kami memang harus lebih ketat mengawasi pola makannya." Karina tidak berniat membela diri, ia menerima saja omelan Angga.


Sementara Eby, rasa kesalnya pada sang ibu yang sempat menghilang, kini muncul kembali. Untuk apa wanita itu menutupi kenyataan, dan malah berbalik seperti menyalahkan ayahnya yang tidak bisa memilih makanan?


Ingin ia mendebat, tapi rasanya kurang etis menunjukkan ketidak harmonisan keluarganya di depan orang lain.


Tidak ingin membuat suasana hatinya semakin tidak baik, Eby memilih menyalakan ponsel, Ia berniat menghubungi Tama, memberitahukan keadaan sang ayah saat ini.


"Telepon siapa, By?" tanya Karina.


"Tama, Bu."


"Ngapain telepon dia? Dia kan masih kuliah jam segini,"


"Kabarin aja, biar nanti lepas kuliah dia bisa langsung ke rumah sakit," sahut Eby tanpa menoleh ke arah Karina.

__ADS_1


Karina diam. Tidak lagi mendebat ucapan Eby. Membiarkan saja putrinya itu melakukan apa yang diinginkannya.


__ADS_2