Luka Di Ujung Asa

Luka Di Ujung Asa
Bab 13


__ADS_3

Jika boleh jujur, jauh di lubuk hatinya ada rasa sesal yang perlahan merayap dan berhasil mengusik William. Terlebih beberapa bulan terakhir komunikasinya dengan Eby berjalan sangat lancar.


Sebenarnya sejak setahun terakhir, Eby acap kali menitipkan barang-barang pribadi pada teman-temannya yang kebetulan pulang ke tanah air.


Beberapa pasang baju couple, sepatu untuknya, dan barang-barang lain yang masih ia simpan di rumah orang tuanya sebab rumah yang ia dan Eby bangun bersama, belum bisa ditinggali.


"Bajunya simpan dulu ya Will, itu untuk pre wedd kita nanti. Biar pas aku pulang, nggak harus bawa banyak barang. Sepatu sama jamnya itu untuk kamu pakai kerja." Ucap wanita itu, saat ia menanyakan prihal barang yang Eby titipkan pada temannya.


Saat itu hatinya merasa tersentuh, namun sikap Eby yang cuek dan jarang memulai komunikasi, membuatnya kembali ragu.


Terlebih ucapan Amanda dan beberapa temannya, yang mengatakan jika pekerjaan yang digeluti kekasihnya itu rawan akan godaan laki-laki berduit. Membuat pikiran buruk acap kali meracuni hatinya, hingga ia lagi dan lagi menodai jalinan cinta itu dengan bermain api dengan wanita lain.


Dalam kegamangan itu, Amanda ada di sampingnya. Meski kehadirannya bukan untuk mendengar keluh kesah tentang Eby, namun wanita itu memiliki cara sendiri menghilangkan kegelisahannya, tanpa ia katakan.


Itu yang membuat hubungan mereka bertahan.


"Sudah selesai kan? Ayo kita pulang." ucap William saat sesi foto telah berakhir.


"Tunggu dulu, Willi ... Aku masih mau di sini sama kamu." mata sendu Amanda menghentikan niatnya.


"Katamu, kamu akan memberikan kenangan yang indah untukku selagi dia belum kembali. Kurang dari tiga puluh hari lagi, dia akan datang Will. Dia akan menggantikan aku di sampingmu. Anak ini juga akan menjadi miliknya. Bolehkan aku puaskan diriku bermanja padamu di waktu yang singkat ini?"


William menarik nafas berat. Melihat tatapan mata wanita yang tengah mengandung anaknya begitu sendu, ia merasa tidak tega.


"Sebentar saja ya, angin malam nggak baik untuk kesehatanmu dan dia." Ucap laki-laki itu akhirnya.


Amanda menghambur ke dalam pelukan William.

__ADS_1


"Makasih sayang ...." Ucapnya dengan senyum bahagia.


Bagi William, Amanda adalah wanita ceria yang penuh pengertian.


Saat mengetahui kehamilan wanita itu beberapa waktu lalu, ia kalang kabut. Gelisah, namun tidak tahu harus berbuat apa. Namun wanita itu meyakinkan dia jika semua akan baik-baik saja.


Dia akan pergi dengan sukarela, namun sebelum itu ia ingin hubungannya disahkan terlebih dahulu demi masa depan anak dalam kandungannya.


"Nggak apa-apa pernikahan sederhana, tanpa tamu undangan. Cukup sah secara agama, yang penting anak kita nggak dicap sebagai anak haram kelak." Ucapnya pada William.


"Nanti pelan-pelan kamu jelaskan sama dia, tentang kita. Aku harap, dia mau menerima anak ini, dan menyayanginya seperti anak kandungnya." Lanjutnya lagi, dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipi.


William hanya bisa menatapnya dengan perasaan tidak menentu. Satu sisi ia merasa tidak tega, tapi di sisi lain ia tidak ingin melepas Eby.


Hubungan mereka baru saja kembali menghangat. Rasa gamang yang dulu ia rasakan perlahan terkikis, sehingga ia yakin akan melamar wanita itu. Namun disaat bersamaan kabar kehamilan Amanda menamparnya.


William menghapus air mata Amanda, berulang kali mengucap kata maaf karena membuat wanita itu menangis.


Mendengar ucapan William, Amanda tersenyum sembari menghapus air matanya.


"Benar, aku boleh meminta sesuatu padamu?"


"Hmmm," sahut William menganggukkan kepalanya.


"Sejak dulu aku ingin pernikahan yang meriah, namun aku tau itu nggak akan terjadi. Tapi kalau foto pre wedding, kamu mau melakukannya untukku kan? Sebagai kenang-kenangan untukku nanti saat jauh darimu."


Dan setelah mendapat persetujuan dari William, Amanda sendiri yang sibuk mencari fotographer, MUA, serta lokasi dimana mereka akan melakukan sesi foto pre wedding.

__ADS_1


"Will!" Amanda menyentak tangan William, saat ucapannya tidak mendapat tanggapan dari laki-laki di sampingnya itu.


"Kamu kenapa sih? Dari tadi aku ngomong, kamu nggak tanggepin? Kamu lagi mikirin apa?"


"Ah, kenapa? Kamu ngomong apa?" Karena larut dalam kenangan laki-laki itu menjadi tidak fokus.


"Bener kan, kamu nggak dengerin omongan aku dari tadi? Kamu jahat Will!" Amanda menjauh dengan langkah lebar.


William terkejut dengan sikap wanita itu. Apa yang salah dengannya? Kenapa Amanda sampai semarah itu?


"Manda, Manda, tunggu, Amanda!" Ucapnya sembari bergerak cepat, berusaha menyamai langkah wanita itu. Namun Amanda tetap melangkah, dengan senyum tipis menghiasi bibirnya, ia menghapus air matanya dengan kasar.


"Amanda, jangan seperti anak kecil begini ... Ingat kamu sedang hamil, bisa bahaya kalau kamu berlarian seperti ini!" William meraih pundak Amanda dengan kedua tangannya, saat ia sudah berhasil berdiri di hadapan ibu hamil itu.


"Kamu jahat William! Aku berubah pikiran. Mungkin lebih baik, aku membawa bayi ini pergi jauh dari kamu."


"Apa maksudmu?! Jangan macam-macam Amanda!"


"Aku yang macam-macam? Aku hanya ingin menghabiskan waktu yang tinggal sedikit ini bersama kamu, kamu bilang macam-macam? Dua tahun kita bersama, Will! Dua tahun aku menemani kamu, menjadi pelampiasan hasratmu, menghibur kesedihanmu karena berpisah darinya, aku sabar Will. Pernah aku menuntut kamu memenuhi mauku? Nggak Will. Dan sekarang, saat aku marah sedikit saja, kamu bilang aku macam-macam?" Kembali Amanda meneteskan air mata, dan kini dengan rintihan pilu yang menyayat hati.


"Kenapa seterjal ini jalan yang harus aku lalui, karena mencintaimu, Will?"


William membeku, tidak bisa menjawab pertanyaan yang keluar dari mulut Amanda.


"Aaauu," tiba-tiba Amanda memegang bawah perutnya.


"Manda, kamu kenapa?" William panik mendengar jeritan wanita itu.

__ADS_1


"Nggak usah perduli Will. Biarkan aku dan bayi ini sendiri." Ucapan Amanda, dengan wajah meringis menahan sakit.


Amanda melangkahkan kakinya dengan perlahan, namun tiba-tiba tubuhnya melayang. William mengangkat tubuhnya ala bridal style. Refleks tangannya memeluk leher laki-laki itu. Dengan kepala menunduk, senyum kemenangan kembali tersungging di bibirnya.


__ADS_2