Luka Di Ujung Asa

Luka Di Ujung Asa
Bab 14


__ADS_3

Entah bagaimana ceritanya, pasangan yang baru saja melakukan foto prewedding itu, kini sudah berada di salah satu hotel tidak jauh dari pantai. Di sebuah kamar, dalam balutan selimut putih, tubuh keduanya menempel tanpa sehelai benang pun menjadi penghalang.


Amanda terlelap, tangannya nyaman berada di atas perut William. Wanita itu nampak kelelahan, terlihat dari titik-titik keringat yang masih nampak di dahi dan bawah hidungnya. Lain halnya dengan William, yang masih terjaga meski waktu sudah lewat tengah malam.


Sorot matanya menerawang jauh. Entah apa yang menjadi beban pikirannya.


Sekilas ia melirik wanita yang menjadikan lengannya sebagai bantal, saat Amanda sedikit bergerak menyamankan posisi tidurnya.


"Nda, bangun dulu, aku mau ke kamar mandi." Ucapnya pelan membangunkan wanita yang tengah hamil itu.


Amanda melenguh, sedikit membuka mata sebelum mengangkat kepalanya.


"Will ...."


"Benerin tidurnya, Manda. Pakai bantal," ucap William lagi menepuk bantal di sampingnya.


"Kamu mau kemana, Will?" Tanya wanita itu lagi.


"Aku ke kamar mandi sebentar. Lengket banget. Kamu nggak mau bersihin badan dulu?"


"Nggak ah, aku capek." Amanda kembali menutup matanya setelah kepalanya berpindah ke atas bantal.


William berjalan menuju kamar mandi, dengan bertelanjang dada. Hanya handuk putih yang ia lilitkan di pinggang, menutup aset bawahnya.


Di kamar mandi, ia mengguyur tubuhnya di bawah shower. Berharap air dingin yang menyentuh kulitnya bisa membuat ia lupa akan kegelisahan yang ia rasakan saat ini.


Ternyata, selingkuh tidak benar-benar membuat seseorang merasa bahagia. Kesenangan semu yang didapat, hanya jebakan yang membuat seseorang semakin terjerembab pada masalah yang rumit.

__ADS_1


Niat hati ingin menghentikan semua kesalahan yang diperbuat, namun apa daya dirinya tidak bisa lepas begitu saja dari sosok Amanda, yang saat ini semakin bergantung padanya.


Beberapa jam lalu, saat ia berniat mengajak Amanda ke rumah sakit, karena mengira ada masalah dengan kehamilannya, wanita itu menolak. Alasannya, sakit perutnya itu karena anaknya marah, sebab William membuat dirinya sedih.


Bahkan Amanda tiba-tiba mengatakan ingin menginap di hotel, dengan alasan mengidam.


Apa yang bisa William lakukan selain menuruti keinginannya? Meski awalnya dengan terpaksa, namun akhirnya laki-laki itu kembali hanyut dalam permainan nafsu yang menggelora.


"By, maafkan aku. Setelah kamu datang, aku janji akan menjaga setiaku hanya untukmu." Ucapnya pelan, seolah wanita yang ia maksud ada di depan matanya.


Apa arti setia bagi William sebenarnya? Bukankah pembuktian setia itu, saat kita bisa menjaga diri saat berjauhan dengan pasangan?


Bukankah jarak dan orang ketiga adalah penguji kesetiaan?


Mungkin William pikir, Eby adalah malaikat yang bisa menerima segala dosa, mau memaafkan segala khilaf yang sengaja telah ia lakukan.


Ia juga lupa, saat tidak ada lagi setia, maka cinta tidak lagi punya makna.


"Sayang ...." Suara manja Amanda menyadarkannya dari lamunan.


Segera ia mengakhiri ritualnya di kamar mandi.


Menggunakan handuk yang sama, ia membungkus pinggangnya dan bertelanjang dada membuka pintu kamar mandi.


"Kenapa lama sekali? Aku kedinginan," rengek Amanda.


"Kan sudah ada selimut. Kalau turun, bukannya tambah dingin." Sahut William, memerhatikan Amanda yang hanya menggunakan bathrobe di atas lutut.

__ADS_1


"Kayanya anak kamu nggak mau jauh dari papanya. Tadi saat kamu di samping aku, aku bisa tidur dengan nyenyak. Tapi saat kamu pergi, aku malah merasa sangat kedinginan." sahutnya sudah bergelayut di lengan laki-laki itu.


"Aku mandi pakai air dingin, kalau kamu menempel begini, bukannya jadi tambah kedinginan kamunya?"


"Nggak, aku malah nyaman begini." Wanita itu semakin menempelkan dirinya pada dada telanjang William.


Laki-laki itu hanya bisa menarik nafas dalam. Sudah kehabisan kata, mengahadapi sikap Amanda yang semakin manja.


"Kamu kenapa? Sikap aku berlebihan ya? Kamu merasa terganggu?" tanya Amanda, dengan mata berkaca-kaca.


Mungkin wanita itu sadar, William tidak berekasi apapun.


"Aku juga nggak mau kayak gini, aku tersiksa. Aku juga ingin mandiri, bisa berjauhan sama kamu, agar aku terbiasa saat kita berpisah nanti. Tapi aku nggak bisa, seolah-olah anak ini menginginkan selalu berdekatan dengan kamu."


Kalau sudah mengungkit masalah anak, William pasti kalah.


"Sudah ... Aku nggak keberatan kok kamu bermanja sama aku. Toh ini keinginan dia bukan?" Sahutnya sembari mengusap perut Amanda.


"Aku temani kamu tidur lagi ya." ucapnya, yang mampu menghadirkan senyum cerah di bibir tipis Amanda.


Akhirnya mereka kembali ke atas ranjang, yang sebelumnya sudah Amanda rapikan.


Melihat William sudah terlelap, Amanda perlahan mengambil ponsel di bawah bantal, yang ia mainkan saat tadi menunggu William.


Ia mengambil beberapa gambar dirinya dan William yang terlihat intim.


William terlelap dengan bertelanjang dada, lengan laki-laki itu berada di bawah lehernya, serta selimut yang hanya menutupi tubuhnya sendiri, seolah menegaskan jika mereka baru saja melakukan ritual malam bersama.

__ADS_1


"Kita liat, saat aku post ini di medsos, bersama dengan foto pre wedding kita, apakah wanita itu masih mau meneruskan rencana pernikahan kalian? Tidak semudah itu menyingkirkan Amanda." ucapnya pelan, sambil tersenyum licik.


__ADS_2