Luka Di Ujung Asa

Luka Di Ujung Asa
Bab 78


__ADS_3

Murat menarik tubuh Eby, dan membawa wanita mungil itu ke dalam pelukannya.


Ada sakit yang juga Murat rasakan, ketika melihat Eby menangis seperti saat ini. Ia tidak menyangka, jika wanita yang selama ini nampak selalu tangguh itu , menyimpan kerapuhan di hatinya. Rupanya banyak luka dan kesedihan yang membelenggu wanita itu, hingga membuatnya tidak bisa menjadi dirinya yang utuh.


Menyadari hal itu, membuat keinginan Murat untuk menjaga dan melindungi Eby semakin besar. Meski ia sadar, ada banyak rintangan di depan sana yang akan membuat perjuangannya terasa melelahkan. Namun Murat yakin suatu saat ia pasti akan berhasil menghadirkan senyum untuk Eby.


Eby pasrah ketika lengan kokoh milik Murat merengkuh tubuhnya, membawa kepalanya bersandar pada dada bidang dengan degup jantung yang mendebarkan. Entah kemana perginya kesadaran wanita itu. Ia terlena akan rasa nyaman dan aman yang selama ini tidak pernah ia dapatkan.

__ADS_1


"Kamu tau, aku sakit mendengar apa yang kamu ucapkan, By. Bolehkah aku meminta sedikit kegelisahanmu untuk aku rasakan? Jangan simpan semuanya sendiri," ucap Murat, sembari mengusap pucuk kepala Eby dengan lembut.


"By, kamu tau? Kenapa tuhan memilih kamu ada di posisi saat ini? Karena Tuhan ingin memantaskan kamu meraih cinta kasihnya yang jauh lebih besar lagi, kelak. Percaya sama aku, Tuhan sedang menyiapkan kebahagiaan yang sesungguhnya untuk kamu. Hanya saja kamu harus sabar menerima segala ujiannya." Entah dari mana pikiran itu datang, kalimat bijak mengalir begitu saja dari mulutnya.


Eby melepaskan diri dari pelukan Murat. "Menghadapi semua sendirian itu menyiksa, Murat. Masalah demi masalah yang terjadi, itu melelahkan. Aku tidak bisa lagi berpura-pura kuat. Biarlah aku kalah," sahut Eby pasrah.


"Aku nggak tau, sepahit apa masa lalu yang kamu lalui. Aku juga nggak bisa meraba rasa sakit yang kamu hadapi, tapi jika kamu membutuhkan bahu untuk bersandar, membutuhkan teman untuk berbagi cerita, aku di sini. Aku siap menjadi pendengarmu. Jangan simpan semua seorang diri, jika itu membuat langkahmu terasa berat. Tapi aku mohon, jangan berhenti untuk melangkah," pinta Murat.

__ADS_1


Eby memandang wajah Murat yang nampak bersinar karen pantulan api unggun di depannya. Sungguh ia tidak menyangka, laki-laki yang biasanya menyebalkan dengan sikap acuh dan wajah datarnya, kini justru adalah orang yang ia pilih untuk mendengar keluh kesahnya.


"Semua orang punya pertarungannya sendiri. Jangan merasa kamu adalah orang yang paling menderita, sebab di luar sana pasti banyak yang mengharapkan kehidupan sepertimu saat ini. Meski masalah datang silih berganti, kamu masih diberikan kekuatan untuk menghadapinya." Murat kembali menasihati Eby, agar mengurungkan niatnya berhenti bekerja.


Eby diam merenungkan kembali apa yang sudah terjadi. Pikirannya berpencar ke banyak arah, menciptakan kesemrawutan di dalam kepalanya.


Ia tidak membalas satu katapun yang diucapkan Murat terhadapnya. Semua nasihat laki-laki itu tengah ia resapi dalam hatinya.

__ADS_1


Benar memang ia terlalu pengecut, jika memilih berhenti dari pekerjaannya saat ini. Jika ia berhenti, di mana akan ia carikan biaya pengobatan sang ayah yang hingga kini masih membutuhkan banyak biaya? Namun jika ia melanjutkannya, ia harus menebalkan muka di hadapan rekan kerja yang selama ini tidak pernah menyukainya.


__ADS_2