
Suasana hening menyelimuti laju kendaraan Harry dari rumah sakit. Dua orang di dalam mobil itu tak ada yang berucap satu katapun, masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri.
Hingga mobil sudah mendekati jalan dimana Eby bertemu William, barulah Harry bertanya.
"Kamu mau langsung ke kost, atau aku antar ambil motormu dulu?"
"Anter ambil motor dulu, lah. Besok aku kerja pakai apa kalau motornya ditinggal?"
"Ya kan nanya," sahut Harry, tidak mau dipojokkan.
Kembali mereka diam. Namun tak berselang lama, Eby menoleh ke arah Harry seraya berkata,
"Ry, sebenarnya William sakit apa ya?" tanya wanita itu.
"Mana ku tau, memang aku dukunnya?" ketus Harry.
"Isss ditanya gitu doang, nyolot!" Eby mendadak kesal mendapat jawaban seperti itu dari sepupunya.
"Lagian, kamu. Ngapain kepo urusan dia? Masih menyimpan rasa?" tanya laki-laki itu, dengan wajah menahan kesal.
__ADS_1
Eby menatap wajah sang sepupu, membuat Harry salah tingkah.
"Jangan gitu liatnya," ucap laki-laki itu mendorong wajah Eby, agar kembali menatap jalan. Harry merasa salah tingkah oleh tatapan eby. Namun bukannya patuh, Eby justru kembali menolehkan wajahnya. Mata wanita itu seolah sedang menelisik sesuatu, dan akhirnya dengan penuh penekanan ia berkata
"Kamu nggak lagi cemburu, kan, Ry?" tanyanya dengan nada curiga?
Harry terkejut, tapi ia bisa menguasai dirinya dengan cepat. Bersyukur suasana di dalam mobil tidak terlalu terang, sehingga wajahnya yang tegang tidak terlalu nampak di mata Eby.
"Cemburu? Yang benar saja! Aku tuh cuman heran aja, kamu masih kepo sama masalah hidupnya, apa masih menyimpan rasa sama dia? Gitu aja, kok. Biasanya kalau orang yang udah nggak cinta, kan nggak terlalu peduli sama apa yang terjadi dalam hidup si mantan," tandas Harry memberikan penjelasan, berharap Eby tidak salah paham.
Eby menghela nafas berat.
Mobil sudah masuk ke jalan kecil tempat Eby menemukan William beberapa saat lalu. Obrolan mereka pun otomatis terhenti, sebab pikiran mereka sudah teralihkan pada hal lain.
"Makasih ya, Ry. Sorry aku recokin waktu istirahatmu," ucap Eby, saat mobil sudah berhenti.
"Santai aja, By. Sorry soal yang tadi ya, aku nggak maksud bikin kamu tersinggung. Soal William, kalau menurutku, dia lagi stress aja saat ini. Itu yang bikin kondisi tubuhnya lemah. Kalaupun benar apa yang diucapkan kakaknya, itu semua bisa terjadi karena dia dalam keadaan lemah baik jasmani maupun rohani. Doakan saja semoga dia bisa melewati ini semua dengan baik." Harry mengusap lengan Eby beberapa saat.
Eby tersenyum, "makasih ya, Ry," ucapnya sebelum membuka pintu mobil.
__ADS_1
"Kamu hati-hati di jalan. Jangan ngebut!" ucap wanita itu lagi memberi peringatan pada sang sepupu.
"Iya. Udah jalan sana, ambil motormu! Aku ikuti dari belakang."
"Nggak usah, aku berani kok sendiri,"
"Sudah! Jangan banyak membantah. Cepet ambil motormu!"
Akhirnya Eby hanya bisa patuh menuruti ucapan Harry. Membiarkan laki-laki itu mengikutinya dari belakang, tanpa banyak lagi protes mengutarakan penolakan.
*
*
*
jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya teman-teman.
Dukung selalu author kalian ini, biar bisa semangat lanjutin ceritanya.
__ADS_1
Nanti kalau sudah tamat, aku bakal kasih cindera mata untuk pendukung terbaik dan paling setia 🥰🥰🥰