Luka Di Ujung Asa

Luka Di Ujung Asa
Bab 11


__ADS_3

Hari berlalu dengan cepat, namun bagi Eby rasanya begitu lama dan menyiksa.


Semakin intens komunikasinya dengan William, semakin tidak sabar ia kembali pulang ke kampung halaman.


"Bener ya habis kontrak ini kamu pulang." Tuntut William beberapa waktu lalu.


Seperti biasa, hari liburnya selalu Eby habiskan untuk menjalin komunikasi dengan sang kekasih.


"Iya, udah berapa kali kamu nanyain ini terus?" Gemas wanita itu menjawab pertanyaan kekasihnya.


"Soalnya aku udah bilang sama bapak, sama ibu, kalau kita bakal nikah setelah ini. Jangan sampai mereka kecewa," sahut William.


"Kok udah bilang ke mereka aja?"


"Biar kamu nggak ada alasan untuk mengulur waktu lagi."


Eby mencebikkan bibirnya mendengar jawaban William.


"Doain aja biar semuanya lancar. Toh juga masih lama kan, masih beberapa bulan lagi." Sahut Eby membuat William menatap sendu kekasihnya.

__ADS_1


"Nggak bisa apa kamu pulang lebih awal?" Tanya laki-laki itu dengan mata sayu yang sungguh membuat dada Eby berdesir.


"Sabaaar, tunggu aku sebentaaar lagi. Masih bisa kan?" Sahut Eby tidak kalah lembut.


Andai ia bisa, ingin rasanya menyentuh wajah laki-laki yang dicintainya itu, menatap mata sayu yang menenangkan hatinya, lalu membenamkan diri dalam dekapan hangat yang sudah hampir tiga tahun tidak pernah ia rasakan.


Aah, kenapa ia menjadi wanita lemah begini?


Tinggal beberapa bulan lagi. Ia pasti sanggup.


Selama ini, berapa puluh purnama sudah ia lewati dalam tangis kesepian dan kerinduan? Bukankah ia mampu melewatinya?


"Setelah ini, aku akan memasrahkan semua di tanganmu. Kalau kamu ingin aku tetap di rumah, aku akan melakukannya." Janji Eby yang disambut senyum lebar oleh William.


Obrolan yang memberinya semangat untuk tetap bertahan melakukan yang terbaik di tempat kerjanya, seperti yang tengah ia lakukan saat ini.


Melangkah pasti, menyusuri gedung tinggi dimana banyak orang berlalu lalang dengan berbagai kepentingan.


Dukungan William yang membuat ia masih bisa tersenyum ceria, tidak perduli suasana tempatnya bekerja yang semakin tidak ramah.

__ADS_1


Jika dulu Eby merasa tertekan oleh 'ancaman tak kasat mata' dari musuhnya yang entah siapa, kini Eby memilih tidak perduli.


William pernah berkata.


"Tetaplah berbuat baik, lakukan yang terbaik, dan tetap menjadi diri sendiri. Jangan pedulikan orang-orang yang tidak suka sama kamu. Bukankah di sana ada cctv? Jadi kalau sekali lagi ada yang menuduh kamu yang bukan-bukan, kamu bisa minta bos kamu untuk memeriksanya melalui rekaman tersebut." Ucap laki-laki itu, saat ia mengadukan perlakuan tidak menyenangkan yang beberapa kali dialaminya.


"Pagi Eby,"


"Selamat pagi Eby,"


"Haii Eby," sapaan yang biasa ia terima dari beberapa karyawan lain, mengejutkan lamunannya. Ia pun membalas sapaan mereka satu persatu.


"Ganjen banget sih, semua orang disapa, udah berasa jadi artis terkenal ya di sini?" Komentar pedas dari belakang punggungnya, kembali membuat ia terkejut.


Eby menoleh. Benar saja, suara itu berasal dari Siska dan beberapa teman kerjanya yang lain.


Wajah mereka tidak ada yang ramah terhadap Eby. Semua menunjukkan sikap permusuhan yang kentara.


Eby berbalik, tanpa mengatakan apapun, ia melanjutkan langkahnya menuju ruang staf. Meninggalkan orang-orang yang tidak menyukainya di belakang.

__ADS_1


Hatinya selalu berkata


"Fokus Eby, kamu di sini bukan untuk menunjukkan sikap bar-bar dan permusuhan pada siapapun. Kamu di sini bekerja, untuk mendapatkan uang demi mimpi-mimpimu yang belum terwujud." Meskipun egonya acap kali berontak, ingin menunjukkan seberapa bar-bar dirinya, namun sebisa mungkin ia menahan diri agar tidak terlibat masalah apapun lagi.


__ADS_2