Luka Di Ujung Asa

Luka Di Ujung Asa
Bab 15


__ADS_3

Rasa lelah akibat menempuh perjalanan jauh, terbayar dengan rasa bahagia yang Eby rasakan, ketika menginjakkan kakinya kembali di kota yang ia tinggalkan tiga tahun lalu.


Langit masih gelap, bintang masih menampakkan diri, cahaya bulan sabit pun sama, meski sinarnya tidak seterang lampu-lampu penerang jalan.


"Akhirnya aku sampai," ucap Eby penuh haru, menatap sekitar dimana ia bisa merasakan hembusan angin yang menerpa kulitnya.


Sembari menunggu bagasinya tiba, Eby segera menghubungi sepupunya yang bekerja sebagai sopir travel.


Hanya sang sepupu lah yang tahu kedatangannya, sebab sebelum berangkat wanita itu menghubunginya.


"Ingat jangan sampai kamu bocorin ini ke ayah dan ibuku. Kalau sampai mereka tahu, aku nggak mau ngomong lagi sama kamu." Ancamnya, yang membuat sang sepupu terkekeh.


Dan kini ia kembali menghubungi laki-laki yang bernama Harry tersebut, mengabarkan jika dirinya sudah tiba.


"Hallo, Harry kamu di mana? Aku udah di luar ini," ucap Eby.


"Luar mana? Aku di depan pintu kedatangan, belum liat muka kamu dari tadi," sahut laki-laki berkulit coklat itu.


"Hehehehe aku masih nunggu koper. Sabar ya ...."


"Hmmmm"


Panggilan diakhiri.


Tidak berselang lama, Eby keluar dengan dua koper besar di tangannya.


Benar saja, Harry menunggu tepat di samping pintu masuk.


"Selamat datang nona manis," sapa Harry dengan senyum cerahnya.


Laki-laki itu membuka lebar kedua tangannya, bersiap menyambut wanita yang selama tiga tahun tidak ia jumpai.


"Harry ... Kangen bangeet aku ...." Eby langsung memeluk sepupunya dengan sangat erat.


"Lama di luar negeri, nggak bikin tubuhmu tambah tinggi ya, masih tetap cebol seperti dulu." Ledek Harry membuat Eby segera melepaskan pelukannya.


"Jahat banget sih," sungutnya sembari memukul lengan sang sepupu.


Harry tertawa kecil. Ia memang sangat suka menggoda sepupunya itu. Meski usia mereka sebaya, namun postur tubuh mereka sangat berbeda. Itu yang sering dijadikan bahan ledekan di antara keduanya setiap kali bertemu.


"Jangan ngambek, aku bawain kopernya deh," rayu Harry sembari memegang kedua pipi Eby, sebelum ia menarik kedua koper wanita itu.

__ADS_1


"Ry ... Kamu laper nggak?" tanya Eby saat mereka baru saja masuk ke dalam mobil.


"Kamu lapar?" Harry balik bertanya.


"Masih ada warung yang buka nggak ya, jam segini?" Eby seolah bertanya pada dirinya sendiri.


"Kalau warung jarang, tapi kalau nasi Jinggo, kayanya masih ada yang jual deh. Mau?"


"Boleh, boleh. Yang penting makan nasi." Sahut Eby antusias.


Harry melajukan mobil dengan perlahan, sembari melihat-lihat pedagang yang biasanya menggelar dagangannya di pinggir jalan.


"Kayanya deket pasar K, ada deh Ry. Dulu aku suka beli di sana." ucap Eby, sebab sepanjang jalan yang dilewati tidak menemukan apa yang dicarinya.


"Coba kita ke sana," Harry memutar mobilnya menuju pasar yang disebut Eby. Dan benar saja, meski waktu sudah lewat tengah malam, masih ada beberapa pedagang yang masih menggelar dagangannya.


"Tambah rame ya Ry, di sini?"


"Iya lah ... Penduduknya tambah banyak, orang yang perlu makan juga tambah banyak jadinya."


"Saingannya jadi banyak juga ya," komentar Eby.


"Betul. Syukur kalau bersaing secara sehat, By. Masalahnya banyak yang bersaingnya secara nggak sehat. Dan itu ujung-ujungnya merugikan konsumen."


Eby turun diikuti oleh Harry di belakangnya.


"Bu, nasinya dua." Pinta Harry.


"Yang ayam apa ikan, mas?" Tanya penjual dengan ramah.


"Apa By?" Harry balik bertanya pada Eby, yang berdiri di sampingnya.


"Campur aja lah. Ayam tiga, ikan tiga. Eh tapi ini masih baru kan Bu?"


"Baru kok mbak. Bisa di buka dulu di sini, nanti kalai basi nggak usah dibayar," ucap pedagang itu meyakinkan Eby.


Benar saja wanita itu membuka bungkusan daun pisang yang menjadi ciri khas makanan yang diberi nama nasi Jinggo tersebut.


Ia mencicipi nasi beserta lauknya.


"Masih bagus. Beli aja Ry." ucap Eby, menikmati nasi yang baru saja ia buka.

__ADS_1


Harry memerhatikan Eby yang tengah lahap menikmati nasi Jinggo nya. Laki-laki itu menggelengkan kepala, sebab wajah Eby terlihat tidak lelah sama sekali.


"Kenapa? Kamu mau? Makan aja?" Ucap Eby yang mengira Harry menginginkan nasi yang ia makan.


"Nggak, aku masih kenyang."


"Trus, kenapa liatin aku kayak gitu?"


"Kamu nggak capek? Dua belas jam lebih loh kamu di pesawat. Nggak ada jatlag, gitu?"


Eby menggeleng. Sembari membuka kembali bungkus nasi yang ia beli, wanita itu mengungkapkan perasaannya.


"Tadi emang rasanya lelah banget. Apalagi pas di dalam pesawat, rasanya pantatku udah perih sangking lamanya duduk. Tapi begitu turun, capek aku tiba-tiba hilang. Nggak tau kenapa," terangnya seolah sedang menyampaikan cerita misteri.


"Dasar." komentar Harry, tidak lagi melanjutkan ucapannya.


Laki-laki itu mengerti, suasana hati Eby yang tengah bahagia lah yang membuat wanita itu seakan tidak merasakan lelah, meski baru saja melakukan perjalanan jauh.


"Eh, Ry. Kamu nggak bilang sama orang tua aku kan kalau aku balik hari ini?" tanya Eby penuh selidik.


"Enggak, kamu tenang aja."


"Awas kalau kamu bilang ya ...." Eby mengacungkan sendok plastik di tangannya.


"Kalau nggak percaya, kamu telepon mereka sekarang. Tanyain, ada nggak aku bilang soal kamu balik hari ini?" tantang Harry.


"Mereka tau donk jadinya ...." Mata Eby melotot horor ke arah sepupunya itu.


"Mangkanya percaya sama aku,"


Eby tidak menanggapi, ia sibuk melanjutkan makannya. Hingga bungkus nasi ke tiga.


"By, kamu doyan apa lapar? Kayanya ini bukan kamu deh yang kangen masakan lokal, tapi cacing di perutmu."


Eby hanya tersenyum kuda menanggapi sindiran sang sepupu.


Selesai mengisi perut, Eby membayarnya dengan meminjam uang milik Harry.


Dua lembar uang berwarna pink, untuk lima bungkus nasi Jinggo.


Pedagang tersebut sampai berkali-kali mengucapkan terima kasih pada mereka, karena uang yang diberikan Eby, jauh melebihi harga nasi yang dibeli.

__ADS_1


Harry merasa bangga pada sang sepupu. Meski uang yang digunakan untuk membayar adalah uang miliknya, namun Eby tidak pernah berubah sejak dulu. Wanita yang terlihat cuek dan sedikit bar-bar tersebut, memiliki hati yang tulus dan peka pada lingkungan di sekitarnya.


__ADS_2