
Adakah yang lebih menakutkan dari rasa takut kehilangan orang tersayang? Terlebih dia adalah cinta pertama yang namanya selalu kau sebut ketika belajar bicara, yang jari tangannya selalu kau genggam erat ketika belajar berjalan, yang usapannya mampu menyembuhkan luka, ketika kau terjatuh.
Kepala Eby berdenyut sakit. Bingung harus mencari uang dimana saat ini.
Ia menghabiskan semua tabungannya untuk dikirim ke rekening William, hanya tersisa beberapa ratus ribu untuk bekalnya setiap hari di sini. Sementara gajian masih satu Minggu lagi. Tidak mungkin ia mengulur waktu selama itu untuk mengirim uang pada ibunya.
Ponsel di genggaman tangannya bergetar. Pesan dari laki-laki yang menghilang beberapa hari lalu, kini bagaikan oase untuknya yang hampir kehilangan harapan.
"Sayang, maaf beberapa hari ini nggak bisa kabarin kamu. Sinusitisku kambuh, aku nggak bisa ngapa-ngapain. Tapi sekarang udah mendingan. Kamu nggak usah khawatir ya 🙂🙂🙂" tulis William dalam pesannya.
Melihat sang kekasih masih online, segera Eby menghubunginya, berharap laki-laki itu menerima panggilannya.
"Halo sayang" suara serak William menyapa indra pendengarannya.
"Halo, Wil. Gimana keadaan kamu sekarang?"
"Udah membaik kok, kamu nggak perlu khawatir."
"Syukurlah kalau begitu. Eee Will, uang yang waktu ini aku kirim, masih ada nggak?" Eby ragu-ragu bertanya.
"Masih kok, aku belum sempat ambil malah, karena sakit. Kenapa?"
"Aku pake dulu ya, soal perlengkapan rumah, nanti pas gajian aku kirim lagi."
Hening beberapa saat. William tidak langsung mengiyakan ucapan Eby.
"Halo, Willi,"
"Iya By. Mau kamu pake apa uangnya?" Tanya William.
__ADS_1
"Ayah jatuh di kamar mandi, sekarang lagi ada di rumah sakit. Ibu kekurangan biaya untuk pengobatan ayah." Terang Eby lirih.
"Oh astaga ... Lalu sekarang ayah gimana? Dirawat di mana?"
"Kata ibu pas tadi telepon, ayah belum sadar. Dibawa ke rumah sakit, tapi aku nggak sempet nanya nama rumah sakitnya."
"Ya ampun ... Semoga ayah baik-baik aja, sayang. Siapa yang jaga di sana?"
"Aku nggak sempet nanyain soal itu."
"Ya udah nggak pa-pa. Nanti aku telepon ibu. Mungkin besok pagi aku kesana."
"Tapi kan kamu masih sakit ...."
"Aku udah nggak pa-pa kok. Kasihan ibu kalau harus jagain sendirian. Besok aku susul mereka ya ... Terus uangnya kasih semua ke ibu dulu gitu?"
"Sayang ... Jangan ngomong gitu. Kita udh sejauh ini, nggak mesti ada kata terima kasih lagi diantara kita. Ayah dan ibu kamu, juga adalah orang tua aku. Sebisa mungkin aku akan jaga mereka seperti halnya kamu yang selalu peduli sama orang tua aku." sahut William menenangkan hatinya.
Hilang sudah segala keraguan dan kesusahan hati yang sempat membelenggu Eby. Ucapan kekasihnya seolah angin segar yang mampu memberi kesejukan untuknya.
Tidak bisa berlama-lama karena masih di jam kerja, obrolan sepasang kekasih itu harus berakhir, meski keduanya masih merasakan rindu yang menggebu.
Setidaknya Eby bisa bernafas lega kini. Masalah uang untuk pengobatan ayahnya bisa teratasi, dan ia juga mendapat kabar dari sang kekasih soal keadaan laki-laki yang dicintainya itu.
🌟🌟🌟
Hari-hari berlalu, Eby menjalaninya dengan penuh perjuangan. Tidak pernah membagi kisah sedihnya pada orang rumah, ia tidak ingin membebani pikiran orang tuanya, terlebih sang ayah yang hingga kini masih dirawat di rumah sakit.
Sejak di panggil HRD, ia tidak bisa lagi bersikap bebas seperti dulu. Setiap tingkah lakunya seolah diawasi oleh seseorang, yang sialnya ia tidak tahu siapa.
__ADS_1
Perlahan ia mulai membatasi diri. Berbincang seperlunya, dan tidak ingin menjadi seseorang yang terlihat menonjol di tempat kerjanya.
Ia mulai merasa tidak nyaman di tempat tersebut. Namun Ratih dan Mahira selalu membujuk dan memberi semangat untuknya tetap bertahan di sana.
"Kalau kamu nggak ada, mereka pasti semakin ngelunjak dan menindas kita, By. Kamu tega membiarkan kami menjadi bahan olokan mereka?" Keluh Mahira, saat ia mengutarakan niatnya berhenti bekerja di tempatnya saat ini.
Yang dimaksud 'mereka' tentu Siska dan kawan-kawannya, yang memang terkenal nyinyir dan sok senior.
"Mangkanya kalian harus bisa membela diri. Jangan takut selama kalian benar. Toh kita disini sama-sama bekerja, mencari rejeki. Kita ini sama-sama babu di sini. Masa sama Siska aja kalian takut?"
"Kalau cuman si Siska aja sih, kita nggak takut. Yang jadi masalah itu gengnya dia cukup dekat dengan bos. Takutnya mereka laporan lagi, bisa dipecat kita." sahut Mahira dengan wajah putus asa.
"Udah, nggak usah bahas itu dulu. Toh kontrak aku di sini masih enam bulan lagi. Masih lama ...." Sahut Eby kala itu.
Namun semakin lama, hasrat untuk pindah tempat kerja semakin besar ia rasakan.
Beberapa saat lalu, sang manager tiba-tiba memanggilnya, meminta perawatan lengkap, dan Eby lah satu-satunya terapis yang diminta melakukannya.
Memang saat itu ia mendapat pujian. Managernya merasa puas dan memuji ketrampilannya. Namun ucapan wanita anggun itu membuat ia berpikir, sehebat apa orang yang mencoba menjatuhkannya itu, hingga bisa menghadirkan sang manager hanya untuk sekadar menguji dirinya.
"Caramu bagus, dan buat saya ini sangat memuaskan. Kamu tahu semua tehnik dengan baik. Tapi kenapa dalam laporan yang saya terima, tidak sesuai dengan fakta? Apa kamu melakukan ini, karena tahu saya atasan kamu, atau pelayanan ini untuk semua customer yang datang?"
"Saya tidak pernah membedakan siapapun yang datang, Bu. Mereka datang dengan uang yang sama, yang mereka bayarkan untuk mendapat jasa saya. Siapapun, layak mendapat pelayanan yang istimewa." Sahut Eby, membuat senyum atasannya itu terkembang.
"Oke. Bekerjalah dengan baik, jangan mengecewakan pelanggan manapun lagi." Ucap wanita itu sebelum meninggalkan ruang perawatan, dengan Eby masih mematung di tempatnya.
Mengecewakan lagi? Apakah ada customer yang merasa kecewa dengan pelayanan yang ia berikan? Kapan? Ia bahkan selalu mendapat tips dan ucapan terima kasih dari setiap tamu yang datang.
Mungkinkah bila seseorang merasa kecewa, dia akan memberikan uang lebih untuk jasanya?
__ADS_1