Luka Di Ujung Asa

Luka Di Ujung Asa
Bab 82


__ADS_3

Puas menikmati keindahan alam dari tempat yang tidak biasa, mereka memilih naik sebelum jam makan siang tiba. Eby kembali memeluk perut Murat dengan mesra, kali ini disertai perasaan yang semakin membuncah. Ada sesuatu yang semula bisa ia simpan dengan baik di hatinya, kini justru dengan nakal muncul ke permukaan, membuat wanita itu tidak bisa mengendalikan ekspresi wajahnya.


"Mau makan di mana?" tanya Murat sedikit mengeraskan suara. Jalanan yang menanjak membuat suara motor menjadi semakin keras, belum lagi angin yang bertiup cukup kencang membuat suara mereka seolah tenggelam.


"Di mana aja," sahut Eby dari belakang.


"Eh tapi kemarin aku kan bawa mie instan," lanjutnya lagi sedikit mengangkat tubuhnya demi menggapai telinga Murat.


"Jangan mie instan, kita cari tempat makan di luar," sahut Murat.


Eby terdiam. Sering kali ia lupa, siapa orang yang ada di depannya itu. Murat adalah seseorang dengan jabatan yang tinggi, tentu standar hidupnya juga tinggi. Tidak mungkin ia mengajak Murat menjalani kehidupan seperti orang biasa. Ia merutuki dirinya sendiri. Tiba-tiba merasa malu, karena menganggap kehidupan mereka sama.


"Sweety," Murat memanggilnya lagi.


"Ya," sahut Eby pelan. Hampir saja Murat tidak mendengar suaranya.


"Jadinya makan di mana? Mau ke tempat tadi pagi?" Dengan sedikit menoleh, Murat memastikan Eby mendengar suaranya.


Eby berpikir sejenak.


"Jangan di sana deh," sahut wanita itu akhirnya.


"Lalu di mana?"


"Kamu suka masakan Indonesia?" tanya Eby dijawab anggukan kepala oleh Murat.


"Cobain mujair nyat-nyat mau?" usul wanita itu. Murat kembali menganggukkan kepala.


"Tapi di warung makan biasa, bukan restaurant," ucap Eby memberi tahu.


"Tidak apa-apa," sahut Murat dengan tersenyum.


Dapat Eby lihat dari kaca spion, bagaimana laki-laki itu menipiskan bibirnya sebagai tanda jika ia senang dengan tawaran Eby.

__ADS_1


"Ok, aku tunjukkan tempat makan yang enak kalau kita sudah di atas nanti."


"Baiklah,"


Eby mengajak Murat menikmati makan siang di salah satu warung sederhana, tempat biasa ia singgahi ketika melewati tempat itu.


"Gimana?" tanyanya ketika melihat Murat makan tanpa berkata apapun.


"Enak, tapi sedikit agak pedas."


"Maaf aku lupa kalau kamu nggak bisa makan pedas," sesal Eby merasa tidak enak hati.


"Nggak apa-apa, anggap aja latihan. Aku harus terbiasa, bukan?"


"Mau diganti dengan yang lain? Aku takut kamu sakit perut nanti."


"Nggak usah. Aku baik-baik saja," sahut Murat meyakinkan Eby agar tidak terlalu mengkhawatirkan dirinya.


"Ada apa?" tanya Murat yang sejak tadi memerhatikan wanita yang duduk di depannya.


"Ah, e-enggak," sahut Eby sedikit tergagap.


"Wajah kamu nggak bisa bohong. Kamu mengingat sesuatu?" desak Murat lagi.


"Maksudnya?"


"Apa ini tempat favorit kamu sama dia, dulu?" tanya Murat curiga.


Wajah Eby memerah. Ia merasa seperti pencuri yang ketahuan, padahal sebenarnya ia tidak bermaksud mengenang sang mantan di tempat itu.


"By, apa dia masih sering mengganggu pikiranmu?" tanya Murat, dengan wajah datar. Ada nada tidak suka yang dapat Eby tangkap di sana. Laki-laki itu mendorong piring yang ada di depannya. Tidak menghabiskan makanan yang masih tersisa setengahnya lagi. Eby pun jadi kehilangan selera makannya, ia ikut menghentikan kegiatan tangannya lalu menatap Murat dengan tak kalah dalam.


"Apa kamu keberatan dengan itu?" tanyanya pelan.

__ADS_1


"Aku harus gimana? Apa aku mesti membenturkan kepala, agar amnesia, demi menghilangkan dia dari ingatanku?" Murat tersenyum kecut menanggapi ucapan Eby. Ia masih bungkam. Tidak membalas apapun yang Eby katakan.


"Hubungan kami sangat lama dulu, bahkan hampir setiap tempat yang biasa aku datangi, ada kenangan kami di sana. Lalu apa aku tidak boleh pergi ke semua tempat itu? Kalau kamu bilang aku masih mengingatnya, jujur iya. Tidak semudah itu melupakan kenangan yang pernah ada. Tapi bukan berarti aku sengaja ke tempat ini untuk mengenangnya. Aku mengajakmu ke sini karena aku memang suka tempat ini." Eby menjelaskan semua, berharap tidak ada salah paham antara dirinya dengan Murat kelak.


Murat memejamkan mata. Ia menyesali keegoisannya, karena terbakar cemburu. Kenapa perkara kecil ia besar-besarkan? Bukankah setiap orang memiliki masa lalu? Bahkan ia pun sama. Ia punya masa lalu yang tidak kalah dramatis dibanding Eby.


"Maaf, aku berburuk sangka terhadapmu," ucap Murat akhirnya setelah menyadari kekeliruan yang ia buat.


"Tidak apa-apa. Semua memang harus dibicarakan, bukan?" sahut Eby dengan senyum tipis.


Mereka masih berbincang santai di tempat itu, ketika ponsel di tas kecil milik Eby berdering. Eby segera menjawab panggilan yang ternyata dari Santi, sang sahabat. Wajahnya seketika berubah tegang saat mendengar kabar dari ibu satu anak itu.


"Aku lagi di luar sekarang, San. Mungkin agak sore baru bisa temuin kamu. Maaf ya," sesal Eby. Raut wajahnya tidak dapat berbohong, jika saat ini dirinya sedang khawatir.


Obrolan via telepon itu tidak berlangsung lama. Hanya sekitar lima menit, dan akhirnya Eby mengakhiri panggilan. Ia menarik nafas dalam. Memainkan ponselnya seperti orang yang tengah berpikir keras.


"Ada apa?" tanya Murat yang sejak tadi penasaran dengan obrolan wanita di hadapannya.


Eby menceritakan keadaan sang sahabat saat ini. Santi tengah berada di rumah sakit, membawa anaknya yang tiba-tiba kejang. Suaminya tengah berada di luar kota mengerjakan proyek. Dan sang sahabat seorang diri menjaga anaknya.


"Kalau begitu, ayo kita balik sekarang." Murat segera bangkit dari duduknya, membuat Eby terkejut.


"Beneran? Jadwal kita cek out kan nanti sore," tanya Eby memastikan.


"Liburan bisa kapan-kapan lagi. Sekarang kita temuin sahabat kamu itu," sahut Murat membuat Eby tersenyum bahagia.


Eby menyempatkan memesan makanan untuk dibungkus dan akan ia berikan pada Santi. Ia yakin, sahabatnya itu pasti menahan lapar karena cemas. Di perjalanan ia juga membeli beberapa makanan ringan serta boneka untuk ia berikan pada Biyan. Gadis kecil yang sudah ia anggap seperti keponakannya.


"Kenapa kamu terlihat khawatir sekali?" tanya Murat, sebab beberapa kali Eby menghubungi Santi saat mereka masih di jalan.


"Dia saudara kamu?"


Eby menggeleng. "Kmu memang tidak memiliki ikatan darah. Tapi dia sudah seperti saudara perempuanku. Nggak ada rahasia antara aku dengannya. Hanya dia yang aku percaya sebagai tempat berbagi kisah," sahut Eby menjelaskan sedekat apa dirinya dengan Santi.

__ADS_1


__ADS_2