
Setelah perjuangan yang cukup menegangkan di jalan raya, Eby akhirnya tiba di tempat sang sahabat.
Seorang wanita menggendong buah hatinya, nampak berdiri di depan gerbang kostan, sudah menunggu kedatangannya.
Tanpa banyak kata, hanya tatapan haru dan pelukan hangat menjadi sapaan dua wanita yang baru pertama kali bertemu, setelah tahun-tahun indah mereka berlalu.
Bayi gembul dalam gendongan ibunya sedikit berontak, karena tidak nyaman berada di tengah-tengah dua orang dewasa.
"Iiih berontak dia, lho ... Marah diaaa," Eby menjawil pipi merah bayi di gendongan Santi.
"Sini sama onty, mau?" Bayi itu menolak, dengan membalikkan badan memunggungi tamu ibunya.
"Lucu banget sih, San, anakmu," gemas Eby, menggelitik punggung bayi itu.
"Dia tuh awas, kalau ketemu orang baru. Maunya nempel sama emak atau bapaknya aja," sahut Santi dengan senyum bangga menatap putrinya.
Merekah melangkah beriringan menuju kamar kost Santi yang berada paling pojok bangunan.
Eby menyerahkan kantung belanja pada Santi, sebagai oleh-olehnya.
"Repot banget sih, kamu By. Udah aku bilang nggak usah bawa apa-apa," omel Santi.
__ADS_1
"Orang itu untuk ponakanku, kok. Bukan untuk kamu. Ya sayang yaaa," sahut Eby tanpa melihat ke arah Santi. Ia terus fokus menggoda bayi yang malu-malu mengintipnya.
"Kalau gitu, makasih, onty ...," ucap Santi menirukan suara anak kecil.
Mereka akhirnya berbincang sebentar, mengulang obrolan saat di telepon kemarin, sembari menunggu bayi Santi tertidur.
Setelahnya barulah mereka mulai memasak, membuat makanan yang sejak lama Eby inginkan.
Sembari terus melanjutkan cerita satu dengan yang lain, dua wanita itu sibuk dengan ulekan dan penggorengan.
Eby merasa lebih baik saat ini, sebab bertemu dengan Santi, mengulang kembali kenangan SMA dan masa-masa awal mereka bekerja.
Masa di mana kehidupan, mereka rasa begitu hambar dan datar, namun ternyata masa-masa itu yang kini mereka rindukan.
"Bahagia banget rasanya kehidupan yang kamu jalani sekarang, ya San?" Dengan tatapan sendu Eby berucap, sembari menatap punggung Darma yang mengajak buah hatinya keluar, setelah selesai makan siang.
Laki-laki pendiam yang menjadi suami sahabatnya itu, begitu pengertian. Meski jelas nampak kelelahan di wajahnya, ia mau memberi istrinya waktu luang untuk melepas rindu bersama sahabatnya, tanpa harus diganggu dengan mengasuh bayi.
Santi menoleh dan tersenyum.
"Kamu juga nanti pasti akan merasakan ini kok, By. Percaya sama aku." Eby menggeleng dengan senyum getir tersungging di bibirnya.
__ADS_1
"Jangan menyerah, By. Jangan putus asa," ucap Santi menatap sang sahabat dengan iba.
"Kamu ingat dulu? Aku juga pernah berada pada masa, di mana aku tidak ingin mengenal siapapun, karena luka dan kecewa. Kita punya kisah yang hampir sama, By. Bedanya, aku memang tidak mendapat restu dari keluarganya, sementara kamu? Keluarga Willi mendukungmu." Santi membawa Eby pada kenangan, di mana ibu satu anak itu hancur hingga masuk rumah sakit.
Eby ingat, saat itu dia sangat bersyukur, hubungannya dengan Willi berjalan mulus, dengan dukungan dari kedua keluarga. Berbeda dengan sang sahabat, yang dianggap sebelah mata oleh keluarga kekasihnya dulu. Dan yang lebih menyakitkan, mantan kekasih Santi lebih memilih bersama perempuan lain yang dianggap lebih pantas, daripada mempertahankan hubungannya bersama Santi yang sudah berjalan lebih dari dua tahun.
"Saat itu aku sangat bersyukur punya dia, tapi sekarang aku justru menyesal telah mengenalnya, San." Santi tersenyum tipis menanggapi keluhan Eby.
"Menyesal, Karen telah terbuai dengan janji manisnya, telah terbuai dengan kelembutannya. Aku terlalu yakin, pada perasaan seseorang hingga aku lupa, tidak ada yang abadi di dunia ini. Begitu juga perasaannya terhadapku. Sekian tahun aku berjuang, San. Bertahan dengan segala godaan yang tidak pernah lelah menyapaku. Rasanya, aku rela makan hanya dengan garam di negeri orang, demi bisa mewujudkan mimpi kami. Tapi rupanya, semua itu sia-sia, San. Pengorbananku nggak ada artinya." Air mata Eby menetes tanpa permisi. Isak yang coba ia tahan, kini mendobrak memaksa muncul ke permukaan. Sesak di dadanya memaksa wanita itu untuk menarik nafas lebih keras lagi agar bisa meraup oksigen.
Ia jatuh dalam pelukan sang sahabat. Menangis pilu, mencurahkan segala duka laranya selama ini.
"Aku gamang, San. Semua terasa hampa untukku saat ini. Rasanya, bahkan seseorang menusuk jarum pun di tubuhku, aku tidak akan merasakan sakit," keluh Eby, mengungkapkan betapa hebat sakit yang ia rasakan saat ini.
"Apa aku terlalu cengeng, San? Apa aku terlalu rapuh, hingga saat kepahitan ini datang, aku seakan mati?"
"Nggak apa-apa, By. Wajar kalau kamu merasakan itu. Tapi percayalah, waktu akan menyembuhkan semua, meski tidak bisa menghapus bekasnya." Santi mengusap punggung Eby dengan lembut.
Saat ini wanita itu hanya butuh didengarkan, agar bisa menumpahkan segala kesedihannya. Dan bersyukur Santi mengerti itu.
Santi tidak terlalu banyak menasihatinya, sebab mungkin wanita itu tahu, saat seseorang terjatuh, bukan mengobati yang pertama harus dilakukan, tapi membantunya berdiri dan mencarikan tempat yang lebih nyaman. Baru setelah itu, seseorang siap dengan segala perih dan sakitnya proses penyembuhan.
__ADS_1