
"By, bangun. Udah jam tujuh," Harry mengetuk pintu kostnya beberapa kali, namun Eby tidak kunjung membuka pintu.
"Kebo banget sih, ni anak." Gerutunya sembari mengintip dari jendela kaca yang tertutup gorden.
"Pasti kecapekan dia," gumamnya lagi saat melihat dengan samar, Eby tidur nyenyak, memeluk guling miliknya.
Harry memutuskan membiarkan sepupunya itu untuk tidur lebih lama lagi. Ia kembali menuju kamar temannya, untuk menunggu di sana.
Hingga waktu menunjukkan pukul 09.00, barulah ia kembali mendatangi kamar kostnya.
"By," panggil Harry.
Pintu segera terbuka, menampilkan wajah cemberut Eby yang terlihat lucu.
"Kenapa nggak bangunin aku? Liat ini jam berapa? Masa baru pulang aku udah nginep di rumah orang, nggak pulang ke rumah dulu." Sungutnya kesal.
"Yeee, ngigo apa gimana ini anak? Heh, kamu kan yang minta dicariin hotel kemarin untuk tidur? Udah baik aku kasih tumpangan. Kemaren kamu ngomong gitu, mabok apa gimana?" Kesal Harry tidak terima dirinya disalahkan.
Eby menggaruk kepala, membuat rambutnya semakin berantakan.
"Niatnya kan cuman tidur sebentar, tapi kebablasan," lirihnya, namun masih bisa didengar oleh Harry.
"Dasar, kebo! Aku tadi udah bangunin kamu, tapi kamunya udah kayak orang pingsan. Nggak ada gerakan sama sekali. Mana ileran lagi."
__ADS_1
"Iih mana ada?"Harry terkekeh.
"Udah sana, mandi dulu trus kita berangkat. Ingat kamu harus kasih aku tips yang banyak. Aku sopir plus plus soalnya."
"Iih maunya." Eby melenggang masuk ke dalam kamar mandi milik sepupunya itu. Namun baru saja Harry hendak keluar, Eby kembali berteriak dengan menyembulkan kepalanya di celah pintu.
"Apa lagi?"
"Aku lupa, nggak ada bajuku di sini. Tolong ambil koperku yang warna navy ya. Bawa ke sini," sembari tersenyum kuda, Eby meminta tolong pada sepupunya.
Harry mendesah pelan. Tanpa mengatakan apapun, ia meninggalkan kamar kostnya, menuju parkir mobil untuk mengambil koper milik Eby.
Senyum tak pernah pudar dari bibir Eby, saat mobil melaju membelah jalan yang cukup padat siang ini. Rasanya ia sudah tidak sabar ingin melihat reaksi keluarganya saat melihat dia ada di depan rumah.
"Mau beli makan dulu nggak, By? Ada warung bek guling deket sini, mau coba?"
"Mmm mau sih, Ry. Cuman aku udah nggak sabar pengen ketemu ayah sama ibu." ucapnya. Namun beberapa detik kemudian ia menyadari sesuatu.
Sejak pagi sepertinya sepupunya itu belum sempat sarapan.
"Eh tapi, boleh deh. Nggak terlalu jauh kan?"
"Nggak kok, searah jalan pulang." sahut Harry, melajukan mobilnya sedikit lebih cepat.
__ADS_1
Setelah selesai urusan perut, mereka melanjutkan perjalanan tanpa singgah kemanapun lagi.
Dendang ceria Eby, mengikuti setiap lirik lagu yang diputar mengiringi perjalanan mereka.
Wanita itu tidak tahu, jika kebahagiaannya saat ini akan segera berakhir, berganti luka dan sakit hati.
🌟🌟🌟
Di rumah kedua orang tua Eby, adik laki-lakinya tengah menahan emosi, sebab ayah dan ibunya menahan pemudah yang baru duduk di semester tiga salah satu perguruan tinggi itu, pergi ke kota tempat di mana William tinggal.
"Tahan emosi kamu, Nak. Kita nggak bisa gegabah, menuduh orang tanpa bukti. Siapa tahu ini hanya fitnah. Sebaiknya kita tanya William terlebih dahulu." Nasihat sang ibu.
"Ini bukan fitnah Bu, Pak, ini fakta. Aku udah cek profil wanita itu. Dia beberapa kali posting foto laki-laki yang mirip sama si bajingan itu. Aku nggak mau mbak Eby sampai nikah sama pria macam dia!" Jiwa muda laki-laki bernama lengkap Nayotama Karleen itu bergejolak.
Eby adalah sosok yang sangat ia kagumi. Kakak yang penuh tanggung jawab, yang tidak pernah egois memikirkan dirinya sendiri saja.
Sang ibu menarik pelan tangan putranya, menjauh dari ruang keluarga di mana sang ayah tengah duduk dengan lesu.
"Ibu tau kamu sangat menyayangi kakakmu, Tama. Ibu juga sama. Rasanya tidak rela jika ada orang yang menyakiti dia. Tapi jangan tunjukkan kemarahanmu di depan ayah. Ingat, ayahmu juga sangat menyayangi mba Eby. Jangan sampai dia terus kepikiran sama masalah ini. Ayah baru saja baikan, bahkan masih terus harus kontrol sampai saat ini."
"Trus kita harus gimana, Bu? Masalahnya harus jelas sebelum mba Eby datang."
"Pelan-pelan kita pikirkan, toh dia baru pulang sebulan lagi, kan? Kita masih punya waktu untuk berpikir."
__ADS_1
Tama menarik nafas dalam lalu menghembuskan ya dengan kasar.
"Aku akan cari tau semua sejelas-jelasnya, Bu. Kalau sampai semua ini benar, aku nggak akan segan-segan memberi laki-laki itu pelajaran yang nggak bisa ia lupakan seumur hidupnya." ucapnya lalu meninggalkan sang ibu menuju ruang keluarga di mana ayahnya berada.