
Lampu sepeda motor Eby, menyorot seseorang yang berjalan dengan limbung di salah satu jalan kecil tidak jauh dari kostannya. Seorang pria dengan penampilan lusuh, melangkah tanpa alas kaki, dengan tangan memegang perut.
Eby merasa takut, hendak berputar arah, sebab ia mengira sosok di depannya adalah orang yang tengah mabuk atau seorang preman jalanan. Namun niatnya urung ia lakukan, saat mendengar suara lirih dari orang tersebut.
"Too loong," ucapnya lemah. Mencoba menggapai Eby yang berhenti sekitar sepuluh langkah darinya.
Eby membeku. Suara itu masih bisa ia kenali. Ia tidak memberi reaksi apapun, karena terkejut. Namun sedetik kemudian ia kembali berpikir, tidak mungkin itu dia.
Laki-laki itu menghentikan langkah, ia membungkuk memeluk perutnya. Dan tidak lama, ia jatuh. Tubuhnya limbung mencium aspal.
Eby memerhatikan sekitar. Takut kalau itu adalah sindikat perampokan. Ingin pergi, tapi hati kecilnya seolah melarang. Bagaimana kalau itu benar-benar seseorang yang sedang membutuhkan pertolongan? Akhirnya Eby memberanikan diri mendekat. Masih dengan sikap waspada, ia turun dan memeriksa keadaan orang yang hampir tidak sadarkan diri tersebut.
"Willi," lirihnya tercekat, ia tidak menduga mendapati mantan kekasih yang begitu menyakitinya tergeletak tak berdaya di pinggir jalan. Ternyata apa yang diduga sebelumnya, benar. Itu suara William.
Ingin abai dan tidak peduli, namun sisi manusianya menolak pergi. Seolah ada bisikan yang mengingatkan jika ia harus menolong laki-laki lemah tak berdaya itu.
"To loong, saaaa kiit," ucap Willi lagi. Matanya terpejam. Ia tidak tahu siapa sosok yang berdiri di depannya. Ia hanya menggunakan instingnya, jika orang itu bisa menolongnya.
Eby bingung, ia tentu tidak bisa membantu Willi sendirian. Alih-alih menyelamatkan, dia mungkin akan terkena masalah jika sesuatu yang buruk terjadi.
"Kamu kenapa, Will?" tanyanya bingung. Berjongkok dengan wajah panik. Ingin menyentuh, tapi ragu. Menoleh ke kanan dan kiri jalan, anehnya tidak ada satu pun kendaraan lewat di tempat itu.
"AAAA" Willi kembali mengulat perutnya. Berguling dengan lutut menyentuh dagu, ia terlihat sangat kesakitan.
__ADS_1
Eby semakin panik.
"Willi kamu kenapa?"
"To loong ba waa aku per giiii, inii saa kiiit," rintih laki-laki itu lagi..Di tengah kepanikan, Eby mencoba membawa Willi di belakangnya, namun karena keadaan Willi yang tidak memungkinkan, ia gagal membonceng mantan kekasihnya itu.
Eby kembali memapah Willi turun dari motor dan mendudukkannya di pinggir jalan. Peluh wanita itu bercucuran.
"Huuush!" desahnya setelah berhasil mendudukkan Willi kembali.
Eby nampak berpikir. Menatap William yang masih meringkuk, dan mengaduh. Ia lalu membuka tas selempangnya, mencari ponsel untuk menghubungi seseorang.
Setelah ia menenangkan pikiran, baru ia menemukan ide tersebut. Rupanya, kepanikan menumpulkan akal seseorang dalam menghadapi masalah.
"Aku lagi ada di jalan xx, kamu bisa datang ke sini segera? Ini gawat darurat," ucapnya saat seseorang yang ternyata adalah Harry sang sepupu, menerima panggilannya.
Setelah mendapat jawab "iya," Eby segera mengakhiri panggilannya.
Ia mendekati William, menatap dengan sedih sosok tak berdaya itu.
Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa laki-laki yang pernah begitu lama merajai hatinya itu, se-menyedihkan ini keadaannya?
Muncul rasa iba di hati Eby, ingin mengusap punggung yang terbalut kemeja kusut itu. Ingin memberi ketenangan, meski tak mampu mengurangi rasa sakitnya.
__ADS_1
Ia ikut merasa sakit, melihat sosok yang dulu begitu tampan, sempurna dan begitu menyayanginya itu, kini seperti seonggok daging tak berharga. Tersungkur di pinggir jalan, seperti tak memiliki tumpuan hidup. Namun sedetik kemudian, ia ingat betapa laki-laki itu melukainya. Mengkhianati hingga ia merasa hancur. Air yang mengembun di korneanya seketika ia hapus dengan kasar. Tak membiarkan butiran kristal itu membasahi pipinya.
Wajah Eby berubah dingin. Ingin segera pergi, namun terlambat. Deru mobil milik Harry menghentikan langkahnya. Mau tidak mau, ia kembali mendekati William.
"Ada apa, By?" Harry yang baru turun dari mobilnya, tidak melihat ada orang lain selain sang sepupu, seseorang yang tengah meringkuk di pinggir jalan.
"Ry, tolong bantu bawa dia ke rumah sakit," ucap Eby dengan wajah datar.
Harry mengikuti arah telunjuk Eby, dan baru sadar jika ada laki-laki yang memerlukan pertolongan.
"Astaga! Apa yang terjadi, By?" Tanya Harry bergegas mendekat. Ia dengan sigap mengangkat tubuh lemah itu, dan alangkah terkejutnya saat sadar jika itu adalah mantan kekasih Eby.
"Dia!" seru Harry hampir saja menghempas tubuh Willi, namun Eby menghalanginya.
"Jangan menyakitinya lagi, Ry. Tolong bawa saja dia ke rumah sakit."
"Gila! Nggak!" Benar saja Harry menghempas tubuh Willi tanpa perasaan.
"Ry! Dia bukan benda mati! Seenaknya---"
"Kamu lupa apa yang dia lakukan padamu?"
"Tentu aku tidak akan pernah lupa. Tapi ini bukan waktunya untuk membahas itu. Dia sekarat! Lihat wajahnya---" Eby tidak dapat meneruskan ucapannya saat menyadari bibir William sudah membiru.
__ADS_1
"Willi!! Harry cepat! Dia bisa mati!!" Teriak Eby, mengangkat tubuh lemah itu.