Luka Di Ujung Asa

Luka Di Ujung Asa
Bab 65


__ADS_3

Eby dan Ratih menghabiskan hari dengan melakukan banyak hal yang menyenangkan. Nonton bioskop, belanja, menghabiskan waktu mereka di salah satu mall terbesar di kota itu. Mengulang kembali cerita mereka saat di negeri orang, dulu. Setiap kali libur, Ratih atau Mahira pasti menyeret Eby untuk pergi keluar, menikmati kuliner, belanja pakaian, atau sekadar jalan-jalan menghilangkan penat.


"By, kamu pasti belum pernah kesini sebelumnya, ya?" tebak Ratih saat mereka menyusuri mall besar itu.


"Kok tau, sih?" tanya Eby dengan senyum masam.


..."Tau lah. Siapa yang nggak kenal Eby? Dulu aja kalau bukan aku atau Mahira yang seret kamu keluar, kayanya kamu nggak bakal tau kota Istanbul, deh. Apalagi sekarang, di sini kamu hidup sendiri. Nggak ad yang bakal narik-narik kamu untuk minta ditemani jalan, kan?"...


Eby kembali menampilkan senyum masamnya. Benar sekali tebakan Ratih. Dia hidup di dunia yang penuh hiruk pikuk, tapi dia menciptakan tembok tinggi yang sulit dilalui, hingga ia merasa aman dalam kesepiannya. Terlebih sifatnya yang sulit mengakrabkan diri dengan orang lain, membuatnya terlihat angkuh, hingga orang-orang baru enggan berteman dengannya.


"Trus kamu ngapain aja, By, kalau pas libur kerja? Masa iya diem di kamar terus?" tanya Ratih penasaran.


"Yaa, kadang pulang kampung, kadang ke rumah temen aku yang sering aku cerita itu, tapi seringan ambil kerjaan lain, sih. Ngumpulin duit, biar cepet kaya." Dengan sedikit terkekeh Eby menjawab pertanyaan Ratih.


"Eh, kamu pergi lama gini, apa pacarmu nggak nyariin?" Eby mengalihkan topik pembicaraan, agar Ratih tidak terus menyudutkannya dengan banyak pertanyaan.


"Nggak. Aku udah bilang kalau hari ini waktuku full sama kamu, jadi dia ok aja. Lagian dia juga mau ketemu sama temennya di sini. Mau reunian juga kayak kita,"


"Ooh dia punya temen di sini?" tanya Eby memastikan.

__ADS_1


Ratih mengangguk, menjawab pertanyaan Eby.


"Katanya sih dulu temen dekat, tapi orang itu menghilang karena patah hati dan salah paham sama keluarganya,"


"Ooh," Eby menganggukkan kepala tanda mengerti ucapan Ratih. Tidak berniat menanyakan lebih dalam cerita itu.


Mereka terus melanjutkan langkah tanpa arah tujuan yang pasti. Hingga Eby menyadari ponselnya berdering di dalam tas kecilnya. Wanita itu menghentikan langkah. Mencari tahu siapa yang menganggu hari baiknya saat ini.


"Tunggu bentar, Rat. Kakaknya Willi nelepon. Ada apa ya?" Eby bertanya pada dirinya sendiri.


"Hallo, Mba," sapanya setelah ia menerima panggilan.


"Aduh Mba, maaf. Aku nggak bisa. Aku lagi ada urusan," tolak Eby tidak ingin lagi berurusan dengan mantan kekasih dan keluarganya.


"Mba mohon, By. Kali ini aja, mba nggak tau harus minta bantuan sama siapa. Mba bingung, By." Suara Wilona bergetar, menandakan wanita itu sedang menahan tangis.


Eby merasa dilema. Bohong kalau dia sudah tidak peduli lagi. Sudut hatinya masih sangat menyayangi keluarga itu. Terlepas dari luka yang diciptakan William, keluarga itu pernah sangat menyayangi dan menjaganya. Dia bisa merasakan ketulusan kasih yang mereka berikan untuknya dulu. Apa ia harus mengingkari itu?


"By, apa mba harus memohon di kaki kamu, biar kamu mau ke sini? Kamu nggak kasihan sama bapak dan ibu? Mereka hancur saat ini, By. Kalau kamu nggak bisa lakukan ini untuk Willi, seenggaknya lakukan untuk orang tua Mba, kamu masih menyayangi mereka kan?" cecar Wilona lagi.

__ADS_1


"Aku nggak berani janji bisa apa nggak, Mba. Liat nanti ya, kalau sempat aku mampir," putus Eby akhirnya.


"Kenapa?" tanya Ratih saat Eby mematikan sambungan telepon. Wajah Eby berubah mendung, hingga membuat rasa penasaran Ratih semakin besar.


Eby menarik nafas malas. Ia menatap sang sahabat, berniat meminta pendapat wanita di sampingnya itu. Eby dibuat dilema oleh keadaan saat ini.


"Aku diminta ke rumah sakit, sama kakaknya si Willi, menurut kamu gimana, Rat?"


"Lho, ngapain?"


"Entah lah. Dia memohon gitu, biar aku mau ke sana. Tapi ...." Eby bingung memutuskan apakah ia datang atau tidak.


"Kalau kamu masih khawatir, sebaiknya dateng aja, tapi kalau males untuk ke sana ya nggak usah," saran Ratih.


Di sisi lain, orang tua dan kakak William hanya bisa menangis melihat keadaan laki-laki itu, yang hingga kini terus mengerang menahan sakit sembari menyebut nama Eby. Obat penenang dan penghilang nyeri yang diberikan dokter seakan tidak mempu mengatasi sakit yang diderita William.


"Gimana, Na? Apa Eby mau datang kesini?" tanya sang ibu.


"Entahlah, Bu. Semoga aja dia mau terketuk hatinya untuk datang. Kasihan Willi terus begini." Dengan mata sembab, Wilona menatap sang adik dari balik jendela kaca.

__ADS_1


__ADS_2