
Setelah puas menumpahkan kemarahannya, Eby memutuskan kembali pulang ke rumah.
Suasana sepi kembali menyambutnya. Motor milik Karina juga sudah tidak nampak. Ia tahu ibunya pasti sudah ke sekolah, tempatnya mengajar.
Eby melepas sendal dan membuka pintu rumah yang tidak terkunci. Ia melihat Lingga tengah duduk di sofa depan televisi.
"Yah," sapanya mendekati Lingga.
Ia bersikap seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya.
"Nontonnya upin-ipin, kayak anak TK aja," ucap Eby duduk di samping ayahnya. Ia juga meraih remote yang tergeletak di atas sofa. Mencari tayangan lain yang mungkin lebih menarik.
"Ayah sudah makan?" tanya wanita itu lagi, sambil matanya fokus ke depan.
"Sudah," sahut Lingga pelan.
"Kamu, tadi dari mana saja?"
"Liat matahari terbit, Yah." sahut Eby mengalihkan pandangannya ke arah sang ayah.
Lingga nampak menarik nafas dalam. Matanya terpejam, kepalanya ia sandarkan pada sandaran sofa.
"By, gimana masalah kamu sama Willi?" tanya laki-laki itu akhirnya.
Eby meletakkan remote yang sebelumnya masih ia genggam. Ia juga ikut menarik nafas dalam sebelum menjelaskan pada ayahnya.
Sejujurnya ia tidak ingin apa yang menimpanya, diketahui oleh Lingga. Namun ia tidak mungkin bisa menyembunyikan masalahnya berlarut-larut.
__ADS_1
"Tinggal nunggu dia balikin uang aku aja, Yah. Setelah itu, aku dan dia tidak akan ketemu lagi." Sakit kembali Eby rasakan, setiap kali mengingat semua kepahitan yang ia alami.
"Aku kasih dia waktu seminggu, tapi sampe sekarang belum ada kabar. Tunggu aja sampai akhir Minggu ini, kalau nggak ada itikad baiknya, terpaksa aku tuntut dia."
"Memangnya berapa jumlah yang kamu tuntut ke dia?"
"Sesuai jumlah yang aku selalu kirim, Yah. Sekitar 150juta. Harusnya kalau sesuai surat perjanjian, rumah itu seutuhnya jadi milikku tapi aku nggak mau. Cukup uangku aja dikembalikan, aku sudah bersyukur."
Lingga nampak menyimak dengan baik.
"Setelah ini, apa rencana kamu selanjutnya, By? Kamu nggak berniat untuk beli rumah sendiri?"
Pertanyaan sang ayah membuat Eby mengerutkan kening. Merasa aneh, seolah Lingga ingin ia pergi dari rumah itu.
"Aku pengen kerja lagi, tapi belum tau, Yah. Ada tawaran di luar, tapi rasanya berat untuk kembali jauh dari kalian,"
Lingga diam beberapa saat. Laki-laki itu nampak memikirkan sesuatu, tapi sulit untuk ia ucapkan pada anak sulungnya.
Ia tidak ingin membuat ayahnya berpikir keras. Tapi ia harus tau kebenaran dari kedua pihak. Apakah ada yang tidak ia ketahui selama ini? Ada banyak sekali perubahan dalam keluarganya, yang membuat ia tidak bisa mengambil sikap.
"Apa yang sudah ibumu ceritakan kemarin?" tanya Lingga menatap manik mata Eby.
"Aku mau mendengar dari versi ayah, bukan mau menjelaskan apa yang ibu ceritakan. Katakan saja kegusaran hati ayah."
"Menurut kamu, wajar nggak seorang laki-laki, duda, sering mengunjungi iparnya di tempat kerja?"
"Maksud ayah?" Eby terkejut mendengar ucapan ayahnya. Pikirannya jauh kemana-mana, membuat dadanya berdebar hebat.
__ADS_1
Mungkinkah ibunya selingkuh?
"Dari semenjak ayah sakit, pamanmu sering datang kemari, menjenguk ayah. Kadang dia datang sendiri, kadang sama anaknya. Ayah senang, karena ternyata orang-orang disekitar ayah masih perduli. Tapi semakin lama, ayah jadi merasa semakin aneh. Peran ayah sebagai suami merasa tergantikan oleh dia. Angga sering mengantar ibumu ke seminar-seminar, atau kegiatan apapun yang berlangsung di luar kota. Sering juga ayah dengar gosip, kalau pas ngobrol sama tetangga di depan rumah, mereka membicarakan si duda dan iparnya. Memang tidak menyebut nama, tapi ayah merasa mereka membicarakan ibumu. Yang katanya semakin akrab, yang katanya semakin mesra, bahkan ucapan yang tidak pantas pun ayah pernah dengar. Itu juga yang membuat ayah jarang keluar rumah. Lebih baik di dalam, agar pikiran ayah tidak diracuni oleh omongan-omongan di luar sana. Beberapa kali sudah ayah katakan pada ibumu, untuk menjaga jarak. Tidak enak didengar di telinga ayah, omongan orang. Tapi kamu tau sendiri, ibumu wanita yang punya pendirian. Kalau menurut dia benar, maka ia akan melakukannya tanpa perduli orang memandang seperti apa. Mungkin memang mereka tidak memiliki hubungan, saat ini. Tapi ayah yakin seribu persen, kalau pamanmu memiliki rasa pada ibumu. Mungkin hanya menunggu ayah tiada saja, pamanmu pasti secara terang-terangan akan mendekati ibumu."
"Ayah! Jangan ngomong gitu," tanpa terasa air mata Eby meleleh membasahi pipinya.
Lingga bercerita dengan tenang, namun Eby tahu, ayahnya memendam sakit yang teramat sangat di hatinya. Sakit yang semakin menggerogoti kesehatannya. Yang membuat wajah laki-laki itu jauuh lebih tua dari umurnya.
"Ada banyak perbedaan pemikiran antara ayah dan ibumu, yang semakin kesini, semakin nampak terang. Dulu, saat kamu dan Tama masih kecil, ayah masih mampu memberi nafkah, ayah masih bisa mengendalikannya. Masih bisa mengatur keluarga ini, agar sesuai dengan yang ayah harapkan. Ibumu memberi pendidikan yang baik dan tegas, di bawah pengawasan ayah. Tapi semakin ke sini, terlebih saat ayah sudah tidak bisa lagi mencari nafkah, ayah kehilangan suara. Memang, ibumu masih sering bertanya pada ayah tentang ini dan itu, tapi tetap keputusan yang akan ia ambil adalah hasil pemikirannya sendiri. Seperti masalah Elin. Anak itu dari awal kamu tau sendiri, paling dimanja oleh ibumu. Apapun alasannya, memanjakan anak terlalu berlebih tidaklah benar. Tapi ibumu tetap melakukannya. Dia salah memberi kasih sayang seperti itu pada Elin. Tapi suara ayah hanya sebuah hembusan angin di telinga ibumu. Tidak ada artinya."
Eby semakin tercengang mendengar curahan hati sang ayah. Rupanya ada banyak beban yang laki-laki itu pendam seorang diri, di dalam hatinya yang rapuh.
"Tapi ibu harus sadar akan kekeliruannya, Yah. Kenapa ayah harus pasrah seperti ini? Apapun kondisi ayah, ayah tetap adalah kepala keluarga. Ayah harus tetap didengarkan, ayah harus tetap dihormati."
Lingga menggeleng.
"Ayah tidak mampu menjadi kepala keluarga, By. Ayahmu ini, bukan seperti dulu lagi. Ayah tidak punya kuasa. Biarkan saja seperti ini."
"Kenapa ayah pasrah, Yah?"
"Umur ayah sudah tidak panjang lagi, ayah menerima takdir yang sudah Tuhan gariskan untuk ayah. Sesuatu yang sudah rusak, tidak usah diperbaiki lagi. Biarkan saja hancur. Jangan mengorbankan diri untuk membuatnya utuh lagi. Kamu akan menyakiti dirimu sendiri. Cukup jaga diri kamu dan Tama saja. Ibu dan Elin, biarkan mereka dengan dunia dan kebenaran mereka sendiri."
"Yah ...."
"Sini peluk ayah. Sudah lama ayah tidak merasakan anak-anak bermanja dengan ayah," ucap Lingga menghentikan protes anaknya.
Eby mendekat, memeluk erat laki-laki yang menjadi cinta pertamanya itu.
__ADS_1
Dengan berurai air mata, Eby memandang sekeliling rumah dari balik punggung ayahnya.
Rumah ini, ternyata hanya bangunannya saja yang sama, tapi jiwa-jiwa di dalamnya sudah berbeda. Eby bahkan tidak mengenali siapapun di sini. Bahkan dirinya sendiri, ia tidak tahu.