Luka Di Ujung Asa

Luka Di Ujung Asa
Bab 32


__ADS_3

Eby keluar dari kamar setelah selesai melakukan panggilan telepon dengan Harry. Suasana rumah terasa sepi, tidak ada satu pun orang rumah yang dapat ia temui.


"Buuu ...." panggilnya di depan kamar kedua orang tuanya.


"Iya, nak. Sebentar."


Karina membuka pintu dengan pelan.


"Ada apa? Ibu masih urus ayah," ucap ibu tiga anak itu.


"Ayah sakit?" tanya Eby, sebab tidak biasanya Lingga minta diurus.


"Iya. Tadi kepalanya mendadak sakit. Tapi sudah ibu kasih obat, sekarang lagi istirahat di dalam." ucap Karina sembari menutup pintu.


Mereka berdua berjalan beriringan menuju ruang tamu.


"Elin belum pulang, Bu?" tanya Eby lagi, saat menyadari sejak pagi ia belum sempat melihat adik bungsunya.

__ADS_1


Karin menarik nafas panjang, sebelum menjawab.


"Belum. Katanya mau nginep di rumah temennya, malam ini." ucap Karina dengan menundukkan kepala.


Eby menatap sang ibu dengan penuh selidik. Ada apa sebenarnya? Kenapa ibunya tidak bisa memberi ketegasan yang sama pada Elin, seperti yang dulu wanita itu lakukan terhadapnya? Bahkan pada Tama sekalipun, Karina dulu sangat tegas dan disiplin.


"Bu,"


"Ibu tau, By. Ini semua salah ibu." Karina memotong ucapan sang putri.


"Ibu yang salah, karena terlalu memanjakannya. Tapi ibu bisa apa? Semua sudah terlanjur terjadi. Watak Elin yang keras dan nekat, membuat ibu nggak berani terlalu menekannya."


"Ibu sudah sering menasihatinya, By. Dia sudah berjanji akan menjaga dirinya, di luar sana."


"Dan ibu percaya gitu aja?"


"ibu nggak punya pilihan lain, By. Ibu hanya berusaha menebalkan perasaan itu, demi ketenangan batin ibu."

__ADS_1


"Ibu ingat, dulu ibu nggak semudah ini percaya dengan ucapanku, bahkan ucapan Tama sekalipun. Lalu untuk Elin? Apa di antara kami bertiga, hanya dia yang layak mendapat rasa itu?" desak Eby lagi.


Ada rasa kecewa yang merayap mencengkeram hatinya, menyadari sang ibu tidak memberi perlakuan yang sama terhadap ketiga anak-anaknya.


"Bukan begitu, By. Kamu nggak akan bisa mengerti."


"Lalu apa Bu? Ibu sadar nggak? Sikap ibu ini, selain menciptakan kecemburuan diantara kami, ibu juga memberi celah untuk Elin melakukan kesalahan. Ibu nggak takut, dia melakukan hal di luar batas yang berakibat fatal terhadap masa depannya?" cecar Eby sedikit emosi.


Pantas saja selama ini ibunya dan Tama acap kali berselisih faham. Karina terlalu berbelit, menjelaskan alasan sikapnya yang terlalu longgar pada Elin.


Eby menatap wajah suram sang ibu. Dapat ia lihat ada beban yang tidak bisa wanita itu bagi, bergelayut menutup binar bahagia di matanya. Kabut yang mungkin tidak bisa dilihat oleh Tama, sebagai seorang anak laki-laki.


Eby mencoba meredam emosi, berusaha mencari sudut pandang berbeda di dalam kepalanya, demi mendapat jawaban terbaik.


"Bu, aku tau, ibu menyayangi kami dengan porsi yang sama. Diantara kami bertiga, tidak ada yang ibu anggap terlalu buruk, atau pun terlalu baik. Hanya saja, yang aku nggak ngerti, kenapa ibu memberi kami perlakuan yang berbeda? Jika dulu aku dan Elin tumbuh besar bersama, mungkin aku akan marah dengan sikap yang ibu tunjukkan. Pasti aku merasa ibu lebih menyayanginya. Tapi kini aku sudah dewasa, Bu. Aku tau sikap tegas ibu untuk kebaikanku. Lalu, sikap ibu pada Elin, apakah karena ibu tidak menyayanginya? Nggak kan, Bu?"


Karina menggelengkan kepala, dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


"Kmu ingat dulu, By? Kita pernah hampir kehilangan Elin. Kamu masi ingat perjuangan kita, untuk menyelamatkannya? Bahkan ayah dan ibu menjual banyak aset untuk pengobatannya. Saat itu ibu berjanji, jika dia bisa selamat dan tumbuh dengan sehat, apapun yang dia mau akan ibu turuti. Tidak akan ibu biarkan ada air mata menetes di pipinya. Itu sebabnya, ibu nggak kuasa untuk memarahinya, atau pun mengekang dia. Setiap dia bersedih, bayangan saat dia sakit dan terbaring lemas di rumah sakit, selalu menghantui ibu." Karina mengungkapan isi hatinya.


"Jadi ibu merasa takut?" tanya Eby dengan nada tidak percaya.


__ADS_2