Luka Di Ujung Asa

Luka Di Ujung Asa
Bab 47


__ADS_3

Eby pulang dengan dada bergemuruh hebat. Sejak dari warung bubur, ia sudah ingin menghubungi sang adik, namun sekuat tenaga ia tahan keinginannya itu.


Setelah menyiapkan dan membawakan makanan untuk Lingga, Eby segera mencari ibunya untuk ia ajak bicara.


Wajah serius Eby, menghentikan niat Karina untuk menolak, meski sejujurnya ia enggan mencari tahu apa yang ingin dibicarakan sang putri. Ia lelah dan ingin segera beristirahat.


"Telepon Elin sekarang, Bu," titah wanita itu saat mereka berdua sudah duduk di teras depan. Sengaja mencari tempat yang agak jauh, agar Lingga tidak mendengar obrolan mereka.


Karina terkejut. Kenapa mereka kembali membahas soal Elin? Bukankah beberapa saat lalu, mereka sudah membahasnya?


"Untuk apa, By? Kamu kenapa jadi sama kayak ayahmu sih? Curigaa terus sama orang lain?" Marah Karina pada anaknya.


Eby memejamkan mata, mencoba menahan kesal. Tidak mungkin ia membentak sang ibu, namun bebal dan keras kepala wanita yang melahirkannya itu sungguh menguras emosinya.


"Ini untuk terakhir kalinya aku akan ikut campur soal anak itu, Bu. Kalau dia memang benar-benar sesuai ucapan ibu, aku akan lepas tangan setelah ini. Tapi sekarang, telepon dia, suruh pulang." Eby tidak mau mendengar sanggahan Karina lagi. Ia menatap tajam ke arah wanita paruh baya di depannya.


Karina menarik nafas, lalu beranjak mengambil ponsel di dalam kamarnya.

__ADS_1


Selang beberapa saat, wanita itu kembali dengan wajah tidak enak dipandang.


"Sebenarnya kamu kenapa sih, By? Kenapa kamu seolah curiga sekali pada adikmu itu? Ibu sudah bilang kan, kalau dia pergi sama teman-temannya? Kamu merasa iri? Karena dulu ibu tidak memberi kebebasan yang sama untuk kamu?" tanya Karina dengan suara tinggi.


"Untuk apa aku iri, Bu? Aku hanya merasa heran, sehebat apa Elin merayu ibu, hingga ibu bisa sepercaya ini terhadapnya?"


Karina tidak menyahut, hanya mendengus dengan mata menatap ke arah jalan kecil di depan rumahnya.


"Dia terbuka dalam segala hal pada ibu, By! Sesuatu yang tidak pernah kamu lakukan dulu. Dia ceritakan apapun kegiatannya, sehingga ibu tau, meski dia pergi dengan teman-temannya, namun ia bisa menjaga diri. Meski memang anak itu sering kali bersikap jutek, tapi ibu tahu, dia anak yang baik. Itu salah satu alasan selain memang ibu takut kehilangan dia karena janji itu."


Eby bosan mendengar ucapan Karina. Seolah buta oleh sikap anak bungsunya itu, Karina selalu membela Elin dalam keadaan apapun.


Karina nampak terkejut, ia menyangkal ucapan Eby, membuat wanita itu semakin kesal.


"Nggak mungkin Elin begitu! Mungkin kamu salah orang. Bisa jadi Sisil yang lain, kan?"


"Terserah ibu saja mau percaya atau tidak," sahut Eby acuh.

__ADS_1


Karina kembali masuk ke dalam rumah.


"ibu akan telepon dia lagi," ucap wanita itu.


Eby hanya mengangkat bahunya, tanpa membalas ucapan sang ibu.


Sesungguhnya ia lelah. Amat sangat lelah. Masalah seolah tidak pernah berhenti datang menghantam kehidupannya. Belum usai satu masalah, muncul masalah baru lagi, dan lagi. Semua menumpuk, menggulungnya dalam kerumitan yang tidak berujung pangkal. Membuatnya merasa lelah dan ingin menyerah. Namun ia tidak menemukan arti kata menyerah saat ini. Apakah berhenti perduli, dan memilih acuh? Atau harus pasrah membiarkan sesuatu yang tidak benar terus terjadi? Atau apakah ia harus pergi meninggalkan semuanya?


Pikiran Eby berkelana jauh, memutar kembali semua hal yang sudah terjadi dalam hidupnya. Hingga tanpa terasa jarum jam menunjuk angka 11 malam.


Udara dingin di luar sudah mulai menusuk tulang, namun yang ditunggu belum menampakkan batang hidungnya. Eby memilih masuk ke dalam rumah.


"Elin sudah datang, By?" tanya Karina saat melihat Eby. Rupanya wanita itu juga masih menunggu anak bungsunya.


"Belum," sahut Eby malas. Ia memilih melenggang menuju kamar, meninggalkan sang ibu yang terlihat gusar.


"Kira-kira kemana adikmu itu ya, By?" tanya Karina lagi.

__ADS_1


"Mana aku tau, Bu? Ibu kan yang kasih dia ijin untuk pergi?" ketus Eby lalu masuk ke dalam kamarnya.


Biarlah dia memikirkan sendiri kelakuan anak kebanggaannya. Pikir Eby.


__ADS_2