Luka Di Ujung Asa

Luka Di Ujung Asa
Bab 67


__ADS_3

Eby tidak yakin apa yang diucapkan orang tua William itu benar. Namun ia akan mencoba membantu sebisanya. Jika dengan ucapan tulusnya bisa membawa William kembali seperti sedia kala, bukankah itu lebih baik?


Melihat sorot mata penuh harapan dari keluarga William, membuat Eby merasa tidak tega. Ia teringat akan ayah dan ibunya di rumah. Bagaimana jika mereka ada di posisi orang tua Willi saat ini?


Dengan ditemani ibu William, Eby mendekati ranjang tempat Willi berbaring. Dengan pelan ya berkata, "Will, ini aku Eby. Kamu kenapa jadi gini sih, Will. Kamu nggak kasihan sama bapak, sama ibu? Mereka udah tua lho. Mereka butuh ketenangan, butuh banyak waktu untuk istirahat. Jangan bebani mereka dengan sakit kamu ini. Bangun ya Will, cepet sehat. Kakak kamu juga udah berapa hari nggak masuk kerja, karena harus urusin kamu? Apa dia nggak dipecat nanti, kalau kebanyakan libur?" ucap Eby, sembari mengusap kening Wiliam yang masih terlelap. Laki-laki itu baru saja tidur, setelah beberapa saat lalu meronta menahan sakit.


Eby menarik nafas dalam untuk memulai lagi membuka suara. Ia menanamkan dalam hati dan pikirannya, kalau apa yang diucapkan karena kesadaran dan keikhlasan. Ia ikhlas memaafkan, dan dengan tulus mengharapkan kesembuhan mantan kekasihnya itu.


"Will, aku udah maafin kamu. Aku ikhlas maafin kamu. Jangan bebani diri kamu dengan penyesalan yang tidak berarti. Jangan kurung diri kamu dalam lembah keterpurukan seperti ini. Bangkit, Will! Bangkit untuk memperbaiki diri. Relakan hubungan kita berakhir. Ini adalah garis hidup yang harus kita lewati. Takdir Tuhan yang dengan ikhlas harus kita jalani," bisik Eby di telinga william.


Mata William terbuka. Menatap dengan sayu, wajah mungil yang ada di depannya kini.


"By," ucapnya dengan suara bergetar.


"Maafin aku." lanjutnya lagi.


Tangan kurusnya mencoba meraih wajah Eby.


Eby tersenyum. Dibiarkannya William melakukan apa yang diinginkan. Mengusap lembut pipi seputih pualam itu, dengan tangis yang tak bisa laki-laki itu tahan.

__ADS_1


Diantara isak kesedihan dan rasa sakit yang masih kuat mencengkram perutnya, William berkata, " Terima kasih udah mau datang, By. Kamu penyemangat aku."


Eby tidak bisa mengatakan apapun. Ia tidak sanggup. Bohong kalau hatinya tidak bergetar mendengar ucapan William. Namun kesadarannya akan kenyataan, membuat ia hanya mampu menampilkan senyum kecut.


Kisah mereka telah usai, kini yang terbentang di depan sana adalah dua jalan berbeda yang masing-masing harus mereka tempuh sendiri. Eby tidak mungkin menyamakan langkahnya dengan laki-laki beristri itu lagi.


"Aku udah datang temuin kamu di sini. Aku harap, kamu mau berjuang untuk sembuh. Demi orang-orang yang sayang sama kamu. Kamu mau kan? Jangan membantah apa yang dikasih tau ibu atau bapak, atau mba Wilona. Mereka ingin yang terbaik untuk kamu," pesan Eby, masih tetap mengusap kening hingga rambut William dengan lembut.


"Iya, aku akan melawan sakit ini, By. Demi kamu," sahut William.


Eby tidak menjawab. Ia tidak mau mematahkan sangat Willi. Berharap semoga itu bisa membantu William untuk bangkit.


Sejatinya, penyakit apapun itu berpusat di otak. Keinginan dan kemauan seseorang untuk sembuh, sangat besar pengaruhnya dalam proses pengobatan. Mungkin itu yang Willi tidak miliki selama ini. Putus asa dan penyesalan yang menjerat hatinya, semakin membuat ia merasa hancur dan terpuruk.


"Aku pamit ya. Ibu dan bapak jaga kesehatan, jangan sampai ikutan sakit. Mba juga, jaga kesehatan. Maaf aku nggak bisa lama-lama di sini," ucap Eby.


"Makasih banyak, nak. Makasih karena kamu masih peduli sama Willi."


Eby tersenyum. Tidak menanggapi ucapan wanita paruh baya itu.

__ADS_1


Disaat bersamaan, ponsel Ratih berdering. Rupanya sang kekasih menghubunginya sejak beberapa saat lalu.


"By, tunangan aku nelepon," bisiknya di telinga Eby.


"Angkat aja, Rat," sahut Eby. Kesempatan itu juga ia gunakan untuk pergi meninggalkan ruangan William.


"Huuh!" desah Eby saat sudah berada di luar gedung rumah sakit. Ada perasaan lega yang sebelumnya belum pernah ia rasakan. Mungkin selama ini ia belum memaafkan laki-laki yang dicintainya itu dengan tulus. Hingga masih ada beban mengganjal di hatinya. Kini, melihat keadaan William yang memprihatinkan, segala luka dan sakit hatinya luruh. Tidak lagi ada dendam, yang ada justru rasa iba, rasa sedih sebab biar bagaimanapun juga, William pernah mengisi hari-harinya dulu.


"Tunangan aku mau jemput ke sini, By. Kita tunggu di ...." Ratih melihat kiri kanan sekitar rumah sakit, berharap menemukan tempat yang tepat, yang mudah dijangkau kekasihnya.


"Indomaret depan aja, Rat. Biar gampang, nggak usah masuk jalan kecil," ucap Eby memberi saran.


"Oh ya bener juga. Kasihan nanti mereka susah nyarinya," kekeh Ratih lagi.


"Sama siapa dia bakal ke sini? Memang dia udah tau jalan?" tanya Eby lagi, sebab yang dia tahu ini pertama kalinya Ratih mengajak laki-laki itu datang ke Indonesia.


"Sama temennya, yang aku bilang dia mau reunian itu. Eh sekalian nanti kamu kenalan sama temennya Ahmed. Siapa tau cocok, ya kan?" sambung Ratih lagi.


"Ih apaan sih, kamu aja yang keluar negeri. Aku cinta produk dalam negri soalnya," sahut Eby yakin.

__ADS_1


"Nggak boleh gitu, By. Jalan hidup nggak ada yang tau. Kalau takdir kamu ternyata sama orang luar, gimana?"


Eby mengangkat bahunya acuh. Siapa yang peduli soal asmara saat ini? Yang ada di otak Eby sekarang hanya bekerja, mengumpulkan uang untuk pengobatan ayahnya.


__ADS_2