
Eby kehabisan kata menghadapi cara berpikir ibunya. Cinta dan rasa takut kehilangan, rupanya bisa melumpuhkan logika seseorang, bahkan yang berpendidikan tinggi sekalipun.
Bukankah Karina adalah seorang pengajar? Harusnya ia tahu, kenakalan remaja itu bisa terjadi, bukan hanya karena sifat dasar dari anak itu sendiri, tapi juga karena pengaruh lingkungan dan kurangnya pengawasan orang terdekat.
"Telepon Elin sekarang, Bu. Minta dia untuk pulang." ucap Eby akhirnya, setelah terdiam beberapa saat.
Mungkin sang ibu tidak bisa bertindak tegas, Karen terikat janji konyol di masa lalu. Tapi dia bisa, kan?
Wajah serius putri pertamanya, membuat Karina tidak bisa membantah. Berbeda dengan Tama yang masih bisa ia ajak berdebat, Eby jauh lebih tegas meski dia seorang perempuan.
"Tapi ibu mohon, jangan marahi dia, By. Ibu nggak mau sesuatu yang buruk terjadi padanya." pintanya sebelum mengambil ponsel di dalam kamarnya.
Eby hanya bisa menarik nafas sembari memijat belakang lehernya yang terasa pegal.
Beban pikiran yang sejak lama ia pendam, kini semakin bertambah setelah tiba di kampung halaman.
Baru setengah masalahnya dengan William terselesaikan, kini ada masalah baru yang mengantri, menunggu untuk dibereskan.
Dan apa yang ibunya katakan barusan? Jangan memarahinya? Lucu sekali.
__ADS_1
Hal buruk tidak hanya bisa terjadi karena kemarahan seorang Eby atau pun Tama. Yang harusnya paling ditakutkan Karina adalah pergaulan bebas dan liar Elin, yang tidak terkontrol.
Apa saja bisa terjadi di luar sana. Drugs, **** bebas, kriminal, dan hal buruk lainnya, bergentayangan mencari celah dan mangsa. Dan anak-anak seperti Elin-lah yang memiliki peluang besar, menjadi santapan lezat untuk semua hal buruk tersebut.
Sembari menunggu kedatangan adik bungsunya, Eby memutuskan membuat mie instan dan menyantapnya seorang diri. Waktu makan malam sudah berlalu, ayah dan ibunya sudah makan terlebih dahulu, sementara Tama sudah kembali ke kota tempatnya menuntut ilmu.
Kenangan saat di Turki, muncul dan menari di kepalanya. Makanan rakyat murah meriah itu, acap kali menjadi pengusir rindunya akan kampung halaman.
Ia dan dua sahabatnya sering menghabiskan malam bersama, sambil menikmati makanan berbahan tepung tersebut. Mengingat semua itu, Eby baru sadar ia belum sempat memberi kabar pada Ratih dan Mahira.
'Nantilah aku hubungi mereka,' batin Eby sambil terus menyuap mie di hadapannya.
Eby sibuk dengan pikirannya sendiri, hingga tidak menyadari, gadis yang ditunggunya sudah pulang.
"Ngapain suruh aku pulang? Kakak tau nggak, kakak udah ganggu keseruan aku dan teman-teman?!" marah Elin.
Eby mendongak saat mendengar suara ketus di depannya. Niat untuk menyuap mie terakhir pun batal. Ia memilih meletakkan sendoknya kembali.
"Dari mana aja kamu?" tanyanya, mengabaikan kekesalan Elin.
__ADS_1
Wajah mengintimidasinya jelas nampak, membuat nyali Elin menciut.
"Jawab! Keluyuran ke mana kamu, sampai harus ditelepon dulu baru ingat pulang?"
Elin menunduk, tidak berani menatap kakaknya yang terlihat marah. Hilang sudah wajah arogan yang beberapa saat lalu gadis SMA itu tampilkan.
"By," suara Karina mengalihkan perhatian kakak beradik tersebut.
Elin segera mendekati ibunya, dan menangis di belakang punggung wanita yang telah melahirkannya itu.
"Balik Elin. Duduk di tempatmu yang tadi." titah Eby lagi, masih dengan sorot mata tajamnya. Ia harus tegas kali ini, sebelum semuanya terlambat.
Elin menggeleng. Meminta perlindungan dengan terus menarik lengan baju ibunya.
"Sudah, By, jangan membuat adikmu ketakutan. Nanti biar ibu yang bicara sama dia." Seperti biasa, Karina mencoba melindungi si bungsu.
"Sekarang kalau mau bicara, Bu. Nggak perlu nunggu nanti."
"Dia baru pulang, biarkan di istirahat dulu."
__ADS_1
"Dia tidak akan mati, hanya karen lambat beberapa jam untuk istirahat. Lagi pula, tempat tinggal temannya kan, nggak jauh dari sini, aku rasa dia nggak terlalu capek hari ini." sahut Eby lagi.
"Kamu dengar apa yang mba katakan? Kembali ke tempat dudukmu!"