Luka Di Ujung Asa

Luka Di Ujung Asa
Bab 31


__ADS_3

Eby sebisa mungkin tetap tersenyum dan terlihat biasa saja, saat menjelaskan apa yang ia dan Tama lakukan beberapa saat lalu.


Ia tidak ingin kedua orang tuanya khawatir, dan itu membuat kesehatan mereka terutama sang ayah, terganggu.


"Jadi, kalian benar-benar sudah berpisah?" Karina kembali menanyakan prihal hubungan anaknya.


Bukan apa-apa, ibu dari tiga anak itu merasa sayang, hubungan mereka sudah terjalin begitu lama, dan Willi juga sering membantu keluarga mereka sejak dulu.


Laki-laki yang mengenalkan diri secara gentel padanya dan sang suami, meminta ijin untuk memacari anaknya, mau berbaur dengan keluarga, selalu ia andalkan dulu saat Eby belum berangkat, dan sudah ia anggap seperti anak sendiri. Terlepas dari apa yang laki-laki itu lakukan pada putrinya, di mata Karina, William adalah laki-laki yang baik.


"Iya lah, Bu. Memangnya ibu mau, mba Eby dijadikan baby sitter anak dari selingkuhan si William itu?" Tama menjawab dengan sedikit kesal.


Ia merasa sang ibu seolah bersedih menerima kenyataan jika kakaknya tidak jadi menikah dengan Willi.


"Ya nggak sih. Tapi ... Ya sudah lah." Karina menggelengkan kepalanya samar.


"Kamu jangan terlalu memikirkan ini, By. Apa yang kamu hadapi memang pahit, tapi ayah percaya, kelak kamu akan mendapatkan kebahagiaan yang lebih dari pada ini. Suatu saat, pasti ada laki-laki yang mencintai kamu dengan tulus dan membawamu pada kebahagiaan." Lingga mencoba memberi semangat untuk anaknya.


Eby hanya menampilkan senyum tipis.


Laki-laki yang memberi kebahagiaan? Hah, rasanya Eby tidak ingin dekat dengan makhluk ciptaan Tuhan bernama laki-laki lagi.


Baginya cukup satu Willi yang melukainya, tidak ingin ada Willi Willi yang lain, dalam hidupnya.


Setelah berbincang beberapa saat dengan kedua orang tuanya, Eby pun pamit untuk beristirahat.


"Yah, Bu, aku istirahat dulu ya. Capek banget." ucapnya ingin segera merebahkan tubuh di kasur.


"Iya nak, istirahat lah." ucap Lingga dan Karin bersamaan.

__ADS_1


Eby melangkah dengan gontai menuju kamar. Kepalanya terasa berdenyut sakit, sebab terlalu banyak hal yang berputar, berlarian, dan mengacaukan perasaan.


Samar ia masih dapat mendengar perbincangan Tama dengan kedua orang tua mereka.


Adik laki-lakinya itu menanyakan keberadaan si bungsu Evelin, yang seperti biasa menghilang dari pagi sampai sore, saat hari libur seperti sekarang ini.


Suara Tama yang terdengar kesal, dan ibu yang selalu membela Elin, membuat suasana rumah menjadi tidak nyaman.


Eby memilih menutup telinganya dengan bantal. Perdebatan yang sering terjadi, membuat ia semakin ingin pergi menjauh.


Bukan tidak perduli pada adik perempuannya, hanya saja ia sendiri masih berkutat dengan masalah, belum bisa berdamai dengan kenyataan yang kini tersaji di depan mata, dan sekarang ada masalah baru lagi yang mendesak untuk diselesaikan.


🌟🌟🌟


Dering ponsel membangunkan Eby dari tidur lelapnya. Ia sampai tersentak saat menyadari di luar, langit sudah gelap.


"Halo," sapanya dengan suara khas bangun tidur.


"Ya ampun, By. Kamu baru bangun?" Suara Harry menggema dari seberang.


"Hmmm," sahut Eby malas.


"Dasar mata bantal." Ejek Harry, namun tidak mendapat respon dari Eby. Wanita itu hanya diam tanpa membalas satu kata pun pada sepupunya.


"By," panggil Harry lagi.


"Iya, Ry."


"Kamu nggak pa-pa kan?" tanya Harry, kali ini dengan nada serius.

__ADS_1


Dia tau prihal kabar Eby yang batal menikah.


"Kalau ada apa-apa kamu boleh cerita sama aku. Jangan dipendam sendiri. Aku nggak mau kamu depresi nanti." lanjutnya lagi, saat tidak mendengar reaksi dari lawan bicaranya.


"Aku nggak pa-pa kok. Thanks ya Ry." ucap Eby akhirnya, setelah diam beberapa saat.


"Bener?"


"Iya bener."


"Trus apa rencana kamu sekarang?"


"Entahlah, Ry. Aku lagi dilema. Banyak yang harus aku pertimbangkan sebelum mengambil keputusan."


"Iya. Jangan terburu-buru. Jangan kebawa emosi. Pikirkan semua baik dan buruknya."


"Hmmm." Eby kembali hanya membalas dengan gumaman.


Menyadari Eby yang enggan dikorek masalah pribadinya, Harry mengalihkan topik pembicaraan.


"Kamu, nggak mu main ke kota, gitu By? Hilangin suntuk. Aku mau kok jadi sopir pribadi kamu beberapa hari. Aku ajak kamu jalan-jalan." tawar Harry.


"Liat nanti aja ya Ry. Hari ini aku lagi males mikir. Rasanya pengen tidur terus." curhat Eby membuat Harry terkekeh kecil.


"Dasar kebo. Kamu tuh happy kayak kemarin, tidur. Patah hati, juga tidur. Ti ati muka mu nanti kembung kayak bantal." Ledek Harry sambil tertawa.


"Nggak lah, ada-ada aja kamu." balas Eby.


Di hatinya ia merasa bersyukur. Meski hidupnya rumit dan penuh liku, namun ia masih dikelilingi orang-orang baik yang begitu peduli padanya.

__ADS_1


__ADS_2