
William terperangah saat tanpa diduga, Eby menyebut namanya, yang saat ini tengah bersembunyi di balik gorden ruang tamu.
Ia sama sekali tidak menyangka, jika tamu yang dimaksud sepupunya itu adalah Eby dan Tama.
Beberapa saat lalu, ia baru saja hendak ke kamar mandi untuk membersihkan diri, setelah Amanda selesai melakukan ritualnya.
Awalnya ia mengira tetangga atau kerabat orang tuanya yang datang, untuk memberikan doa dan ucapan selamat atas pernikahannya. Hal yang wajar di desa tersebut, meski pernikahan mereka tanpa resepsi, tanpa mengundang siapapun, namun tetangga dekat pasti akan datang untuk menjenguk bila ada salah satu warga yang memiliki acara.
Saat dirinya baru keluar dari kamar mandi, ia mendengar kakak perempuannya membentak sang istri. Ia bergegas memakai pakaian seadanya, dan berniat menyusul keluar rumah.
Namun suara Amanda yang terdengar marah, menahan langkahnya.
"Siapa yang datang bertamu? Kenapa Manda bisa semarah itu?" pikir William, lalu menyibak sedikit gorden yang ada di depannya.
"Eby," gumamnya tanpa suara. Jantungnya seakan berhenti berdetak, melihat sosok yang selama ini ia rindukan ada di depan matanya.
Ia serasa bermimpi, dan mencoba menyangkal kenyataan. Namun saat melihat lebih jelas, sosok Tama juga berdiri agak jauh dari kerumunan keluarganya dan Eby.
"Hanya sebatas ini kamu mampu mencari penggantiku, Will?" ucapan Eby menyentak lamunannya. Suara yang ia rindukan, yang selalu tenang dan berkata lembut padanya, kini terasa dingin dan asing.
Wajah Eby yang semula memandang Amanda, kini beralih menatapnya yang sudah tidak bersembunyi lagi.
Bukan hanya Eby, seluruh mata di rumah itu ikut memerhatikannya dengan tatapan yang tidak bisa ia tebak artinya.
__ADS_1
Untuk pertama kalinya, William merasa seperti seorang terdakwa yang akan disidang.
Ia ingin berlari menggapai Eby yang terasa jauh dari penglihatannya, namun seperti ada batu besar mengikat kakinya, terasa berat hingga ia sulit melangkah.
"Will," sentuhan lembut dan suara Amanda menyentak alam sadarnya.
Untuk beberapa saat lalu, ia lupa, di sisinya kini telah ada sosok Amanda, yang di rahimnya ia titipkan mahluk kecil bernama janin.
Tatapan Amanda yang belakangan begitu menghipnotis, begitu memabukkan, yang acap kali membuat ia lupa dan abai dengan bisikan nuraninya.
Seketika hasrat untuk menggapai Eby, sirna.
William menampilkan senyum simpul pada istri yang baru dinikahinya itu.
"Kamu ingat kan, keluargaku sudah melepas tanggung jawab atas diriku dan melimpahkannya ke kamu. Hanya kamu dan bayi kita yang aku punya sat ini, sebagai penopang hidupku yang rapuh." ucapnya lagi, matanya begitu memohon membuat William merasa iba.
"Aku nggak akan lupa sama janjiku ,Manda. Sampai anak ini lahir, kamu akan tetap di sisiku." sahut William lembut, menatap manik mata Amanda.
Eby yang melihat interaksi keduanya merasa bagaikan ditampar kanan kiri, bahkan wajahnya seperti disiram kotoran, oleh William. Ia marah dan terluka. Namun ia tidak bisa berbuat apa-apa.
Wajahnya memerah, tangannya terkepal hingga buku-buku jarinya terlihat memutih.
"Mba," bisik Tama memegang bahu kakaknya dari belakang. Pemuda itu begitu sigap melindungi kakaknya.
__ADS_1
Tidak membiarkan emosi Eby tersulut, melihat pemandangan memuakkan di depan matanya.
"Mba kuat, mba pasti bisa. Kita ke sini bukan untuk mengemis, tapi untuk meminta hak mba kembali." bisik Tama di telinga Eby.
"Tenangkan diri mba, jangan tunjukkan kelemahan mba di hadapan bajingan itu." ucap Tama lagi.
Eby, sebisa mungkin ia mengikuti saran adiknya. Ia menarik nafas berulang kali, meski rasanya begitu sulit. Dadanya sakit tanpa ada benda nyata yang memukulnya.
Tatapannya tidak bisa ia alihkan dari pemandangan menyakitkan, di mana Willi tengah memeluk dan menghibur Amanda yang sudah berurai air mata.
Entah dari mana sumber air di mata wanita itu, yang pasti beberapa saat lalu ketika Willi belum datang, ia tidak melihat raut kesedihan di sana.
"Ehm, maaf sudah mengganggu kalian. Aku ke sini tidak ingin mengemis seperti yang wanita itu ucapkan. Aku datang hanya ingin mengucapkan selamat, untuk keluarga ini. Terutama untuk kamu, Will. Selamat karena sudah berhasil menjadi aktor terhebat yang aku kenal. Selamat juga karena sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ayah." ucap Eby setelah mampu menguasai diri.
"Nak Eby," Ibu William mencoba meraih tangan Eby.
"Sebaiknya kita obrolin ini di dalam saja ya, lagi pula, ada hal yang harus kamu tahu di balik semua ini."
"Aku udah nggak mau tahu lagi soal apapun tentang dia Bu, maaf. Aku datang hanya ingin meminta apa yang menjadi hakku, pada Willi. Heh lucu ya, disaat aku berjuang banting tulang, berpeluh di negeri orang, demi bisa membangun tempat berteduh sederhana yang aku dan dia impikan, di sini dia berpeluh di atas ranjang, memberi kehangatan pada wanita lain. Bodohnya aku percaya begitu saja dengan ucapannya." ucap Eby menatap miris ke arah William dan Amanda.
"Kapan kamu akan mengembalikan semua itu, Will?" tanya Eby tenang.
"Apa yang kamu mau dari suamiku? Aku nggak akan membiarkan sepeserpun uang suamiku, kamu ambil. Dasar wanita nggak tau diri!" ucap Amanda lantang.
__ADS_1