Luka Di Ujung Asa

Luka Di Ujung Asa
Bab 55


__ADS_3

Eby tiba di rumah sakit dengan membawa banyak belanjaan.


Selain makanan pesanan sang adik, ia juga membeli beberapa camilan yang sedianya akan ia simpan di kamar rawat sang ayah.


"Borong mba? Kayak orang mau piknik aja," komentar Tama menyambut kedatangan sang kakak.


"Biar kamu betah nungguin ayah di sini, biar besok nggak ada alasan kelaparan lagi," sahut Eby dengan senyum tipis.


Beberapa hari Lingga dirawat, banyak sanak saudara yang datang, dan beberapa mengajak anak mereka ikut menjenguk. Rasanya tidak enak, jika tidak ada hidangan apapun yang mereka tawarkan, meski kondisinya tengah berada di rumah sakit. Setidaknya, ada camilan untuk anak kecil agar merek betah berada di ruangan tersebut.


Eby melirik Karina yang tengah berdiri di samping ranjang sang suami. Merapikan selimut, dan memastikan air infus berjalan semestinya mengaliri tubuh Lingga.


Kata Tama dokter baru saja datang memeriksa kondisi sang ayah. Dan keadaan laki-laki itu, hingga kini belum ada perkembangan. Masih kesulitan berbicara dan sebagian tubuhnya mati rasa.


"Bu, makan dulu. Aku udah belikan ayam bakar sama ada udang goreng juga di sana," ucap Eby sambil memasukkan barang belanjaannya ke dalam lemari kayu, yang terletak di sudut ruangan dekat jendela.


"Punyaku, mba?" tuntut Tama mendekat ke arah sang kakak.


"Itu, jadi satu. Cari aja, kamu mau nasi goreng sea food, kan?"

__ADS_1


"Mba udah makan?"


"Belum, ntar aja. Kamu makan duluan aja," sahut Eby. Ia beranjak, lalu duduk di atas sofa, memerhatikan Tama yang sibuk memilah makanan yang ia bawa.


"Makan bareng aja. Bawa semuanya ke sini, Ma!" titah Karina, ikut duduk di samping Eby.


Tama menurut, membawa semua makanan ke dekat mereka.


"Makan di bawah aja, biar ibu ambilkan air untuk cuci tangan." Karina bergegas masuk ke kamar mandi, mengambil air bersih untuk mereka mencuci tangan.


Eby mencolek Tama, lalu menunjuk sang ibu dengan dagunya, bermaksud menanyakan apa yang terjadi.


Eby hanya mengangguk kecil. Tidak lama, Karina datang membawa wadah berisi air bersih untuk mereka gunakan mencuci tangan.


Tama membuka semua makanan, dan dengan semangat menikmatinya. Begitu pun Karina dan Eby, meski dua perempuan tersebut masih terlihat canggung karena perdebatan sebelumnya, namun berkat kehadiran Tama, perlahan mereka kembali seperti biasa. Bahkan setelah makan malam selesai, ketiganya lanjut berbincang. Menceritakan hal-hal umum yang tidak ada hubungannya dengan keluarga mereka.


🌟🌟🌟


Hari berlalu dengan cepat, kondisi Lingga pun kini mulai menunjukkan perkembangan membuat Eby bisa bernafas lega. Meski laki-laki itu masih harus dirawat karena tekanan darahnya yang belum stabil.

__ADS_1


Beberapa waktu lalu ia mendapat telepon dari mantan bosnya, menjelaskan bahwa ada lowongan pekerjaan di hotel tempatnya bekerja dulu, namun bukan di bagian yang dia mau.


"Kalau kamu mau, besok kamu bisa datang membawa CV kerja kamu, dan tidak perlu interview lagi, sebab sudah mendapat rekomendasi dari saya, tapi lowongan ya bukan di bagian spa," terang seseorang dari seberang sana.


Eby berpikir, apapun pekerjaannya asalkan itu halal ia harus menerimanya. Ia harus memiliki penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan juga keluarganya. Dan ia tahu, mantan bosnya pasti tidak sembarangan memberikan dia pekerjaan.


"Baik Pak, saya akan ke sana besok. Terima kasih banyak pak," ucap Eby.


"Iya sama-sama." Sambungan diakhiri.


Eby segera memberi tahukan Tama tentang tawaran kerja yang ia terima.


"Tunggu biar ibu datang, Mba. Kita ngobrol bareng-bareng. Soalnya kita juga kan harus mikirin gimana ngerawat ayah kedepannya," usul Tama.


Benar memang, Lingga tidak akan bisa sembuh seperti sedia kala, ia akan mengalami kesulitan berbicara dan berjalan. Dan memerlukan terapi yang rutin untuk bisa membuatnya kembali normal, dan itu membutuhkan waktu yang lama.


Dan setelah berunding bersama keluarga yang lain, akhirnya diputuskan jika nanti setelah Lingga diperbolehkan pulang, ia akan tinggal bersama ibunya, di rumah masa kecilnya. Sebab Karina tidak bisa menjaga 24 jam penuh, karena harus mengajar, sementara Eby pun harus bekerja.


"Kita merawat Lingga bersama-sama, mengupayakan yang terbaik untuk kesembuhannya. Jangan berpikir kalau kami merebut dia dari kamu dan anak-anak, itu tidak benar sama sekali. Dan jangan juga mengira kalau kami tidak percaya padamu yang selama ini sudah merawat dia. Kami berterima kasih karena kamu sudah dengan luar biasa sabar mendampinginya selama ini. Ini semua demi ketenangan kamu saat bekerja, begitu pun Eby yang harus mencari penghidupan di luar sana. Jadi kami minta kamu mau berbesar hati mengijinkan Lingga tinggal bersama ibu di rumah masa kecilnya," jelas kakak tertua Lingga pada Karina dan anak-anaknya, saat wanita itu menolak usul keluarga besarnya.

__ADS_1


__ADS_2