Luka Di Ujung Asa

Luka Di Ujung Asa
Bab 56


__ADS_3

Meninggalkan kehidupan keluarganya dengan segala pelik yang perlahan sudah mereda, Eby memutuskan kembali bekerja. Bukan sebagai terapis spa lagi, melainkan sebagai salah satu staf resepsionis di hotel XX.


Sudah satu Minggu wanita itu menjalani kesehariannya di tempat baru. Kembali menyesuaikan diri, sebab rekan kerjanya adalah orang-orang yang baru ia kenal.


Pagi itu Eby datang sedikit terlambat. Ia memarkirkan motornya, dan masuk dengan terburu, hingga tanpa sengaja kakinya tersandung di anak tangga terakhir, sebelum dirinya mencapai pintu utama hotel.


"Sial!" umpatnya sembari melihat sekeliling. Bersyukur tidak ada orang yang menyaksikan kejadian memalukan itu.


Eby lalu bergegas melangkahkan kakinya kembali, seolah tidak terjadi apapun sebelumnya. Meski merasakan ngilu pada lututnya, namun ia menahan rasa sakit itu dan mencoba bersikap seperti biasa.


"Kenapa telat datangnya?" tanya rekan kerja Eby bernama Sarah. Wanita dengan rambut sebahu itu, menatap sinis Eby yang ia anggap sebagai juniornya.


"Iya, tadi ban motor aku kempes. Sial banget, mana udah siang, lagi," sahut Eby mengurai keluhnya. Ia tidak sadar, sejak kedatangannya yang terlambat beberapa menit lalu, Sarah sudah menatapnya dengan tatapan tidak suka.


"Motor baru kok bannya udah kempes aja? Itu bukan sekadar alasan doank, kan?" komentar Sarah lagi, tanpa melihat Eby sebagai lawan bicara.


Eby tidak menanggapi pertanyaan nyinyir Sarah. Ia tahu wanita di sampingnya itu, tidak terlalu suka padanya, karena ia dengan mudah bisa masuk menjadi staf resepsionis di hotel tersebut. Bahkan tanpa menjalani interview, atau hal lain yang biasa calon karyawan lakukan. Tapi Eby tidak pernah berpikir, jika Sarah akan mencari kesalahan-kesalahan kecil yang ia buat, untuk menjatuhkan mentalnya.


Merasa diabaikan, Sarah terus menyerang mental Eby dengan sikap dan ucapan pedasnya. Namun Eby tetap fokus mengerjakan apa yang biasa ia kerjakan. Ia tidak ambil pusing, dengan penilaian siapapun terhadapnya. Ia hanya ingin bekerja sebaik mungkin, demi bisa mendapat penghidupan yang lebih baik.


"Id card siapa ini?" Seorang laki-laki berkulit putih dengan mata kelam berdiri di depan meja resepsionis. Meletakkan ke atas meja, id card yang semula di tangannya.


Bahasa Indonesia laki-laki itu terdengar sangat kaku, membuat Eby yakin jika orang asing itu pasti belum lama tinggal di tanah air.

__ADS_1


Sarah menunduk hormat pada pria berjambang tersebut. Sementara Eby yang melihat id card-nya berada di atas meja, segera meraihnya dan menatap laki-laki itu dengan penuh selidik.


"Dari mana Anda mendapat kartu identitas saya?" tanya Eby dengan tatapan curiga. Sarah mencubit lengan Eby agar wanita itu diam.


"Kamu terlambat sepuluh menit tiga puluh lima detik. Kedepannya usahakan sudah tiba di sini, minimal lima belas menit sebelum jam kerja dimulai. Saya tidak suka staf yang tidak memiliki kedisiplinan," ucap tegas laki-laki itu tanpa menjawab pertanyaan Eby sebelumnya. Setelah memberi peringatan pada Eby, laki-laki itu kembali melanjutkan langkahnya.


Eby tercenung, tidak tahu harus menjawab apa ultimatum yang diucapkan atasannya. Dan belum hilang rasa terkejut karena teguran orang yang tak ia kenal, Eby kembali tersentak saat Sarah menarik lengannya dengan sedikit kasar.


"Kamu kenapa bisa kehilangan id card-mu? Bahkan sampai bos kita yang nemuin? Kamu tau nggak? Kamu tuh bukan hanya membahayakan diri kamu sendiri, tapi kamu juga bikin orang lain kena masalah gara-gara kamu!" omel wanita itu dengan wajah judesnya.


Eby diam, tidak bisa menjawab ucapan pedas rekan kerjanya, karena memang dia bersalah kali ini.


Di hotel itu jelas tertulis aturan kerja yang wajib ditaati seluruh staf yang ada. Setiap karyawan wajib memakai id card, dan harus diperiksa setiap kali melakukan absensi. Namun seperti biasa, aturan ada untuk dilanggar, bukan? Sebagian dari kita hanya patuh pada aturan, jika si pemangku kebijakan tengah mengawasi kita. Dan kini Eby melakukan pelanggaran itu tanpa sengaja, yang sialnya diketahui oleh petinggi hotel, tempatnya bekerja.


"Ini nih akibatnya masukin orang karena alasan kedekatan pribadi. Orang yang nggak layak, justru bisa dengan mudah ada di sini!" Sarah masih melanjutkan kalimat-kalimat pedasnya.


Telinga Eby tentu panas mendengar semua itu, namun saat ini dia sadar, dirinya hanya karyawan baru di sana. Belum saatnya ia menunjukkan sisi garangnya pada setiap lawan yang memancing emosi.


Kesalahan yang ia lakukan di pagi hari, membuat Eby tidak pernah benar di mata seniornya itu. Setiap hal yang ia lakukan selalu mendapat komentar pedas, dan sikap ketus pun selalu ia terima hingga jam kerjanya berkahir.


Itulah realita dunia kerja. Tidak semua orang mampu menerima kehadiran orang baru dengan baik, dengan tangan terbuka. Pasti ada saja manusia-manusia arogan, yang merasa dirinya lebih baik dari orang lain, dan mengagungkan egonya setinggi langit.


🌟🌟🌟

__ADS_1


Eby berjalan sendiri mengabsen satu demi satu rak pajangan supermarket, dengan keranjang belanja yang hampir penuh di tangannya. Mata wanita itu fokus pada barang-barang yang tertata rapi sesuai jenis dan mereknya. Sangking fokusnya Eby, hingga tanpa sengaja ia menabrak seseorang yang tengah memilih alat cukur di rak paling pojok.


"Maaf," ucapnya saat menyadari ia telah berbuat kesalahan.


"Kamu!" Orang yang Eby tabrak menatap kesal ke arah wanita itu.


"Ternyata kamu memang ceroboh, ya? Apa sih yang kamu bisa, selain merugikan orang lain?" omelnya dengan suara kencang.


Eby yang merasa dipermalukan, tentu tidak terima dengan ucapan laki-laki di hadapnya itu.


"Maksud Anda apa ya? Saya kan sudah minta maaf, masa hal kecil begini Anda besar-besarkan? Lagipula ini untuk pertama kalinya saya bersinggungan dengan Anda, dari mana anda bisa menyimpulkan kalau saya ceroboh?" balas Eby tidak mau kalah.


"Kamu!" Kamu lupa siapa saya?!" Laki-laki itu semakin marah sebab Eby berani membalasnya.


"Tentu saya ingat, Tuan. Anda adalah atasan saya, tapi saat ini jam kerja saya sudah berakhir, dan kita bertemu di luar area hotel. Jadi kita sama-sama hanya sebagai pengunjung supermarket ini," sahut Eby merasa tidak takut sedikit pun. Ia lepas kendali, sebab Ia masih merasa kesal pada Sarah, ditambah kini, ia juga merasa kesal pada laki-laki di hadapannya, yang baru beberapa jam yang lalu ia ketahui sebagai atasannya.


Ia tidak tahu dari mana sumber kemarahannya berasal, di kepala Eby, laki-laki itu tersimpan sebagai sosok menyebalkan.


"Ternyata benar, kamu itu salah satu jenis manusia yang tidak mau mengakui kesalahan. Sudah salah, bukannya minta maaf dengan tulus malah mau mengajak berdebat. Kalau saya tau akan bertemu denganmu lagi, dan mengganggu hidup saya, dari awal saya sudah buat perhitungan sama kamu!" sengit laki-laki yang namanya belum Eby ketahui itu, menggunakan bahasa Inggris.


"Dasar orang gila!" umpatnya lagi, namun kali ini menggunakan bahasa Turki.


Laki-laki itu berlalu dengan menabrak bahu Eby cukup kencang. Eby meringis mengusap lengannya, ia melanjutkan langkah kembali namun dengan mulut yang tak henti berceloteh.

__ADS_1


"Mana ada laki-laki waras mau berdebat dengan perempuan? Dia yang gila, ngatain orang lain gila!" ejeknya tanpa tahu jika orang yang berada di balik punggungnya itu menoleh dan menatap tajam dirinya.


__ADS_2