Luka Di Ujung Asa

Luka Di Ujung Asa
Bab 21


__ADS_3

Eby memerhatikan satu persatu anggota keluarganya. Ayahnya, ibunya, Nayotama, Evelina, makan dengan lahap tanpa ada obrolan, seolah tidak ada masalah yang terjadi dalam keluarga itu.


Adakah hanya dirinya saja yang merasa, jika pulang terlambat adalah sebuah kesalahan?


Eby merasa asing saat ini. Merasa tidak mengenal orang-orang yang ada di sekitarnya kini. Ternyata begitu banyak yang berubah sejak kepergiannya tiga tahun yang lalu.


Lingga sang ayah, dulu suka sekali bercanda, membuat lawakan-lawakan garing, yang sering ia dan adik-adiknya tertawakan. Pria yang sangat mencintai istrinya itu, tidak segan-segan menunjukkan keromantisan di depan anak-anaknya. Bahkan di awal ia mengalami serangan struk pertama pun, Eby melihat semangat dan keyakinan di mata ayahnya. Namun kini, Lingga lebih banyak diam, seolah ada beban berat yang meredupkan binar bahagia di mata laki-aki itu.


Karina, meskipun memiliki kesibukan sebagai seorang pengajar, namun tidak pernah melupakan kewajibannya menjadi ibu dan istri. Selalu menyediakan waktu mendengarkan keluh kesah anak-anaknya. Dan menjadi ratu bagi sang ayah yang teramat bucin. Eby merasa ibunya adalah wanita yang paling bahagia. Dicintai oleh laki-laki seperti Lingga, yang meski dalam kesederhanaan, selalu memperlakukan dirinya dengan istimewa.


Mau tahu seperti apa perhatian Lingga pada sang istri?


Lingga selalu ingat membukakan vitamin dan menyiapkan air putih setiap pagi, untuk sang istri. Ia juga selalu membuatkan makanan kesukaan Karina saat hari libur. Lingga juga rela terjaga sepanjang malam jika istrinya sedang sakit. Bila pasangan pada umumnya, istrilah yang sering membelikan pakaian untuk suaminya, berbeda halnya dengan Lingga. Bahkan pakaian dalam Karina pun, lingga bisa dengan tepat membelikannya. Lingga sangat pencemburu, namun tidak pernah bersikap kasar pada pasangannya.


Tama, anak laki-laki satu-satunya di keluarga itu, adalah anak yang cerdas dan penuh kasih sayang. Sangat perhatian pada kedua saudara perempuannya, dan menjadi garda terdepan saat ada yang mencoba mengganggu mereka.

__ADS_1


Elin, adalah gadis remaja yang manis. Dulu, adik bungsunya itu sangat pemalu. Kemana-mana harus diantar, jika tidak maka ia akan menangis. Sangat mengidolakan dirinya, karena Eby sering kali memberikan uang saku lebih, tanpa sepengetahuan orang tuanya.


Kini semua itu tidak ia rasakan lagi.


Kehangatan yang sangat ia rindukan, tidak ia temukan di sini.


Kemana perginya masa-masa indah itu?


"Mba, kok bengong?" Tama yang berada di sampingnya menepuk bahu sang kakak.


"Hah?"


"Makan kok, ini," Eby melanjutkan aktifitasnya, menikmati makanan yang dibuat oleh Karina.


"Mba Eby mungkin udah nggak biasa makan makanan rumahan, kan lidahnya sekarang udah jadi lidah luar negri." ucap Elin, menarik perhatian yang lain.

__ADS_1


"Nggak kok. Di sana mbak masih sering masak sama temen-temen. Kalau ngikutin lidah mereka, mba nggak kenyang-kenyang. Makanannya tepung semua, nggak ada nasinya." ucap Eby sambil sibuk mengunyah makanannya.


"Enak kan? Bisa menikmati udara luar negeri. Bebas jalan-jalan tiap libur kerja, nggak pusing mikirin soal rumah." sahut Elin membuat suasana mendadak tegang.


"Maksudnya? Mba kerja di luar negeri untuk menyenangkan diri mba sendiri gitu?" tatapan mata Eby menghunus tajam ke arah adik bungsunya itu. Selera makannya benar-benar hilang sekarang.


"Aku nggak ada ngomong gitu. Mba sendiri yang ngerasa,"


"Udah-udah, kalian kenapa ribut di depan makanan sih?" Karina menengahi.


Eby terus memandang sang adik, yang tanpa rasa berdosa melanjutkan makannya, setelah membuat suasana rumah menjadi tidak nyaman.


Apa yang salah dari kelurganya ini? Kenapa Elin, si gadis SMP yang menangis saat ia tinggalkan dulu, kini menjadi gadis bermulut pedas yang tidak bisa menjaga ucapannya?


"Mba," Tama menyentuh lengannya.

__ADS_1


Hanya sedikit kepala wanita itu menoleh ke arah adik laki-lakinya, dan kembali lagi menatap Elin dengan tatapan yang sama.


Hari pertama tiba di rumah yang sangat dirindukannya, Eby disambut dengan berbagai masalah yang tidak ia duga-duga.


__ADS_2