Luka Di Ujung Asa

Luka Di Ujung Asa
Bab 62


__ADS_3

Tangis histeris memenuhi unit gawat darurat sebuah rumah sakit yang letaknya tidak jauh dari kostan Eby.


Satu jam setelah ia dan Harry berhasil membawa William ke tempat itu, kedua orang tua dan kakak perempuan William, datang.


Mereka sangat terkejut dan terpukul mendapati anak laki-laki satu-satunya, terbaring tak berdaya, di ranjang rumah sakit.


"Kenapa jadi begini, nak? Apa yang wanita itu lakukan sama kamu?" Wanita paruh baya, memeluk tubuh anaknya yang lemah. Isak tangis wanita itu tak tertahan lagi, saat berulang kali mendengar rintihan William.


"Paak, kita harus gimana?" Wanita itu beralih menggoyangkan lengan keriput sang suami. Menatap penuh harap, semoga kepala keluarganya itu menemukan solusi terbaik untuk putra mereka.


"Kita tunggu hasil lab dari dokter, Bu. Memastikan apa yang terjadi. Setelah itu baru kita bisa putuskan, apa yang harus dilakukan. Berdoa saja, semoga semua dalam keadaan baik," sahut sang suami menenangkan.


"Baik gimana? Willi sudah begini, bapak masih saja bersikap seolah tidak terjadi apa-apa! Pokoknya cari pertolongan secepatnya, pak! Ini ada yang nggak beres pasti!" desak wanita itu lagi.


"Bu, sabaaar. Tenang dulu. Kita nggak bisa gegabah. Kita harus pastikan dulu, apa yang dialami Willi. Pastikan dulu secara medis. Baru setelah itu kita pikirkan alternatif lain," ucap kakak perempuan William, berusaha membujuk ibunya.


Meski mereka mengkhawatirkan keadaan William, namun mereka tidak bisa bertindak gegabah. Mereka harus benar-benar tahu apa yang terjadi, agar tidak salah mengambil tindakan.


Melihat kekacauan yang tersaji di depan mata, Eby dan Harry saling melirik. Ini bukan urusan mereka, namun rasanya kurang pantas jika mereka pergi begitu saja saat ini. Terlebih mereka berdua lah yang datang membawa laki-laki itu ke rumah sakit. Takut jika dibutuhkan lagi, sebagai saksi bila ada yang ingin ditanyakan.

__ADS_1


"By, mau sampai kapan kita di sini?" bisik Harry, mendekati sang sepupu.


"Nggak tau juga aku, Ry. Pengen pergi tapi nggak enak. Mereka lagi kalut begitu sekarang. Aku kasihan sama bapak sama ibu," sahut wanita itu mencurahkan perasaannya.


"Kasihan sama ortunya, apa kamu khawatir sama dia?" tanya Harry dengan alis terangkat.


Eby mengerti maksud ucapan Harry. Ia mendelikkan matanya, tidak suka pada godaan laki-laki itu.


"Kan nanya doang ... Biasa aja kali! Sadis bener tuh mata, mirip tatapan mbak Kun," oceh Harry lagi. Sebenarnya ia merasa lelah, dan mengantuk. Namun karena harus menemani Eby, ia harus menahan rasa kantuknya saat ini.


"Kalian udah mau balik, ya? Makasih banyak ya, udah mau antar Willi ke sini. Maaf kami merepotkan kalian lagi," Kakak William mendekati keduanya.


Mengajak Eby dan Harry keluar ruang UGD, meninggalkan Willi bersama kedua orang tuanya.


Wilona, kakak perempuan William menghela nafas dalam, saat mendengar pertanyaan Eby.


"Panjang, By, ceritanya," keluhnya dengan raut wajah sedih. Mereka melangkah menuju parkiran, dengan tanya masih menggelayut di hati Eby, menunggu wanita di sampingnya melanjutkan cerita.


Namum menunggu beberapa menit, wanita itu tak kunjung melanjutkan ceritanya. Eby tidak lagi melanjutkan tanya, ia tak mau mendesak, takut terkesan terlalu kepo.

__ADS_1


Hingga mereka tiba di tempat parkir, dimana mobil Harry berada. Barulah Wilona berkata lagi,


"Yang pasti, Willi saat ini sedang nggak baik-baik saja. Ada sesuatu yang nggak bisa dijelaskan dengan nalar, terjadi padanya kini. Kami sedang berupaya menyembuhkannya, baik secara medis maupun non medis," ucapnya.


Eby ingin tahu lebih banyak, namun hatinya melarang untuk bertanya lebih jauh. Seolah ada yang mengingatkan, jika itu bukan urusannya lagi. Bersyukur Harry memberinya kode, agar segera masuk ke dalam mobil.


"Aku turut prihatin dengan keadaan Willi, mba. Semoga dia lekas sembuh, dan bisa seperti dulu lagi. Mba sama bapak dan ibu yang sabar ya, jaga kesehatan kalian juga, aku pamit," ucap Eby lalu membuka pintu mobil.


"By," Wilona mengentikan langkah Eby, meraih tangan wanita itu lagi.


"Maafkan kesalahan Willi ya, mba mohon kamu ikhlaskan semuanya,"


Eby tersenyum miris. Memaafkan dan ikhlas, memang dua hal yang berbeda. Ia sudah memaafkan laki-laki itu, namun sudut hatinya masih belum menerima takdir yang Willi buat untuknya. Itu terlalu menyakitkan. Diselingkuhi karena LDR, seperti Ratih dulu, mungkin ia masih bisa menerima. Tapi dia dan Willi sudah merencanakan pernikahan! Yang artinya, laki-laki itu menjanjikan lebih dari sekadar setia padanya. Sebuah komitmen. Namun semua harus berakhir, di saat semua sudah dipersiapkan. Bahkan tidak sampai melangkahi purnama lagi, penantian panjang mereka akan segera berakhir di pelaminan.


"Aku sudah memaafkannya, mba. Jangan khawatir," ucap Eby. Tidak mungkin ia mengatakan jika masih ada rasa tidak ikhlas di dalam hatinya. Hal itu cukup dirinya yang tahu.


Wilona tersenyum mendengar itu.


"Makasih, By. Mba harap kamu mau menjenguknya ke sini lagi, Ia pasti akan sangat bahagia, sebab selama ini ia selalu menyebut namamu ketika kesadarannya kembali."

__ADS_1


"By, masih mau ngobrol? Aku ngantuk!" Dari dalam mobil, terdengar suara Harry yang ketus. Laki-laki itu sudah menunggu lama, namun sepupunya masih asyik berbincang di luar sana.


"Mba, aku balik dulu ya. Kasihan sepupuku nunggu lama," pamit Eby tanpa menyanggupi permintaan Wilona.


__ADS_2