Luka Di Ujung Asa

Luka Di Ujung Asa
Bab 45


__ADS_3

Tidak ada yang menginginkan luka, begitu pun dengan air mata. Namun hidup selalu punya cerita yang acap kali mengundang perih yang menyakitkan.


Siapa yang bisa memilih jalan takdir? Sebab semua gamang di depan sana.


Tuhan tidak menciptakan sebuah persimpangan, lengkap dengan proyektor masa depan, sehingga kita bisa tahu mana jalan yang kita mau.


Ketukan pintu dari luar, menarik Eby dari lamunan. Suara pelan sang ibu menggerakkan kepalanya untuk menoleh.


"Makan dulu, By," ucap wanita itu setelah Eby menjawab panggilannya.


Meski enggan, namun Eby memaksakan dirinya untuk bangkit. Ia tidak mungkin terus bersembunyi di dalam kamar. Ia harus mencari tahu apa yang terjadi sebelumnya, kenapa kedua orang tuanya bisa bertengkar sehebat itu?


Rumah terasa sepi. Hanya ada dia dan sang ibu di ruang makan, namun sama-sama bungkam.


"Ayah mana, Bu?" tanya Eby akhirnya, setelah Karina duduk di seberangnya.


"Masih di kamar," sahut Karina.


"Nggak makan bareng?"


"Entah," Karina mengangkat kedua bahunya. Terlihat acuh.


Eby menarik nafas pelan. Ia mendorong ke belakang kursi yang ia duduki, lalu bangkit menuju kamar orang tuanya.


Eby mengetuk pintu yang tertutup rapat itu.


"Yah, ayah," Eby memanggil Lingga beberapa kali, sebab laki-laki itu tidak kunjung memberi jawaban.


"Aku buka ya, Yah." Tanpa menunggu lama, Eby membuka pintu kamar orang tuanya. Ia mendekati sang ayah yang tengah berbaring, dengan lengan di atas keningnya.

__ADS_1


Mata Lingga terpejam, namun Eby yakin ayahnya tidak tidur.


"Makan dulu, Yah" ajak Eby sembari menyentuh lengan ayahnya.


Lingga menarik nafas dalam dan menghembuskannya sedikit kasar.


"Makan duluan saja, ayah belum lapar." Sahutnya dengan posisi yang masih sama.


"Ini sudah malam, mau makan jam berapa ayah?" desak Eby lagi.


Lingga membuka matanya yang terlihat memerah. Mungkinkah laki-aki itu menangis?


"Perut ayah nggak enak, By. Kembung dari tadi. Kalau diisi nasi lagi, takut nanti ayah nggak bisa tidur," sahut Lingga, menatap sang anak.


"Mau aku belikan bubur ayam?"


"Nanti aja kalau kamu sudah selesai makan. Kamu makan dulu sana, kasihan ibu kamu nungguin."


Mereka berdua makan dalam keheningan. Suasana yang sangat tidak menyenangkan bagi Eby saat ini.


Merasa tidak tahan, Eby akhirnya bertanya pada wanita yang melahirkannya itu, tentang apa sebenarnya yang terjadi.


Ia melirik, nasi di piring ibunya tinggal sedikit, jadi tidak masalah jika ia bertanya sekarang.


"Bu, ada apa sebenarnya? Kenapa kalian bisa bertengkar sampai sehebat itu tadi sore?" Eby menatap dalam wanita yang melahirkannya.


Karina meletakkan kembali sendok yang siap disuapnya. Selera makannya mendadak hilang.


Ia membalas tatapan mata putrinya, dengan perasaan bercampur aduk.

__ADS_1


"Ayahmu salah paham. Dia kira ibu berselingkuh sama pamanmu,"


"Maksudnya?" tanya Eby tidak mengerti.


"Tadi siang, ibu diantar pulang sama Om Angga, karena ban motor ibu kempes di jalan, pas baru keluar dari gerbang sekolah. Kamu kan tahu, kalau di dekat sekolah ibu nggak ada bengkel. Kebetulan pamanmu lewat, beliau berhenti pas liat ibu lagi dorong motor. Niatnya mau anter ibu ke bengkel, cuman ibu ingat ayahmu sendirian di rumah. Nenek lagi bantu tetangga yang punya acara. Jadi terpaksa ibu minta diantar pulang dulu. Niatnya setelah beres urus ayah, baru ibu balik sekalian bawa montirnya ke sana. Tapi ternyata, Om Angga sudah beresin semua. Motor ibu dibawakan ke sini sama dia. Dan ayah cemburu karena itu," terang Karina panjang lebar.


"Emangnya om Angga sering datang ke mari, Bu?"


"Nggak juga, dia kan sibuk urus usahanya. Cuman beberapa kali datangnya, itu pun sama anak-anaknya. Lagian ibu heran, ayahmu itu kok bisa-bisanya cemburu sama adik sendiri?" kesal Karina tidak habis pikir dengan jalan pikiran suaminya.


"Namanya juga perasaan, Bu. Apalagi kondisi ayah seperti sekarang. Nggak bebas kemana-mana, nggak bisa jaga ibu seperti dulu, mungkin ayah merasa insecure. Terlebih om Angga kan duda." Eby mencoba memberi penilaian dari sudut pandang berbeda. Ia tidak bisa menyalahkan siapapun saat ini.


" Entahlah." Karina mengangkat bahunya.


Hening kembali menyelimuti suasana ruang makan itu.


"Oh ya, Bu. Elin kemana? Aku nggak liat dia dari tadi?" Eby baru sadar jika adik bungsunya tidak nampak barang hidungnya sejak ia baru tida di rumah.


"Jangan bilang dia kelayapan lagi, seperti biasa!" tegas Eby, saat sang ibu tidak kunjung menjawab pertanyaannya.


"Sudah ibu larang, tapi dia ngambek. Malah ngancam nggak mau sekolah, kalau nggak dibolehin nginep di rumah temennya."


"Dan ibu nurutin maunya?" Eby tidak habis pikir dengan sikap orang tuanya yang begitu lembek terhadap Elin.


"Kenapa ibu nggak kasih tau aku sih, Bu? Dia nginep di rumahnya siapa?"


"Ibu nggak mau kamu terus kepikiran masalah di rumah, By. Ibu pengen kamu menenangkan hati dan pikiran, menikmati liburan kamu,"


Eby kehabisan kata. Kenapa semua jadi sekacau ini? Sebelum ia berlibur ke kota bersama Harry, Eby memastikan perubahan sang adik terlebih dahulu. Selama dua hari ia memerhatikan perilaku Elin, dan gadis itu selalu pulang tepat waktu. Meski bermain di rumah temannya, namun tidak melewati batas waktu yang diberikan Eby. Tapi rupanya itu hanya sementara, dan ibunya membiarkan itu semua?

__ADS_1


"Trus dia bilang nggak, mau nginep di rumah siapa?" tanya Eby lagi, sebab sang ibu belum menjawab.



__ADS_2