
Perlahan kehangatan mulai dirasakan Eby karena berdekatan dengan api unggun. Terlebih ketika meneguk kopi yang masih menguarkan asap tipis, pemberian Murat, rasa hangat juga menjalar dari kerongkongan hingga lambung wanita itu.
Tatapan Eby kosong. Ada sesuatu yang mengusik pikirannya, tapi seperti biasa wanita itu selalu berusaha menyembunyikannya dari orang lain.
"Kenapa diam saja? Apa kamu tidak suka tempat ini?" tanya Murat yang sejak tadi menunggu Eby untuk bicara.
Eby menoleh, menatap bingung pada Murat yang tengah memerhatikannya.
"Lalu aku harus apa? Tidak harus bersorak gembira 'kan untuk menunjukkan rasa suka? " sahutnya menjawab pertanyaan Murat.
"Apa kamu memang sekaku ini? Diam, dingin, tidak ada basa-basinya?" keluh Murat.
"Ck, biasa saja," sahut Eby.
Suasana kembali hening. Murat sudah kehabisan bahan untuk memulai obrolan dengan wanita itu.
Sejauh ini, ia sudah berusaha mengeluarkan sisi terkonyol dalam dirinya, demi bisa mendekati Eby. Namun rupanya tembok yang wanita itu bangun terlalu tinggi, hingga begitu sulit untuk ia bisa melewatinya.
Haruskah ia menyerah? Haruskah ia melupakan niatnya meraih hati wanita yang duduk di sampingnya kini? Apa dia harus merasakan patah hati bahkan sebelum menjalin cinta? Memikirkan itu, tanpa sadar Murat menarik nafas dalam dan menghembuskannya dengan kasar.
"Kenapa?" tanya Eby yang mendengar ******* kasar Murat.
"Tidak," sahut laki-laki itu.
__ADS_1
Keadaan macam apa ini? Kenapa sudah sejauh ini, tapi mereka tetap seperti orang asing saja rasanya.
"Murat," panggil Eby lirih.
"Iya,"
"Makasih ya, udah mau mengajakku ke tempat sebagus ini. Makasih juga karena sudah berusaha menghiburku. Maaf sudah banyak merepotkanmu selama ini."
"Kamu bicara apa? Kita berteman 'kan? Bukankah teman memang tempatnya saling berbagi?"
"Tapi nggak adil rasanya. Kamu selalu membagi kebahagiaan padaku, sementara aku hanya bisa membagi masalah padamu."
"Karena saat ini, itu yang kamu punya. Kalau nanti semua masalahmu sudah selesai, aku yakin kamu juga akan membagi kebahagiaan pada orang lain. Mungkin saat itu aku yang datang membawa kesedihan," sahut Murat.
Kini giliran Eby yang menarik nafas dalam.
Murat membalik badannya, menghadap ke arah Eby. Ia meraih tangan mungil yang semula menggenggam gelas karton itu.
"Jangan menyerah dan putus asa, By. Tuhanmu pasti menyiapkan rencana terbaik untukmu." Murat mencoba memberi semangat. Dalam hati ia merasa senang, rupanya prasangkanya beberapa menit lalu salah. Eby mau berbicara padanya, dan itu berhasil menyenangkan hatinya.
"Entahlah," sahut Eby. Ia melepaskan dengan pelan genggaman tangan Murat pada jemarinya, dan memilih memeluk lutut yang baru saja ia tekuk. Tatapan matanya menerawang ke langit yang bertabur bintang, serta bulan yang hanya nampak setengahnya.
Haruskah ia jujur? Pasti Murat akan kecewa jika tahu semua ini. Namun ia juga tidak mungkin menutupinya lagi. Laki-laki yang duduk di sampingnya sudah terlalu banyak membantunya selama ini.
__ADS_1
"Murat," panggil Eby lagi.
Murat yang kecewa karena Eby memilih menghindar dengan melepas genggamannya, hanya menoleh tanpa bersuara.
"Kenapa?" ucap laki-laki itu akhirnya, sebab Eby tidak kunjung melanjutkan ucapannya.
"Aku memutuskan akan berhenti bekerja di hotel," ucap Eby lirih sambil menatap wajah Murat dengan sendu.
Mata Murat membola. Ia menoleh ke arah Eby dengan raut terkejut yang tidak bisa ditutupi.
"Mungkin kota itu enggan menerima kehadiranku lagi. Terlalu banyak masa lalu di sana, yang datang silih berganti membawa luka dan rasa malu. Banyak hal yang terjadi membuat kepalaku rasanya mau pecah. Aku muak dengan semua yang terjadi." Eby berucap seolah mengerti dengan rasa kaget yang dialami Murat.
"Bukankah kamu tidak bersalah? Kenapa kamu yang harus mengalah? Kenapa membiarkan diri menjadi begitu lemah? Kenapa memilih pergi seperti pengecut? Bukankah itu justru membuat orang semakin berprasangka buruk tentangmu?" Murat tidak terima dengan keputusan Eby. Ia tidak ingin wanita di sampingnya itu pergi. Apapun alasannya, Murat hanya ingin melihat Eby berdiri tegak di tempatnya seperti biasa.
"Biarkan saja orang berpikir apa, aku tidak peduli. Aku lelah, aku muak dengan semua yang terjadi," Eby menelungkupkan kepala pada lutut yang ditekuknya. Tanpa sadar air matanya mengalir deras. Dadanya terasa sakit dan sesak, sebab terlalu lama menahan kepedihan seorang diri.
Murat mengusap lembut punggung wanita mungil itu. Berharap dapat memberi rasa nyaman, pada sosok yang semakin dicintainya.
"Bolehkah aku mengutuk takdirku, Murat? Bolehkah aku menyesal telah dilahirkan ke dunia ini? Sering kali aku merasa Tuhan mempermainkan hidupku. Apa kesalahan yang aku lakukan, hingga dunia seakan begitu membenciku?"
"By! Jangan bicara begitu! Kamu nggak selemah itu, hingga harus menyesali takdir."
"Yang kamu tau hanya sebagian kecil kehidupanku, Murat. Kamu nggak tau apa saja yang sudah kulalui. Masalah yang datang bertubi-tubi, memukul keyakinanku akan semuanya. Aku lemah Murat, hanya saja aku menutupi semua dengan sikap acuhku. Aku nggak sehebat yang kamu kira."
__ADS_1
Eby benar-benar menunjukkan sisi rapuhnya selama ini. Ia tidak segan meneteskan air mata, di hadapan Murat, hal yang selama ini pantang ia lakukan di hadapan orang lain.
Entahlah, mungkin karena putus asa, atau ada sesuatu yang lain, yang membuatnya nyaman membagi keresahannya pada laki-laki itu .