
Eby turun tepat di depan gang kecil menuju rumahnya. Mobil Harry tidak bisa masuk, sehingga terpaksa laki-laki itu mendorong dua koper milik sang sepupu, yang sudah melenggang terlebih dahulu.
"Dasar. Aku bener-bener dijadiin asistennya." Gerutu Harry menyusul Eby.
Beberapa tetangga penasaran dengan sosok wanita yang baru saja lewat dan bahkan menyapa mereka.
"Harry, tunggu." Wanita bertubuh subur, dengan daster batik, mendekati Harry.
"Yang tadi lewat itu siapa? Cantik banget? Itu pacar kamu?" Tanyanya penuh selidik.
"Kalau iya kenapa Bu? Ibu mau buat tumpeng selametan untuk saya? Atau mau pinjem toa di kantor desa buat kasih pengumuman ke seluruh warga?" Tanya Harry dengan wajah kesal.
Wanita subur itu seperti cctv berjalan, yang akan merekam setiap kejadian di sekitar, dan akan menyebarkan berita, lengkap dengan bumbu penyedapnya.
"Iiih kamu kok gitu sih? Saya kan nanya baik-baik. Dasar bujang lapuk, pantesan nggak laku!" Ketusnya lalu pergi.
"Yeee ... Malah ngatain?" Harry benar-benar dibuat kesal oleh tetangga Eby, yang juga menjadi tetangga jauhnya itu.
"Ibuuu, Yaaah," sejak tadi Eby memanggil nama kedua orang tuanya, namun tidak kunjung mendapat jawaban.
"Mereka pada kemana sih?" gerutunya, membuka gagang pintu.
Pintu depan itu tidak terkunci. Eby masuk sembari terus manggil nama ayah dan ibunya secara bergantian.
"Bu, coba liat. Sepertinya ada yang datang." Lingga meminta istrinya untuk memastikan sumber suara.
"Iya Yah, sebentar." Rupanya kedua orang tua itu tengah berada di dalam kamar mereka.
Karina, nama ibu tiga anak itu keluar sembari membenarkan ikatan rambutnya. Gerakan tangannya terhenti, begitu melihat anak yang selama tiga tahun, hanya bisa ia dengar suaranya, tanpa dapat ia sentuh wajahnya, kini berdiri tepat di depan mata.
__ADS_1
"Eby, ini kamu nak?" Serasa tidak percaya, Karina menyentuh wajah Eby.
"Iya, Bu. Ini Eby."
"Oh ya ampun nak, katanya kamu pulang bulan depan." Karina memeluk anaknya dengan erat.
Rasanya sangat bahagia melihat putrinya sudah tiba dengan selamat. Ia mengusap wajah Eby, dan menelitinya dengan mata berkaca-kaca.
"Bu, siapa yang datang?" Lingga, sang suami merasa penasaran.
"Yah, Eby yah. Eby udah pulang," dengan girang Karina memanggil suaminya.
Eby mendekati kamar orang tuanya. Di dalam sana, lingga dengan tertatih bangkit dari tempat tidur, berniat menemui sang anak.
"Yah, Eby bantu." Eby berniat membantu ayahnya untuk berdiri. Namun sebelum itu, sang ayah sudah memeluknya terlebih dahulu.
"Nak, kamu sehat-sehat kan? Katanya bulan depan baru bisa pulang?" Pertanyaan yang sama keluar kembali dari mulut Lingga.
Mereka bertiga keluar menuju ruang tamu. Eby memapah ayahnya yang berjalan dengan terpincang. Kaki kiri Lingga belum bisa berfungsi dengan baik, akibat struk yang menyerangnya beberapa bulan lalu.
"Loh Harry?" Karina terkejut melihat keponakannya sudah duduk dengan kopi hangat di depannya.
"Kamu bikin kopi sendiri, Ry?" tanya Eby.
"Iya lah, tuan rumahnya sibuk." Sahutnya sembari mengunyah kacang bawang yang juga ia ambil di dapur rumah itu.
"Sopan sekali ya tamunya?" sindir Eby lagi. Ia duduk di samping laki-laki itu.
Harry tidak menanggapi ucapan sepupunya. Ia memilih menanyakan kabar sang paman, yang terlihat sudah lebih baik dari saat terakhir ia datang berkunjung
__ADS_1
"Om, gimana kabarnya? Masih rutin terapi?" tanyanya.
"Sudah lebih baik, Ry. Ini sudah ada rasanya sekarang. Yaa meskipun masih susah digerakkan." ucap Lingga, sambil menyentuh kaki kirinya.
"Syukurlah. Semoga nanti bisa berjalan dengan normal ya, Om. Nanti jaga pola makannya, jangan melanggar pantangan dokter."
"Hehehe iya. Harus tahan nggak makan bek ngenyol sama lawar merah." Kekeh laki-laki paruh baya itu, sambil mengurut-urut kakinya yang sakit.
"Jangan lah mikirin makanan itu. Bila perlu ubah pola pikir om, yakinkan kalau makanan itu nggak enak, bikin enek. Pokoknya pikirkan kalau makanan itu nggak sesuai sama selera om."
"Ya nggak bisa, Ry. Masak makanan enak begitu dibilang nggak enak? Sekarang aja om udah ngiler, bayanginnya."
Eby menyimak obrolan keduanya, tanpa bermaksud menyela sedikit pun.
Dari dulu, Harry dan sang ayah memang akrab. Keduanya betah berbincang lama, bahkan sampai lupa waktu. Sering Eby mengusir sepupunya itu, dulu. Karena mengajak ayahnya begadang menonton bola sampai dini hari.
"By, minum dulu tehnya." Karina datang membawa nampan dengan teh dan kue kering di atasnya.
Mereka berbincang ringan, sebelum Harry memutuskan pamit pulang ke rumahnya.
Namun sebelum itu, Eby memberi sepupunya oleh-oleh yang sudah ia siapkan, serta amplop yang sempat Harry tolak.
"Kamu kayak sama siapa aja, By. Nggak usah pakai gini-ginian lah ...." Ucap Harry tidak suka.
"Bawa aja, Ry. Jangan anggap itu ongkos. Anggap aja Eby lagi berbagi rejeki." Karina ikut membujuk.
"Besok-besok jangan gini lagi, By. Aku nggak suka."
"Iyaaa, udah sana. Makasih yaaa," usir Eby.
__ADS_1
Harry berlalu dengan membawa semua yang Eby berikan untuknya. Sebuah tas belanja berisi jaket dan parfum serta amplop putih yang ia belum tahu isinya berapa.