
"Jangan berprasangka buruk, Ma. Kita nggak tau kenyataannya seperti apa. Mungkin aja kita sedang salah paham," ucap Eby namun matanya tidak mau menoleh ke arah sang adik.
Tama mendengus.
"Heh, aku salah paham? Mba, jangan bodoh! Jangan membohongi perasaan. Mba mencoba menyangkal setiap berita buruk yang mba terima, itu tidak akan mengubah kenyataan kalau dia memang bajingan, mba! Aku nggak semudah itu percaya pada berita, yang sumbernya nggak bisa aku percaya. Aku bahkan mencari tahu sendiri apa yang terjadi, dan kenyataannya ...."
"Apa?"
"Dia bukan hanya brengsek, tapi juga penipu."
"Maksud kamu?"
Tama terdiam. Ia mencoba merangkai kalimat yang tepat, untuk menjelaskan apa yang ia ketahui tanpa membuat sang kakak semkin terluka. Namun rasanya tidak mungkin. Hati kakaknya bukanlah besi berkarat yang tidak akan berdarah bila teriris belati.
"Ma, katakan apa yang kamu tahu?"
"Udah malam mba, sebaiknya kita pulang." Tama bergegas hendak bangkit, namun tangannya dicekal oleh Eby.
"Jangan anggap mba wanita rapuh dan lemah, hingga tidak bisa menerima kenyataan. Mba akan baik-baik saja, dengan atau tanpa ada laki-laki di hidup mba." ucap Eby meyakinkan adiknya. Namun Tama sudah melihat dan mendengar tangis pilu Eby, beberapa saat lalu.
Kakaknya itu sangat terluka oleh berita yang menyebar di medi sosial, padahal itu hanya sekelumit kisah yang menjadikan William sebagai pemeran utamanya. Lalu bagaimana jadinya perasaan Eby jika tahu lebih banyak lagi kebusukan William?
"Ma, please ..."
"Tapi mba janji ya, mba akan baik-baik saja setelah tau semuanya."
"Mba janji." ucap Eby mantap.
Tama akhirnya memulai ceritanya dari awal.
"Sebenarnya aku mulai curiga sama dia sejak setahun mba berangkat. Dulu awal-awal, dia sering datang ke rumah. Dia juga rajin teleponin aku, nanyain kabar ayah dan ibu. Namun seiring berjalannya waktu, ia semakin jarang datang berkunjung. Alasannya sibuk dengan proyek rumah yang kalian bangun. Tapi meskipun begitu, seenggaknya kan dia bisa nanyain kabar lewat telepon kan?"
"Kenapa nggak pernah cerita sama mba?" kesal Eby.
Sebab setahu dia, William tidak pernah berubah. Meski komunikasi mereka tidak terlalu intens, namun yang membuat hubungan mereka bertahan adalah, karena Willi memiliki hubungan yang cukup dekat dengan keluarganya begitupun sebaliknya. Eby masih tetap menjalin komunikasi dengan orang tua dan kakak William.
__ADS_1
"Aku nggak mau mba sakit, dan sampai menganggu pikiran mba di sana. Lagi pula, itu bukan masalah yang harus dibesar-besarkan," jelas Tama.
"Lalu apa lagi yang kamu tau?"
"Waktu ayah sakit beberapa bulan lalu, mba minta dia untuk kasih uang kiriman kan? Dia kasih, ke ibu waktu itu. Tujuh juta. Kata dia, yang lima juta dari mba, uang untuk beli keramik awalnya, kan? Dan dua juta lagi, uang dia sendiri yang dikasih ke ibu. Saat itu ibu senang sekali. Ibu terus memujinya. Beberapa saat setelah menengok ayah, aku ajak dia ngobrol di luar, dia sempat keceplosan. Dia bilang kalau mba kirim uangnya sepuluh juta. Tapi segera dia ralat, kalau uang lima jutanya sudah dia pakai untuk DePe bahan. Dia kayak gugup gitu ngomong sama aku. Padahal, sekalipun uangnya sudah dia belanjakan terlebih dahulu, nggak masalah bukan?"
"Jadi itu mangkanya kamu tanya soal berapa uang yang mba kirim untuk berobat ayah?"
Tama mengangguk.
"Kenapa nggak bilang sih, Ma? Harusnya kamu cerita donk sama mba! Kamu tau, seminggunya lagi, mba transfer kembali sepuluh juta sama dia, karena mba kira dia kasih duitnya utuh semua sama ibu."
Tama menggeleng,
"Aku nggak enak mba. Aku tau mba berjuang untuk banyak hal di sana. Saat itu pikirku, mungkin kalian belum sempat berkomunikasi. Jadi dia belum jelaskan ke Mba, soal uang yang sudah dia pakai. ucap Tama.
Sebenarnya saat itu ia sempat berdebat dengan ibunya, soal uang kiriman dari sang kakak.
Dia berniat menceritakan berapa jumlah uang yang diberikan William pada ibunya, namun Karina mencegahnya.
"Aku tau, Bu. Aku hanya ingin kasih tau mba Eby, berapa uang yang diberikan William ke ibu, mungkin aja dia bohong. Dia korupsi uang mba Eby."
"Nggak mungkin, Ma. Mereka kenal bukan sehari dua hari, tapi tahunan. William bukan laki-laki seperti itu kok. Bahkan kemarin uang pribadinya kan di kasih ke kita untuk tambahin uangnya Eby?"
Perdebatan dengan sang ibu membuat Tama jengah. Ia memilih pergi ke taman rumah sakit untuk menenangkan diri, setelah mengucapkan kata "terserah ibu saja lah."
Kepala Eby berdenyut sakit. Hatinya semakin perih, menyadari selama ini ia ditipu oleh laki-laki yang dicintainya.
"Tapi aku sempat berubah pikiran, Mba. Aku merasa ucapan ibu benar, sebab sejak ayah ada di rumah sakit, dia beberapa kali datang dan intens telepon nanyain kabar ayah. Itu, kenapa aku memutuskan untuk nggak cerita apa-apa sama mba. Aku nggak mau meracuni pikiran Mba, yang membuat hubungan kalian hancur.
Aku pikir, setiap hubungan pasti ada cobaannya, dan setiap manusia pasti pernah mengalami kekeliruan dalam hidup. Dan ggak berselang lama, Mba telepon dengan kabar bahagia, kalian akan segera menikah, setelah Mba balik dari Turki. Aku semakin yakin kalau dia pilihan terbaik untuk Mba. Tapi lagi-lagi, tanpa sengaja aku dapet berita yang bikin aku jadi emosi."
Tama mengambil ponsel di saku jaket, dan membuka akun Ig miliknya.
"Ini, mba bisa cari tau semua di sini." Laki-laki itu menyerahkan ponsel yang menampilkan profil Amanda ke hadapan Eby.
__ADS_1
Eby menerima dengan tangan gemetar. Dengan pelan ia menggeser layar ponsel adiknya.
Air matanya kembali mengalir. Semakin banyak gambar yang ia lihat, dadanya semakin sesak.
"Baca komen orang-orang, Mba. Di sana mba akan tau, sudah sejauh apa hubungan mereka."
Seperti terkena hipnotis, Eby mengikuti ucapan Tama.
"Selamat Manda, πππlancar sampai hari H, ya,"
"Nah gitu donk, hubungan jangan diumpetin. Sekali-sekali kasih liat pangeran pujaanmu,"
"Waaaah Manda π³π³π³ diam-diam menghanyutkan. Selamat sista πππ"
Di postingan Amanda yang tidur bersama William, komentar orang-orang bahkan lebih banyak lagi.
"Ooouh seseksi ituuu, pantas saja kamu tergila-gila, Nda."
"Iya donk πππ.
Dan seperkasa itu π€π€π€," balas Amanda.
Eby membacanya, sambil meremass baju yang ia gunakan.
"Jangan sering di pamerin, Nda. Rahimku bergetar, ingin ikut dihangatkanπππ"
"janc**k π π π " tulis Amanda.
"Pantas cepet jadi, rajin disiram rupanya."
"Bibit unggul di lahan subur, say π€£π€£π€£"
Di sini Amanda rajin membalas komentar orang-orang.
Eby merasa tubuhnya lemas. Tangis pilunya kembali pecah, begitu menyayat di telinga Tama.
__ADS_1
"Sudah Mba, jangan ditangisi. Laki-laki seperti dia nggak berhak membuat mba seterluka ini." bujuk Tama, mengusap punggung kakaknya.