Luka Di Ujung Asa

Luka Di Ujung Asa
Bab 73


__ADS_3

Seiring berjalannya waktu, kedekatan Eby dan Murat semakin nampak kentara di lingkungan kerja wanita itu. Hingga gosip miring tentang dirinya semakin liar beredar. Tidak bisa dihindari, sebab meski berulang kali Eby meminta Murat untuk menjaga jarak saat di hotel, tapi pria bertubuh tinggi itu mengabaikannya.


Seperti saat ini, pria dengan jambang menghiasi hampir seluruh pipinya itu, datang menghampiri Eby dan mengajak wanita itu makan siang bersama.


Awalnya Eby menolak, dengan alasan sudah membawa bekal. Namun Murat dengan akal liciknya, justru menyerang Sarah yang menjadi partner shiftnya Eby, menuduh wanita itu yang menggosipkan Eby hingga Eby tidak mau makan siang bersamanya.


Sarah tentu membantah, dan meminta Eby untuk ikut bersama Murat. Hingga dengan terpaksa Eby menuruti keinginan laki-laki itu.


"Memangnya kenapa? Kita teman. Apa salah kalau memberikan perhatian pada teman?" tanya Murat saat Eby protes akan sikapnya.


"Boleh tidak aku bilang menyesal, menerimamu menjadi teman?" kesal Eby dengan tatapan tajam.


Murat tertawa. Ia mengacak rambut Eby hingga berantakan. Membuat wanita itu semakin merengut kesal.


"Kalau kamu tidak mau berteman denganku, tinggal aku kembali menguntitmu. Membuatmu merasa tidak nyaman. Atau sekali-kali aku bisa menakutimu. Gampangkan? Aku kira lucu, melihat wajahmu yang jutek ini ketakutan," ucap Murat dengan senyum menyebalkan.


"Ish, kau ini sungguh menyebalkan!" Eby memalingkan wajahnya.


"Aku tidak nyaman menjadi pusat perhatian orang, setiap kali kamu mengajakku keluar," keluh Eby mengutarakan isi hatinya.

__ADS_1


"Kenapa memikirkan orang lain? Memangnya dia yang kasih kamu makan? Kan tidak. Yang traktir kan aku," sahut Murat.


Eby hendak protes, mulutnya sudah setengah terbuka hendak membantah.


"Sudah, jangan ngambek terus. Cepat makan, nanti jam makan siangmu habis sia-sia," titah Murat, mendekatkan piring putih berisikan pasta ke hadapan Eby.


Dengan malas Eby menuruti ucapan laki-laki itu. Ia makan dengan khidmat, tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


Di kepalanya timbul berbagai macam pertanyaan tentang hubungan yang saat ini terjalin dengan atasannya itu.


Apakah ia harus menjauh, agar tidak lagi menjadi bahan gosip rekan kerjanya? Tapi bukankah dia sudah berjanji akan menerima Murat sebagai teman, seperti yang terjalin antara dirinya dan Ratih? Ia juga tidak bisa mengabaikan permintaan Ahmed untuk menjaga Murat di kota ini. Membayangkan semua itu membuat Eby merasa kesal sendiri.


"Beda kelas ya, targetnya. Ati-ati aja kena penyakit menular. Jangan karena biar terlihat keren, mau-maunya dijadikan piaraan," ucap Sarah, wanita yang sejak awal sudah menampakkan rasa tidak sukanya pada Eby.


Eby mengabaikan ucapan itu. Ia berusaha bersikap tenang. Bukan karena ia takut, melainkan malas berurusan. Drama dalam kehidupannya sudah begitu banyak, ia tidak ingin menambah episode lagi di tempat kerja.


Jika dulu saat masih merantau ia mendengar kalimat seperti ini, sudah dipastikan mulutnya akan membalas dengan tidak kalah pedas. Namun mungkin karena cobaan bertubi-tubi yang dialaminya, membuat Eby menjadi lebih kalem saat ini. Ia hanya membalas semua sindiran itu dengan senyum tipis, yang membuat Sarah menjadi semakin kesal.


Eby tidak menyangka, Sarah akan kembali menyerangnya saat rekan shift kedua datang. Wanita dengan tatapan mata judes itu kembali memanasinya dengan sengaja bergosip di depannya.

__ADS_1


"Kerja yang rajin ya gess, jangan tebar pesona kalian berdua nanti. Ingat kita di sini cari duit halal, bukan mau nawarin apem ke big bos. Takut iih, kena penyakit menular nanti."


"Memang ada yang kerja di sini hanya kamuflase doang?" tanya rekan yang lain, sembari melirik Eby.


"Bunglon kali, kamuflase," sahut rekan satunya lagi.


Mereka bertiga tertawa mengejek, mengabaikan Eby yang masih mencoba tenang.


"Ih kamu nggak tau, ya? Di sini tuh ada tau yang jadi piaraan big bos . Ati-ati aja, ntar kena virusnya. Lagaknya aja sok kalem, padahal aslinya, beuh! Jangan ditanya. Entah sudah berapa batang yang nyobain lobangnya!" sahut Sarah semakin berapi-api.


Detik itu juga amarah Eby tidak bisa ditahan lagi. Ia bangkit dan langsung menyerang Sarah dengan mencekik leher wanita itu.


"Kayanya selama ini aku terlalu lembut bersikap sama kalian. Terutama sama kamu! Sehingga mulut sampahmu semakin hari semakin menjadi saja menghina orang lain. Apa tadi kamu bilang? Aku piaraan? Sekalipun iya, apa urusannya sama kamu? Pernah aku ngerugiin hidupmu? Sekali lagi mulut busukmu ini bicara yang bukan-bukan, siap-siap aja. Kamu bakal liat wujudku sebenarnya." Eby tidak langsung melepaskan cengkraman di leher Sarah, wanita itu sedikit mengangkatnya, baru setelah itu ia lepaskan. Ia kembali duduk di tempat sebelumnya, menyelesaikan pekerjaan, seolah tidak terjadi apa-apa.


Sementara Sarah masih mengatur nafas yang semula sempat tersendat, mengusap-usap lehernya yang terasa perih. Ia tidak menyangka mendapat serangan mendadak dari Eby. Sedangkan dua rekan kerja yang lain masih berdiri kaku, tidak berani bergerak sedikitpun. Mereka semua terlihat shock.


Telepon yang terletak di atas meja resepsionis berdering. Menyadari tidak ada yang menerimanya, Eby bangkit untuk menjawab panggilan.


"Hallo, selamat datang di hotel XX. Ada yang bisa kami bantu?" sapanya dengan suara lembut dan ramah.

__ADS_1


"good job sweety" sahut panggilan dari seberang.


__ADS_2