
Udara sejuk menyapa keduanya begitu memasuki kawasan hutan yang dituju.
Jembatan kayu yang terpasang rapi memudahkan pengunjung menikmati panorama alam yamg menyegarkan mata.
Harry membiarkan Eby berjalan agak jauh di depannya. Memberi kesempatan wanita itu menikmati kesendirian, berteman kenangan yang mungkin belum ikhlas Eby lepaskan.
"Andai kita tidak terikat pertalian darah, aku pasti akan mementaskan diri berdiri di sampingmu, By. Kamu terlalu berharga untuk disakiti. Tapi aku tahu, kamu tangguh dan tidak ingin dikasihani." gumam Harry berjalan pelan mengikuti langkah Eby.
Berdosa kah Harry, jika rasa yang ia punya jatuh pada orang yang tidak tepat?
"Ry! Cepet! Fotoin aku di sini," Suara Eby mengejutkan lamunannya.
Ia bergegas mendekat, menuruti ucapan wanita itu untuk mengambil beberapa foto di tempat-tempat yang Eby inginkan.
Harry yang usil juga mengambil video live di akun media sosialnya tanpa diketahui oleh Eby.
Mereka menyusuri hutan yang memiliki luas lebih dari 1000 hektar tersebut. Tentu tidak semua tempat mereka jelajahi, hanya beberapa yang memang umum dikunjungi wisatawan.
"Di bagian mananya, mangrove yang baru di tanam pas event itu, Ry?" tanya Eby, saat menyadari tempat yang mereka lalui masih sama seperti tiga tahun yang lalu.
"Beda tempat. Itu yang di turtle island," sahut Harry, yang berjalan bersisian di samping Eby.
"Ooww ... Kirain di sini juga di tanamnya." gumam Eby, sambil terus berjalan pelan.
Puas menikmati suasana berbeda di tengah kota, mereka memutuskan kembali sebab hari sudah sore.
"Gimana? Happy nggak udah dapat jalan-jalan?" tanya Harry.
"Happy kok, makasih ya, Ry." sahut Eby tersenyum tipis.
__ADS_1
"Happy kok mukanya cemberut gitu?" protes Harry lagi.
"Nggak, biasa aja."
"Kamu pasti iri, liat pasangan yang barusan lagi foto pre-wed itu ya?" tebak Harry lagi.
Wajah Eby berubah tidak senang mendengar ucapan sepupunya. Namun ia tidak menanggapi, ia hanya memalingkan wajah menatap jalan yang cukup padat.
"Becanda, By. Jangan cemberut gituu ...." Harry menjawil dagu sepupunya menggunakan tangan kiri, sementara tangan kanannya tetap memegang stir.
🌟🌟🌟
"Kamu beneran nggak pa-pa aku tidur di kamarmu?" Eby menatap Harry yang bersiap keluar kamar.
Sebenarnya dia ingin mencari penginapan, namun Harry melarang dan meminta agar dirinya tinggal di kostnya. Sementara sang pemilik kamar memilih mengungsi di kamar temannya.
"Tapi aku nggak enak sama yang lain,"
"Yang lain siapa? Di sini nggak ada yang saling usil urusan orang, By. Sama-sama sibuk dengan urusan masing-masing."
"Thanks ya kalau gitu."
Harry mengangkat tangannya, menyatukan jari telunjuk dan jempol membentuk huruf O. Setelahnya, ia benar-benar keluar meninggalkan kamar yang sementara waktu berpindah tangan pada Eby.
Eby baru saja selesai membersihkan tubuh, dan sedang mengoleskan skin care ke wajah, ketika pintu kamarnya diketuk dari luar.
"By, ada telepon ...." Suara Harry terdengar mengikuti ketukan yang belum berhenti itu.
"Iyaaa, sebentaar." sahut Eby bergegas membuka pintu.
__ADS_1
"Siapa, Ry?"
"Santi, temen SMAmu." Harry mengulurkan ponsel miliknya.
"Makasih, Ry. Nanti aku kembalikan."
"Jangan lama, By. Aku lagi mabar!"
"Iyaaaa." Eby menutup pintu kamarnya kembali, sebelum menyapa sahabat lamanya itu.
"Hai, San ...." sapa Eby setelah ia sudah duduk di atas kasur.
"By," seorang wanita cantik menyapanya.
"Kapan pulang? Kok nggak pernah berkabar sih?"
"Sorry, San. Lagi banyak urusan soalnya. Kamu gimana kabarnya? Lagi di mana sekarang?"
"Aku baik, kamu gimana? Main ke sini donk ... Kamu belum pernah liat anakku, kan?"
"Iya ya, anakmu pasti lagi imut-imutnya sekarang. Nggak kayak mamaknya, amit-amit." kekeh Eby sambil tertawa jahat.
Melihat temannya cemberut, Eby semakin senang menggodanya.
Mereka berbincang cukup lama, hingga Harry datang lagi mengetuk pintu kamar, barulah Eby sadar jika ponsel yang digunakan itu, milik sepupunya.
"San, aku kirim nomor wa-ku, ya. Nanti kamu telepon ke sana aja. Ini si Harry udah ngomel, hapenya kelamaan aku pinjem." Setelah mendapat anggukan dari Santi, Eby segera memutus panggilan dan mengirim nomor Wanya pada sang sahabat.
__ADS_1