
"Mba, mau mampir ke warung nasi bek guling?" tanya Tama di tengah perjalanan.
"Boleh. Kamu tau tempat makan yang enak?"
Tama mengangguk.
"Ada warung baru, baru buka sekitar setahun yang lalu . Nggak jauh kok dari sini. Kita ke sana yuk,"
"Boleh, gass lah." sahut Eby.
Tama menambah kecepatan motornya, menuju warung yang ia maksud.
Sepi, tidak ada percakapan apapun lagi di antara keduanya.
Tama memberi waktu untuk Eby menenangkan diri. Membiarkan sang kakak menikmati gemuruh perasaan yang terpendam.
Eby memang hebat, tidak ada satu tetes air mata pun keluar, saat di rumah orang tua William. Namun Tama tahu, hati kakaknya meringis sakit. Luka tak berdarah yang William berikan, mungkin sulit menemukan obatnya.
Sementara Eby, berulang kali wanita itu menarik nafas dalam sekadar ingin melonggarkan paru-paru. Seperti ada beban besar yang menghimpit bilik udaranya, ia selalu merasa kehabisan nafas.
__ADS_1
Berusaha mengenyahkan memori perih yang baru saja ia alami, namun sialnya pahit itu begitu melekat, dan seperti magnet yang terus menyeret ingatannya.
"Mba, udah sampai." ucapan Tama mengejutkannya.
Sangking asyiknya melamun, Eby sampai tidak menyadari kemana arah motor Tama melaju.
"Oh, udah sampai ya?" tanyanya sambil matanya liar memerhatikan sekitar. Lalu tidak berselang lama, ia mengajak Tama agar segera masuk dan memesan makanan.
Eby memang jagonya menutupi perasaan.
Dari luar, tidak ada seorang pun yang bisa membaca luka hati yang ia rasa. Gemuruh patah hati, mampu ia redam dengan senyumnya yang menawan.
Setelah merasa cukup beristirahat, mereka kembali melanjutkan perjalanan pulang ke rumah.
"Ada yang mau mba kunjungi ngga? Atau kita langsung pulang aja?" tanya Tama.
"Langsung pulang aja, Ma. Mba mau istirahat. Capek banget, leher mba rasanya pegel." pinta Eby, yang ingin segera merebahkan tubuh, dan membenamkan diri ke dalam mimpi.
"Oke deh mba."
__ADS_1
Di perjalanan, Eby memikirkan apa yang harus ia lakukan ke depan. Rasanya ia ingin pergi ke suatu tempat di mana tidak ada kenangan dirinya dan Willi di sana. Tapi ke mana? Rasanya di tiap sudut pulau itu, mereka pernah punya cerita.
Willi yang hangat dan romantis, sangat suka mengajaknya pergi ke tempat-tempat wisata. Bahkan yang Eby tidak tahu pun, Willi pasti mengetahuinya.
Mereka memiliki hobi yang sama, yaitu berlibur, jalan-jalan dan wisata kuliner.
Namun ternyata semua kesamaan itu, tidak cukup untuk membuat dua anak manusia bersatu dalam ikatan pernikahan.
"Adakah tempat di mana aku bisa melupakanmu, Will? Rasanya aku tidak sanggup mengirup udara yang sama di pulau ini bersamamu. Kita melewati banyak waktu berdua, mengunjungi banyak tempat wisata, berdua. Naik motor, hujan-hujanan, dan semua itu, kini seolah menertawakan ku." gumam Eby, saat tanpa sengaja matanya melihat papan reklame sebuah pemandian air hangat, yang mereka pernah kunjungi berdua.
Pikiran Eby terus berputar, menimbang baik dan buruk jalan yang akan ia ambil ke depan.
Kembali merantau demi menghindari masa lalu, tapi resikonya adalah berpisah jauh dari keluarga, atau tetap di tempat kelahirannya, dengan kenangan yang terus menari menyiksa mata dan hatinya.
Hari sudah sore ketika Eby dan Tama tiba di rumah. Keduanya disambut wajah khawatir Karina di teras depan.
"By," ibu tiga anak itu menyusul Eby yang baru saja turun dari kuda besi milik Tama. Entah siapa yang memberi tahukan semua, atau mungkin naluri seorang ibu yang membuatnya yakin, jika Eby pergi menemui kekasihnya.
"Kamu baik-baik aja, kan?" tanya ibu tiga anak itu, dengan suara sedih.
__ADS_1