
Eby tengah menikmati suasana sore, di pantai dekat rumahnya. Duduk di atas batu-batu kerikil, sembari melihat anak-anak kecil yang asik bermain air.
Ia sedang berusaha mengalihkan pikiran, agar tidak terus mengingat perdebatan Tama dengan kedua orang tuanya.
Ponsel di saku celananya berdering. Eby segera mengangkatnya.
"Halo Sur, gimana?" tanyanya, tidak sabar.
"Halo By,"
Hening, temannya yang bernama Surya tidak melanjutkan ucapannya.
"Surya, gimana?" desak Eby lagi.
"By, kamu yakin mau tau semua tentang William?" tanya Surya ragu.
"Yakin lah. Udah cepetan kasih tau aku, informasi apa yang kamu dapat?"
"Tapi kamu jangan berbuat nekat ya, setelah tau apa yang terjadi. Aku nggak mau jadi penyebab kamu bunuh diri."
"Oh, astagaaaa. Nggak mungkin aku sebodoh itu, Surya! Udah cepetan kasih tau," meski perasaannya tidak enak, Eby berusaha setenang mungkin berbicara dengan laki-laki di seberang.
"Kamu coba cek akun Ig @amanda_cantika deh, di sana kamu bakal liat kabar terkini tentang mereka berdua."
"Aku nggak ada Ig, Sur. Kamu kasih tau aja, apa susahnya sih?" kesal Eby. Sejak tadi ia menunggu kabar, masa hanya itu yang ia dapatkan?
__ADS_1
Sementara di seberang sana, Surya merasa tidak enak hati memberi tahukan semua pada Eby.
Laki-laki itu tahu bagaimana perjuangan Eby, sampai harus merantau ke negri orang demi mewujudkan mimpinya.
Ia mengira hubungan Eby dengan pacarnya sudah berakhir. Sebab beberapa kali sempat melihat William bersama seorang wanita, entah itu di kafe, atau di jalan raya.
Dan tadi pagi, ketika Eby memintanya mencari tahu soal William, barulah ia sadar kalau selama ini temannya sudah di duakan.
"Sur,"
"By, kayaknya si William bakal nikah deh. Dia udah foto prewedding soalnya. Trus dari komen yang aku baca, sepertinya calon istrinya udah hamil. Nanti aku kirim screen shot foto sama komen-komenan orang di akun cewek itu." Surya dengan terpaksa menjelaskan pada Eby, apa yang ia ketahui.
Eby yang mendengar berita itu, tentu merasa sangat terluka.
Bukan hanya terluka, bahkan perasaan marah, benci dan kecewa menjadi satu, membuat tubuhnya bergetar dengan dada berdegup kencang.
"Kamu yakin kalau itu William? Bukan orang yang mirip dengannya?"
"Mangkanya kamu cari tahu sendiri. Siapa tau memang ada laki-laki dengan wajah dan nama yang sama, tapi itu bukan pacar kamu." sahut Surya.
"Sebenarnya, beberapa kali aku sempat liat dia, lagi bareng cewek itu. Aku pikir hubungan kalian sudah berakhir, hingga dia berani jalan sama cewek lain. Itu mangkanya tadi aku kaget, saat kamu minta aku cari tau soal dia."
"Kami nggak pernah putus, Sur. Hubungan kami baik-baik aja, bahkan aku sama dia sudah merencanakan pernikahan beberapa bulan lagi," lirih Eby
"Oh astagaaa, By. Jadi William bohongin kamu? Brengsek juga ternyata dia ya?"
__ADS_1
Eby tidak bisa melanjutkan obrolannya dengan Surya. Ia seolah kehabisan oksigen di rongga dadanya, yang membuatnya merasa sesak nafas.
"Ee Sur, makasih ya untuk infonya. Maaf ganggu waktu istirahatmu." Sebisa mungkin Eby menyembunyikan kesedihannya.
"By, kamu nggak pa-pa kan? Ingat pesen aku, jangan nekat. Jangan mati konyol. Cowok kayak dia nggak pantas untuk kamu tangisi."
"Iya, makasih, Sur." Eby segera mematikan sambungan telepon dengan temannya.
Usahanya untuk berpikir positif ternyata gagal. Hulu hatinya terasa nyeri, terluka tapi tidak berdarah.
William, laki-laki yang dia cintai, ternyata sekejam itu menikamnya dari belakang.
Ia membenamkan wajah, di antara kedua lutut yang ia peluk dengan erat. Tangis wanita itu pecah, begitu pilu, begitu menyayat, menyesakkan hati yang mendengarnya.
"Mba," sebuah tangan besar menyentuh pundak Eby.
"Sudah cukup. Jangan menangis lagi. Dia nggak pantas mba tangisi sampai seperti ini."
Suara berat Tama, menyadarkan Eby dari keterpurukannya.
"Ma, kenapa sudah pulang? Kamu bilang mau kerjain tugas kampus?" Eby menghapus dengan cepat sisa air mata di pipinya.
Tama melepas tangan yang semula merengkuh bahu kakaknya. Ia memilih duduk di samping Eby, ikut menatap deburan ombak yang semakin besar.
"Mba, aku senang mba mengetahui kebusukan William. Meski menyakitkan, setidaknya mba nggak terus menerus hidup dalam angan dan janji palsunya." ucap Tama, setelah beberapa saat mencoba merangkai kata yang tepat di kepalanya.
__ADS_1
Eby tidak menanggapi ucapan adiknya. Hatinya masih enggan menerima semua berita dan cerita tentang laki-laki yang dicintainya.