
Eby dan Ratih duduk di salah satu kursi yang ada di depan Indomaret. Mereka menikmati minuman dan roti yang baru saja mereka beli, sembari menunggu tunangan Ratih datang menjemput.
"Gimana perasaanmu sekarang, By?" tanya Ratih memulai obrolan.
Eby mengerutkan kening, merasa bingung dengan pertanyaan sahabatnya itu.
"Maksudnya?"
"Ya perasaan kamu sekarang. Setelah tadi ketemu sama Willi, ngomong banyak hal sama dia, apa yang kamu rasain sekarang?" jelas Ratih.
"Mmmm," Eby diam sejenak. Memainkan botol kopi kemasan yang baru ia teguk setengahnya. Ia mencoba meraba apa yang ia rasa kini.
"Merasa lega, sih. Kayak sesuatu yang mengganjal di hati itu hilang. Kenapa gitu ya?" Sorot matanya menatap Ratih yang juga tengah memerhatikannya.
Ratih tersenyum. "Itu tandanya kamu memang sudah benar-benar ikhlas maafin dia. Nggak ada dendam dan sakit hati lagi. Yaah, semoga aja harapan keluarganya terkabul. Willi benar-benar segera membaik setelah ini." ucap Ratih memberi penjelasan.
"Kamu percaya?" tanya Eby lagi, yang merasa ragu dengan apa yang sudah ia lakukan beberapa saat lalu. Benarkah maafnya begitu berarti untuk kesembuhan mantan kekasihnya itu?
"Kamu pernah dengar nggak? Doa orang tersakiti itu langsung tembus ke langit lho! Apa yang kamu katakan, yang kamu rasakan, itu didengar oleh penghuni langit," sahut Ratih.
"Tapi aku nggak pernah doain yang buruk ke dia," sanggah Eby. Ia tidak ingin Ratih salah mengerti. Selama ini ia memang terluka dan amat kecewa, tapi tidak pernah sekalipun ia meminta pada Tuhan, untuk menghukum Willi seperti saat ini.
"Itu namanya pembalasan Tuhan, By. Kamu yang udah setulus itu diperlakukan nggak adil sama orang lain. Ya mungkin malaikat nggak terima," jelas Ratih lagi.
Eby menatap Ratih dalam. "Kok kamu bisa ngomongin yang begini, sih? Tunanganmu itu yang ngajarin kamu?" tanya Eby. Tidak menyangka Ratih akan berkata seperti barusan.
"Maksudnya?" Kini giliran Ratih yang mengerutkan kening tanda tidak mengerti.
"Ya ucapan bijak ini. Apa pacarmu yang ajari kamu? Aku sangsi ini semua murni keluar dari kepalamu, soalnya," ucap Eby, menatap lekat sahabatnya. Ia sampai mencondongkan badan untuk melihat reaksi Ratih.
__ADS_1
"Apaan sih! Nggak lah! Bukannya itu pengetahuan umum ya?" sahut Ratih dengan pipi merona. Ia malu diperhatikan sedekat itu oleh Eby.
"Kirain," ucap Eby lagi dengan senyum mengejek.
"Kamu tuh nggak pernah berubah, ya. Diajak ngomong serius, malah ngeledek!" sungut Ratih dengan wajah kesal.
Eby terkekeh. Ia memang sengaja menggoda sahabatnya itu. Suasana hatinya yang baik, membuat kejahilannya muncul kembali.
Hening sesaat, sebelum akhirnya Eby membuka suara lagi. "Tapi bener, sih. Mungkin memang begini cara Tuhan kasih pelajaran hidup untuk umat-Nya. Aku selama ini selalu merasa gelisah, nggak pernah tenang, karena selalu ngerasain penyesalan yang entah apa. Selalu terucap kata andai setiap kali aku mengenang masa lalu. Selalu menyesali keputusan-keputusan yang telah aku ambil dulu. Kayak nggak pernah merasa bersyukur dalam hati. Tapi ngeliat keadaan Willi sekarang, entah kenapa perasaan bersyukur itu muncul tiba-tiba. Nggak ada penyesalan yang selama ini mengganjal. Hilang entah kemana sekarang rasa itu." lanjutnya lagi, setelah semakin meresapi perasaan yang dirasanya kini.
"Yaa, semoga kalian menemukan kebahagiaan masing-masing ya, By. Dia dengan pasangan hidup yang baik nantinya, dan kamu juga menemukan pasangan terbaikmu, kelak." Doa tulus Ratih.
Eby menggeleng disertai senyum kecut. Baginya laki-laki bukan prioritas utama, bahkan tidak masuk dalam daftar hidupnya saat ini. Bagi Eby asal keluarganya utuh kembali, asal ayahnya bisa sehat dan adik-adiknya bisa melanjutkan pendidikan dengan baik, itu sudah cukup. Terlebih saat menyaksikan sendiri kemelut rumah tangga yang dialami kedua orang tuanya, semakin ragu dia akan sebuah pernikahan.
Sekitar 45 menit menunggu, sebuah mobil hitam berhenti di parkiran Indomaret, tepatnya di depan mereka duduk. Hanya terhalang beberapa undak tangga.
Senyum Ratih mengembang, saat menyadari seseorang yang turun dari pintu penumpang bagian depan adalah kekasihnya. "By, Ahmed udah dateng!" sarunya langsung bangkit dari kursi.
Ratih menghambur ke pelukan tunangannya yang bernama Ahmed itu. Sangat jelas terlihat binar cinta di mata keduanya. Saling menatap dengan mesra, tanpa memedulikan orang di sekitarnya.
"Sayang kenalkan, ini teman yang aku bilang menghilang itu," ucap Ahmed setelah pelukan mereka terlepas. Ia menunjuk seseorang yang tingginya hampir sama dengannya itu.
"Hai, aku Ratih," sapa Ratih ramah, ke arah laki-laki tersebut.
"Hai," sahut laki-laki itu.
"Oh ya sayang, ini Eby. Yang selalu kamu intai tiap datang ke hotel dulu, ingat kan?" Ratih menarik tangan Eby untuk berjabatan dengan Ahmed.
"Oh, hai Eby," sapa Ahmed ramah.
__ADS_1
"Kita belum kenalan, tapi aku tau banyak tentang kamu," ucap Ahmed lagi masih dengan senyum terkembang.
Eby hanya membalas dengan anggukan. Sesekali melirik laki-laki di samping Ahmed yang sejak tadi terus memerhatikannya.
Sikap Eby yang tidak biasa, membuat Ratih merasa aneh. Ada apa dengan sahabatnya itu? Ratih mengikut lengan Eby yang nampak termenung. "Kenalan sama temennya Ahmed!" desak Ratih dengan berbisik. Namun suaranya ia tekan, sebagai tanda perintah.
"Aku udah kenal," sahut Eby enggan.
Di sisi lain, Ahmed pun merasakan hal yang sama. Temannya yang sudah lama tidak ia temui itu, nampak canggung melihat sosok di hadapannya. Otaknya dengan cepat merangkai sesuatu. "Apa dia yang kamu maksud?" tebaknya. Tentu ia menggunakan bahasa ibu mereka. Namun mengingat wanita di depan mereka juga mengerti bahasa tersebut, Ahmed memilih untuk berbisik demi menjaga perasaan sahabatnya itu.
Suasana di dalam mobil begitu hening. Eby yang dipaksa duduk di kursi depan, tidak berani menoleh ke kanan, sebab yang menyetir saat ini adalah bosnya sendiri, yakni Murat yang ternyata adalah teman Ahmed, tunangan Ratih. Kenapa dunia sesempit ini? Dari banyaknya pengusaha asal luar negeri yang bekerja dan membangun usaha di sini, kenapa harus Murat yang menjadi teman Ahmed? Kenapa bukan pengusaha yang lain?
Sebuah tendangan kecil dari belakang, mengenai kursi duduk Eby. Eby menoleh sedikit, sambil melirik dengan ekor matanya.
"Ajak ngomong, By! Kamu jadi tuan rumah kok sombong banget, sih?" desak Ratih dari belakang.
"Apaan sih! Diem deh! Yang tuan rumah itu kamu! Bukan aku!" sahut Eby kesal.
"Ya kan aku juga baru sampai di sini, setelah bertahun-tahun merantau! Aku nggak hafal tempat-tempat kekinian."
"Kamu pikir aku tau? Udah biarin aja dia yang tentuin sendiri mau kemana. Udah lama juga dia di sini, masa nggak tau tempat yang bagus!" sahut Eby.
Mereka berdua saling berbisik. Sama-sama ngotot, tidak ada yang mau mengalah. Mereka lupa jika di samping mereka, ada dua laki-laki yang memerhatikan tingkah keduanya.
"Ayolah, By! Jangan bikin malu, ah. Ini aku lho jadi pertaruhannya," bujuk Ratih lagi.
"Kamu rela kalau citra aku jelek di mata Ahmed?"
"Ck. Ya sudah, nanti aku ngobrol sama dia!" Eby dengan kesal membenarkan posisi duduknya. Menghentikan sepihak obrolannya dengan Ratih.
__ADS_1
Sementara di belakang, Ratih tersenyum puas. Menatap sang kekasih, yang juga tersenyum terhadapnya.
Apa yang mereka berdua rencanakan?