
Santi menatap wajah lesu Eby dengan seksama. Ia tahu, sahabatnya itu tengah dirundung kegelisahan, tetapi enggan berbagi cerita.
"Ada masalah apa, By?" tanya ibu satu anak itu akhirnya, karena sudah tidak bisa menahan rasa ingin tahunya.
Eby yang semula sibuk menggoda balita gembul yang baru bisa berlari itu pun menoleh. Alisnya berkerut tanda tak mengerti atau lebih tepatnya berpura-pura tak mengerti maksud ucapan sang sahabat.
"Nggak usah nutupin apapun dari aku. Kamu lupa, aku ini bisa baca hati seseorang," ucap Santi lagi, seolah benar-benar bisa membaca pikiran Eby.
Eby hanya bisa tersenyum kecut. Tangan yang semula sibuk menggelitik perut baby Biyanca, kini terkulai di atas kasur dengan kepala menunduk.
Santi masih menunggu lawan bicaranya bersuara, sementara Biyanca yang semula terlentang sambil memegang perut yang digelitik Onty Eby-nya, seketika menghentikan tawa girangnya seolah mengerti perubahan suasana yang terjadi.
Tanpa mengucapkan apapun lagi, Santi mendekati Eby yang nampak semakin muram. Ibu satu anak itu mengusap dengan lembut lengan sahabatnya itu.
"Ibuku nggak suka aku berhubungan dengan Murat, San." Lirih Eby akhirnya.
"Kenapa gitu?"
"Ya ... kamu tau sendiri lah alasannya apa."
Santi menarik nafas dalam. Kalau sudah menyangkut hal prinsip, ia tak berani berkomentar terlalu banyak. Yang bisa ia lakukan hanyalah mengusap punggung sang sahabat sebagai bentuk dukungan.
__ADS_1
Cukup lama keduanya terdiam, tanpa satupun berniat membuka percakapan. Masing-masing larut dalam pikirannya sendiri, hingga dering dari dalam tas Eby mengalihkan perhatian mereka.
Dengan malas Eby bergerak mendekati tas yang ia letakkan agak jauh dari tempat duduknya semula. Sementara Santi, sibuk mengurus si Buah Hati yang perhatiannya ikut tercuri oleh dering ponsel tersebut. Ingin ikut mengambil benda yang Onty Eby-nya pegang saat ini.
"Ssst, jangan ribut, Onty lagi ngobrol penting," bisik Santi di telinga anaknya. Seolah mengerti dengan ucapan bundanya, balita yang baru berusia satu tahun lebih sedikit itu, menutup mulut dengan kedua tangan mungilnya. Sembari menggelengkan kepala, ia menatap Santi seakan meminta pendapat, apakah tindakannya sudah benar?
Santi yang gemas memeluk erat tubuh gembul putrinya, dengan kekehan yang tak dapat ia sembunyikan.
"Pinter banget kamu Nak ...." Lirihnya mengusap lembut puncak kepala sang putri.
"E Ty," celoteh biyanca menunjuk ke arah belakang punggung Santi, membuat sang ibu ikut menoleh.
"Siapa, By?" Lanjutnya lagi, saat menyadari Eby sudah memasukkan kembali layar pipinya ke dalam tas.
"Murat," sahut Eby lesu berjalan mendekat ke arah Santi lagi. Ikut bergabung menggoda sang keponakan, yang sepertinya ikut penasaran dengan apa yang ia lakukan.
"Tadi kamu bilang apa? Onty pengen denger lagi, dong." Pinta Eby, menjawil pipi gembul Biyanca.
"Onty, coba bilang." Santi membantu sang anak untuk menjawab.
"E Ty," sahut Biyanca.
__ADS_1
"Onty cantik," ucap Eby lagi.
"Nooo," sahut Biyanca cepat.
"Onty nggak cantik? Trus siapa yang cantik?"
"A Ta,"
Dua wanita dewasa itu tertawa mendengar jawaban dan ekspresi lucu Biyanca. Membuat Santi sang bunda mencium berulang kali ubun-ubun sang putri, sementara Eby yang gemas mencubit pipi, lengan, dan paha balita itu hingga menangis.
Sejenak Eby lupa akan masalah yang menghampirinya. Menggoda Biyanca mampu membuat suasana hatinya sedikit lebih baik. Meskipun pada akhirnya, ia harus mengeluarkan uang membelikan balita tersebut beberapa mainan demi membuat gadis kecil itu diam, dan tidak marah lagi padanya, tapi ia senang melakukan semua itu.
^_________^^_________^^_________^
Haiii, readers kesayangan 🥰🥰🥰 apa kabar kalian semua? Semoga sehat ya, lama othor nggak up, suasana hati lagi nggak bisa diajak kompromi, bawaannya pengen rebahan terus. Mohon dimaafkan ya 🙏🙏
mungkin karena perubahan hormon, pikiran jadi ikut terbawa suasana.
semoga setelah ini, mau diajak kompromi, biar bisa sering-sering up.
Mohon dukungannya ya, jangan lupa vote, like, komen, dan ditunggu hadiahnya 🙊🙊🙊
__ADS_1