Luka Di Ujung Asa

Luka Di Ujung Asa
Bab 27


__ADS_3

Seorang ibu paruh baya datang mendekati Eby, dan menyapanya.


"Nak Eby, ini beneran kamu?"


"Iya, Bi. Ini aku." Eby menjawab sapaan itu dengan ramah. Ia juga tidak menolak, saat wanita yang ia panggil bibi itu memeluknya, meski terlihat jelas kecanggungan dari sikap wanita itu.


"Kapan datang? Sudah lama bibi nggak liat kamu, ya." Eby hanya tersenyum menanggapi sambutan wanita itu.


"Mari, Nak. Duduk dulu," ucapnya lagi sembari menuntun Eby agar duduk di kursi, bergabung dengan yang lain. Setelahnya wanita itu meminta salah seorang untuk memanggil William beserta kedua orang tuanya.


Tama sebenarnya merasa enggan, dan sedikit kesal. Kenapa kakaknya masih saja mau menerima perlakuan baik mereka. Padahal jelas-jelas, laki-laki dari keluarga itu sudah mengkhianatinya, mempermalukannya.


Tidak berselang lama, kedua orang tua dan kakak William keluar dari dalam rumah. Mereka menatap Eby dari ujung kepala hingga kaki.


Eby yang menyadari kedatangan ketiganya, segera bangkit untuk menyapa.


Namun tanpa diduga, Jasmin, ibu dari William datang mendekat dan memeluknya dengan erat.


Wanita dengan wajah campuran itu menangis dalam pelukan Eby.


"Kenapa baru datang, Nak? Kenapa membiarkan ini semua terjadi?" sesalnya.

__ADS_1


Eby tidak mampu menjawab, dia membisu dengan air mata yang mendesak untuk keluar. Meski ia berusaha tegar, namun perlakuan Jasmin membuatnya kembali rapuh.


Wanita itu sangat menyayanginya, dari pertama kali William mengenalkan mereka, Jasmin memperlakukan Eby dengan sangat baik. Bahkan wanita itu menangis tersedu, saat Eby berpamitan tiga tahun yang lalu.


"Bu, jangan salahkan Eby. Bukan dia yang salah. Anak kita saja yang tidak pandai bersyukur." Ayah William mencoba melepaskan pelukan istrinya, dengan lembut.


"Ajak Eby duduk dulu, Bu." pinta laki-laki itu lagi.


Masih dengan berlinang air mata, Jasmin mempersilahkan Eby untuk duduk kembali. Ia pun memilih tempat bersebelahan dengan mantan calon menantunya itu.


"Maafkan kami, Nak. Kami tidak bisa menjaga anak kami." Ucap ayah William, setelah beberapa saat mereka terdiam.


"Tidak seharusnya dia melukaimu seperti ini. Bahkan pernikahan kalian tinggal beberapa Minggu lagi, tapi dia malah menikah dengan orang lain hari ini."


"Ini bukan salah kalian, mungkin kami memang tidak berjodoh. Hanya saja, yang aku sesalkan, kenapa Willi nggak jujur sejak awal? Kenapa baru sekarang, setelah kami mempersiapkan semua sampai sejauh ini?"


"Mba," Tama yang sejak tadi hanya diam, menyela ucapan kakaknya, karena menyadari suara Eby yang mulai bergetar.


"Nggak perlu basa-basi. Kami datang ke mari untuk ketemu dengan William. Bukan untuk meminta penjelasan, karena semua sudah jelas. Mba Eby hanya ingin, William mengembalikan apa yang seharusnya menjadi hak dia. Kalian tentu tahu, apa maksud kami." tegas Tama, menatap satu persatu anggota keluarga William.


"Apa maksud kalian mengambil hak?" Dari arah dalam rumah, seorang wanita datang dengan rambut masih basah.

__ADS_1


Semua orang terkejut melihat sikap Amanda yang terkesan lancang.


"Kamu? Bukannya kamu yang mukulin Willi kemarin? Ngapain kamu di sini?" tanyanya, saat melihat Tama lah sosok tamu yang dikatakan oleh sepupunya William. Rupanya Amanda tidak tahu, jika Tama adalah adik Eby, wanita yang calon suaminya ia rebut.


Suasana berubah tegang seketika. Wajah Amanda yang terlihat marah, datang mendekat ke arah Eby, menatapnya dengan tatapan penuh permusuhan.


"Kamu nggak malu? Bukankah kmu sudah dibuang sama Willi? Mau apa lagi datang ke sini? Mengharap belas kasihnya agar mau kembali padamu?" ucapnya pongah, membuat yang lain terperangah.


"Manda! Jaga ucapan kamu!" sentak kakak William.


"Kenapa? Masih ngarepin dia jadi calon ipar kamu? Dia kan yang bikin kalian nggak bisa nerima aku di keluarga ini? Dia yang udah ngeracunin otak kalian, sehingga selalu bersikap ketus sama aku!" cecar Amanda lagi penuh emosi.


Eby tersenyum sinis. Rupanya wanita seperti ini yang jadi penggantinya.


"Ngapain kamu senyum-senyum! Puas liat aku dibentak di depan banyak orang?" teriak Amanda marah ke arah Eby.


Eby yang semula ingin bicara baik-baik, dan berbesar hati melepaskan William, kini justru berubah pikiran.


Tama yang tidak terima kakaknya dibentak, melangkah maju hendak menghajar Amanda. Namun Eby segera melarangnya.


"Biarkan dia bicara sesuka hatinya, Ma. Dia hanya ingin melampiaskan ketidak berdayaannya." ucap Eby tenang, menatap remeh Amanda yang menyalak bagaikan anak anjing.

__ADS_1


"Hanya sebatas ini kamu mampu mencari penggantiku, Will?" tanya Eby, yang menyadari kehadiran William dari ujung matanya.


__ADS_2