
Hari yang cerah, secerah suasana hati Amanda pagi ini. Senyum manis terukir di bibir tipisnya, saat ia melihat wajah laki-laki yang dicintainya terlelap di depan mata.
"Aku ingin menikmati moment indah ini, setiap pagi sepanjang hidupku. Sudah sejauh ini, aku nggak mau mundur lagi." Wanita itu bergumam pelan, sepelan gerakan tangannya meraih ponsel yang sejak kemarin ia letakkan di bawah bantal.
Amanda memang sudah merencanakan sejak jauh hari, akan membuat skandal ini tersebar.
Ia memposting beberapa foto dirinya yang tengah tidur hanya berbalut selimut bersama William, serta foto pre wedding mereka, dan sengaja menandai laki-laki itu di setiap postingan.
Tidak menunggu lama, beberapa teman William maupun Amanda sendiri, memberi komentar pada postingan wanita itu.
Amanda tersenyum puas, sebentar lagi laki-laki itu tidak akan bisa mengelak lagi, untuk menikahinya secara resmi. Tidak seperti yang direncanakan sebelumnya, yakni pernikahan tertutup, hanya demi sebuah pengakuan untuk anak yang masih berupa gumpalan darah di rahimnya.
Sialnya, William bukan laki-laki yang suka membuka media sosial, sehingga meskipun ada banyak notifikasi di ponselnya, ia tidak berniat sama sekali untuk melihatnya. Sehingga ia masih bersikap santai, saat mengantar wanita itu menuju kostannya.
"Habis ini kita mau kemana dulu, Will?" tanya Amanda, setelah mereka cek out dari hotel
"Aku antar kamu ke kost dulu ya. Masih ada beberapa gambar yang belum aku beresin. Mau selesaikan itu dulu. Semoga besok kelar, jadi lusa aku bisa antar kamu pulang kampung."
__ADS_1
Rencananya mereka akan menikah secara sederhana lima hari lagi. Hanya upacara agama, tanpa di hadiri tamu undangan.
Itu adalah kesepakatan mereka berdua.
Amanda diam, ia memainkan ujung kukunya, dengan kepala tertunduk.
"Nda ... Kamu nggak pa-pa kan?"
Amanda menggeleng, namun wajahnya tetap murung. William tidak lagi menanyakan apapun pada wanita di sampingnya itu.
Selama perjalanan menuju kost wanita itu, tidak ada percakapan lagi di antara keduanya.
Hingga mobil memasuki halaman kost Amanda yang luas dan nampak mewah, barulah William membuka suara.
"Nda, boleh nggak aku minta kamu untuk nggak terus-terusan mikir masalah ini? Aku nggak bis liat kamu murung begini. Ingat, di dalam sini ada nyawa yang bisa merasakan perasaan ibunya. Kamu nggak mau dia jadi anak yang cengeng kan?" dengan lembut William mencoba memberi pengertian pada Amanda, sembari menyentuh pelan perut wanita itu.
"Kamu bisa ngomong gitu, Will. Karena setelah ini, kamu akan bersama dia, dan lupain aku begitu saja. Sementara aku? Setiap detik yang terlewati, rasanya aku ingin menangis. Katakan aku egois, rasanya aku ingin menghentikan waktu, agar hari itu tidak kunjung tiba." Wajah cerah yang William lihat saat baru membuka mata, kini hilang berganti sendu dengan bulir air mata yang mulai menetes.
__ADS_1
Laki-laki itu menarik nafas lelah. Merasa jengah dengan sikap Amanda yang cepat sekali berubah.
"Trus maunya kamu gimana, Nda? Kamu pikir aku senang ada di posisi seperti ini? Jujur aku capek, aku benci keadaan ini. Jika bisa mengulang waktu, aku nggak mau semua ini terjadi. Tapi apa penyesalanku bisa membalikkan keadaan? Nggak kan?" William menatap tajam ke arah Amanda yang semakin terisak.
"Kita tidak bisa saling menyalahkan, tidak bisa merasa menjadi korban. Karna kita dengan sadar melakukan semua ini, dan tau resiko apa yang harus dihadapi. Kita sudah sama-sama dewasa,"
"Maaf Will, aku hanya merasa ini semua nggak adil buat aku. Kenapa aku yang harus pergi, sementara di rahimku ada darah daging kamu yang tumbuh dan berkembang. Tidak bisakah ...."
"Cukup Nda! Dari awal aku sudah kasih tau kamu semuanya kan? Aku dan Eby nggak mungkin berpisah. Aku sangat mencintainya, dan ingin hidup bahagia bersamanya. Diantara kita hanya ada hubungan yang saling membutuhkan. Dan kamu menerima itu!"
Tanpaembalas ucapan William, Amanda membuka pintu mobil dan berlari meninggalkan William yang terlihat marah. Ia tidak tahan mendapat bentakan dari laki-laki yang selama ini mengisi hari-harinya.
Sementara itu, William hanya bisa meremass rambutnya, sembari memukul stir mobil, mencoba meluapkan kekesalannya.
Semakin hari, sikap manja Amanda semakin menjadi. Sikap yang dulu membuatnya ingin mendekati wanita itu, kini justru mengganggunya.
"AAARGGGH!!!" teriaknya, meluapkan segala beban yang selama ini menekannya.
__ADS_1