Luka Di Ujung Asa

Luka Di Ujung Asa
Bab 74


__ADS_3

Sepertinya nasib baik belum mau memihak pada Eby saat ini. Bagaimana tidak, setelah kejadian ia mencekik Sarah beberapa waktu lalu, memang tidak ada lagi gangguan dari mulut-mulut rekan kerjanya. Namun tidak lama setelah itu, ketika ia berangkat bekerja di sore hari, tanpa sengaja Eby bertemu dengan William di lampu merah. Mereka datang dari arah yang sama dan saat itu William menyapanya dengan hangat. Eby menanggapi dengan baik. Ia membalas sapaan mantan kekasihnya, sekadar untuk basa-basi. Rupanya keramahannya kala itu adalah sebuah kesalahan. Sebab entah bagaimana ceritanya William jadi tahu di mana tempat dia bekerja, dan sudah beberapa kali laki-laki itu datang menemuinya di hotel.


Meski berulang kali ditolak, tapi laki-laki tampan yang kini wajahnya sudah mulai bersinar itu tetap kekeh menunggunya, kadang membawakan makanan untuknya.


"Aku nggak akan ganggu, By. Aku hanya ingin melakukan apa yang dulu sering aku lakukan, tiap kali kamu kerja. Nungguin kamu, bawain makanan, antar jemput, adalah pekerjaan yang paling aku sukai dari dulu hingga kini," ucap William ketika Eby memintanya untuk tidak mengganggunya lagi. Bahkan Eby sampai harus meminta bantuan Murat, untuk mau berpura-pura menjadi kekasihnya, agar William bersedia pergi. Dan syukur hal itu berhasil.


Lalu kini setelah William tidak pernah lagi datang menemuinya, hal yang lebih tidak terduga lagi terjadi.


Siang itu seorang perempuan dengan bayi di dalam gendongannya datang mendekat ke arah meja resepsionis. Seperti biasa Eby menyambutnya dengan ramah. Namun alangkah terkejutnya dia, ketika satu tamparan melayang ke pipinya, dan itu berasal dari calon tamunya.

__ADS_1


"Bagaimana rasanya? Sakit bukan? Itu tidak lebih menyakitkan dari perasaanku, yang suaminya kau rebut!" teriak wanita itu.


"Apa maksud Anda?" Eby tidak terima. Ia melangkah keluar mendekati wanita itu dengan mata menatap tajam.


"Kamu nggak usah munafik! Nggak usah jadi orang sok suci. Dasar j*l*ng!" sahut wanita itu dengan suara yang masih kencang. Bayi dalam gendongannya bahkan sampai menangis, karena terkejut mendengar teriakan ibunya.


Suasana di loby tiba-tiba ramai. Pihak keamanan hotel mendekat, untuk mengamankan. Namun wanita itu terus berontak.


Eby yang tidak mengerti, hanya bisa menatap bingung pada wanita yang sudah dibawa keluar oleh petugas tersebut.

__ADS_1


Siapa wanita itu? Siapa laki-laki yang ia rebut? Pikirannya seolah di tarik ke alam lain. Eby mencoba mengingat apakah pernah mengenal perempuan itu, di kehidupan lalu? Namun nihil, ia sama sekali tidak mengingatnya.


"Kamu baik-baik saja?" Murat menepuk bahu Eby, membuat wanita itu terkejut.


"Ah, i-iya mmm tidak." Eby yang sempat kehilangan fokus, tergagap menjawab pertanyaan Murat.


"Siapa perempuan itu?" tanya Murat lagi.


Eby menggeleng. Ia juga sama sekali tidak ingat pernah bertemu dimana dengan orang asing itu.

__ADS_1


"Sudah, jangan dipikirkan. Sebaiknya kembali ke tempat kerjamu. Nanti biar aku cari tau semuanya." Murat menuntun Eby yang masih nampak terkejut, agar kembali ke meja resepsionis.


Eby tidak membantah. Ia melangkah tapi dengan pandangan mata kosong. Masih shock dengan kejadian yang baru saja dialaminya.


__ADS_2