
Jalanan lengang yang Eby lewati, memberi kesan semakin sepi di hati wanita berusaha lebih dari dua puluh lima tahun itu. Pikirannya berkelana ke banyak tempat, dan waktu. Mengulang kembali segala yang pernah ia lewati dari dulu hingga kini, meski lebih banyak kepahitan yang terekam dalam memorinya. Hingga tanpa terasa motor matic yang dikendarainya tiba di depan kost yang ia tempati selama ini.
Kesepian dan kesendirian adalah teman setia yang selama ini membersamainya. Namun beberapa Minggu belakangan, hatinya sudah mulai manja akan perhatian seseorang, hingga sekarang, ketika secara kebetulan Murat pun tidak memberinya kabar, rasa sepi itu semakin terasa menyiksa hati.
Melepas segala atribut kerja, Eby memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri, meski waktu sudah menunjuk angka 23.25 malam.
Berdiri di bawah guyuran air shower, ia mencoba mendinginkan kepalanya yang begitu sibuk memikirkan banyak hal. Rasa panasnya menjalar hingga ke ulu hati, membuat dadanya terasa sesak.
Cukup lama Eby membiarkan tubuhnya menggigil. Tak peduli dengan rasa dingin yang menyerang, ia pasrah meski nanti penyakit reumatik mungkin akan menyapanya lebih cepat.
Puas terpekur dalam air, ia mengakhiri aktifitasnya di kamar mandi. Mengeringkan tubuh dan memakai pakaian lengkap demi menghangatkan tubuhnya.
__ADS_1
Ia baru ingat, jika sejak sore tadi belum sempat bertukar kabar dengan laki-laki yang melabeli diri sebagai kekasihnya.
"Aku udah di kost." Tulis wanita itu singkat. Ia tidak ingin ada masalah baru lagi esok, hanya karena lupa memberi kabar.
Beberapa menit menunggu balasan, tapi sepertinya Murat sudah terlelap. Jangankan membalas, membaca pesannya saja, tidak.
Hingga rasa lelah akhirnya berhasil mengantarkan wanita itu ke dalam tidur yang nyenyak.
Tak ingin terlalu larut dalam kegundahan, ia memilih mengabaikan perasaan itu. Menyibukkan diri dengan pekerjaan rumah, dan bersiap untuk bekerja kembali.
Sedangkan di tempat lain, Murat baru membuka mata, ketika matahari sudah menerobos masuk ke jendela kaca kamar pribadinya. Kepalanya masih terasa berat. Mungkin akibat minuman beralkohol semalam.
__ADS_1
"Uuh, ****!" Umpatnya menekan kening yang berdenyut ketika ia menggerakkan tubuh. Ia akhirnya mengurungkan niat untuk bangkit. Kembali memejamkan mata, menikmati pening di kepalanya.
Muncul penyesalan di benak laki-laki itu. Ia yang tidak terbiasa dengan minuman beralkohol, tapi kemarin dengan nekatnya menenggak beberapa cawan Vodka yang biasanya ia suguhkan untuk tamu, berniat mengusir kegelisahan di hatinya agar segera pergi.
Dan memang benar, setelah minuman berkadar alkohol 35% itu mulai bereaksi dalam tubuhnya, Murat merasa jauh lebih rileks, dan akhirnya ia bisa tidur dengan nyenyak. Namun efeknya justru muncul pagi ini, membuat ia merutuki diri sendiri.
Sembari terpejam, ia menggapai telepon di samping tempat tidurnya.
"Belikan saya obat sakit kepala, dan minta bagian kitchen membawakan sarapan ke kamar saya," ucapnya dengan suara parau, ketika seseorang menerima panggilan teleponnya.
Mabuk benar-benar membuatnya merasa lelah dan tidak berdaya. Meski sudah meminum obat, tetap saja setiap kali ia berniat turun dari atas tempat tidur, semua yang ada di sekelilingnya seolah hendak jatuh menimpanya. Murat hanya bisa meringkuk, memejamkan mata. Hingga ketika jam menunjuk angka setengah sebelas siang, barulah ia merasa kondisi tubuhnya membaik. Ia baru bisa pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
__ADS_1
Ia tidak ingat sama sekali, jika sejak kemarin malam, dirinya sudah mengabaikan Eby.