
Eby melajukan motornya dengan perasaan ringan. Beban di dadanya seolah terangkat naik, memberinya kelonggaran untuk bernafas dan melihat dunia.
Eby patut bersyukur, memiliki seorang sahabat yang meski tidak setiap saat ada menemani, namun selalu mampu memberinya ruang untuk menjadi dirinya sendiri. Bebas menangis, meraung sekalipun. Mencurahkan segala kepedihan, tanpa takut dianggap lemah.
Benar kata Santi, tidak apa-apa terlihat rapuh dan tidak baik-baik saja, saat kepahitan bertandang. Terluka dan kecewa adalah reaksi yang wajar, saat manusia dihadapkan pada kenyataan yang tidak sesuai keinginan. Memberi kesempatan diri mengekspresikan rasa, adalah cara menghargai dan menyayangi perasaan sendiri.
"Katakan semua yang selama ini ingin kamu katakank, By. Makian, tangisan, keluh kesah, ungkapkan semuanya sekarang. Jangan simpan semua racun itu di dalam hatimu. Lapangkan hatimu, agar harapan dan kekuatan bisa masuk dan membangkitkanmu." ucap Santi saat melihat keraguan di mata Eby, untuk berbagi cerita.
Wanita itu akhirnya mengalirkan cerita dari awal hingga akhir. Bagaimana dia berjuang di negeri orang, bagaimana dia ingin memaki sekaligus menjerit sakit di hadapan Willi, saat tahu pengkhianatan laki-laki itu, merutuki semua takdir yang ia rasa tidak adil, ingin pergi jauuh membawa kepingan hatinya yang tak lagi utuh. Semua Eby ungkapkan, dengan segala kemarahan yang ikut mengalir bersama air matanya.
Santi mendengar tanpa menyela, hanya sesekali mengusap punggungnya saat Eby memukul-mukul dadanya yang terasa sesak.
"Nih, minum dulu." Santi menyodorkan segelas air putih, saat sesenggukan Eby perlahan mereda. Melihat Eby sudah mulai tenang, barulah ibu satu anak itu berkata,
"By, aku tahu saat ini kamu nggak butuh nasihat. Apapun yang aku katakan, aku yakin tidak akan ada yang mau kamu terapkan saat ini. Nggak pa-pa, itu nggak masalah. Tapi percaya sama aku, semua ini adalah proses kehidupan yang harus kamu lalui. Nikmati, sakit ini nggak akan abadi. Seperti halnya tawa yang pasti akan berganti. Tapi ingat, beri batas waktu untuk hatimu meratapi semua yang sudah terjadi. Jangan terlalu nyaman dalam keterpurukan. Sebab hidup harus terus berjalan." Eby mengangguk menanggapi ucapan Santi, meski hatinya gamang menerima kalimat-kalimat itu.
"Sorry, aku nggak bisa nemenin kamu selalu, tapi kapanpun kamu butuh aku mendengarkan keluhanmu, telepon saja aku, atau kamu bisa datang ke mari. Kita masak sama-sama lagi. Aku kangen banyak makanan, yang dulu suka kira buat bersama," lanjut Santi lagi.
"Makasih ya, San. Udah mau dengerin curhatan aku. Selama ini aku berusaha kuat dan tegar, ternyata itu nggak enak banget rasanya. Mau curhat sama ibu, kasihan. Tama juga bentar lagi mau ujian semester, nggak mungkin aku kacaukan fokusnya dia. Selama ini aja, dia sering bolak balik dari kota ke kampung, buat nemenin aku. Sorry ya, aku jadiin kamu tempat sampah."
__ADS_1
"Iya, By. Kita teman selamanya kan? Meski saat ini, aku udah punya keluarga baru, tapi sebisa mungkin aku akan selalu ada untuk kamu."
Pelukan hangat menjadi akhir pertemuan mereka hari itu.
Diiringi lambaian tangan Santi, Eby kembali ke kostan milik Harry dengan perasaan yang jauh lebih baik.
Benar memang, saat semua sudah ia tumpahkan meski hanya melalui kata, perasaan Eby menjadi lebih baik. Dadanya terasa lapang, meski masih ada beberapa hal yang membuatnya meringis sakit.Tapi setidaknya, ia mulai bisa berpikir untuk mengikhlaskan.
🌟🌟🌟
Kedatangan Eby, disambut oleh kehadiran Tama di kostan Harry.
"Lho, Ma? Kok kamu ada di sini?" Tama bangkit menghampiri sang kakak.
"Mba. Dari mana?"
"Eeeh ini, baru datang dari kostan mba Santi. Kamu ngapain ke sini? Bukannya kuliah?" Eby mengulang pertanyaan yang belum mendapat jawaban dari Tama.
Tama menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dengan senyum kuda, laki-laki itu menjawab,
__ADS_1
"Ini mba, mmm aku nganter temen beli alat laptopnya yang rusak."
"Kok, sampe ke mari? Memangnya di sana nggak ada yang jual?"
"Kalau di sana ada yang jual, ngapain mereka jauh-jauh ke sini nyarinya, By? Kamu itu, nanyanya yang lebih berbobot, napa?" Harry menyela obrolan kakak beradik tersebut.
"Apaan sih, aku lagi ngomong sama Tama, ngapain ikut nyahut?"
"Suka-suka aku, donk." Eby menatap sinis ke arah Harry, saat mendengar ucapan sepupunya itu.
Merasa tidak nyaman dengan tubuh yang terasa lengket, Eby memutuskan masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri. Setelah selesai dengan semua ritualnya, barulah wanita itu kembali menemui sang adik.
"Trus kapan kamu balik, Ma?"
"Niatnya sih hari ini, mba. Tapi sampai sekarang temenku masih belum nemuin alatnya. Dia lagi dianter pamannya ke toko yang lain."
"Ini udah sore, mending besok aja baliknya. Hari ini temenin mba aja, ya." Tama nampak berpikir, sebelum akhirnya Harry memberi Tama ide untuk menghubungi temannya.
__ADS_1