
Eby merasa sangat lelah, dan memilih memejamkan mata ketika dalam perjalanan pulang dari rumah sakit. Hari sudah gelap saat ia dan Murat berpamitan, sebab masih menunggu suami Santi datang. Karena memang niat Eby menemani Santi yang sendirian di rumah sakit.
"Ngantuk?" tanya Murat menyentuh tangan Eby.
Eby hanya menoleh dengan mata setengah terbuka, tanpa berkata apapun.
"Jangan tidur dulu, kita mau cari makan," ucap Gunadh.
"Aku nggak lapar, mau langsung tidur aja," sahut Eby.
"Tapi harus tetap makan. Perutmu harus diisi," putus Murat.
"Ya, terserahlah," sahut Eby pasrah. Ia malas berdebat, dan membiarkan Murat melakukan keinginannya. Eby membenarkan posisi duduk agar tegak, sembari mengusap kasar wajahnya dengan kedua tangan. Berharap hal itu bisa menghilangkan rasa kantuk yang menyerang.
Murat yang sedang menyetir, hanya tersenyum tipis melihat tingkah Eby.
"Kenapa senyum-senyum?" tanya wanita itu dengan tatapan curiga, ketika menyadari senyum Murat yang terus terkembang saat mencuri pandang ke arahnya.
"Nggak ada," sahut laki-laki itu, tapi bibirnya tetap tertarik ke atas.
"Dari tadi juga aku liat senyum kamu nggak hilang-hilang. Ngeledek aku banget!" tuduh Eby.
"Apa itu ngeledek?" tanya Murat dengan alis mengkerut. Ia merasa asing dengan istilah yang digunakan Eby.
"Tau, ah!" sahut Eby menyilangkan kedua tangan di depan dada.
Melihat Eby yang sepertinya kesal, Murat mengusap lembut rambut wanita itu menggunakan satu tangannya yang bebas memegang stir.
"Jangan marah. Aku tersenyum bukan bermaksud bikin kamu kesal. Aku hanya ingat dengan apa yang terjadi di rumah sakit aja. Nggak nyangka, sifatmu bisa berubah saat bertemu dengan temanmu itu," terang Murat.
"Maksudnya?"
"Aku melihat sosok Eby yang berbeda, tadi. Kamu nampak begitu lembut, penuh kasih sayang. Berbeda jauh dari yang selama ini kamu tampilkan di hadapan orang lain," ucap Murat jujur.
"Biasa aja," sahut Eby sedikit salah tingkah.
__ADS_1
Siapapun pasti akan merasakan yang Eby rasakan saat ini. Ketika seseorang yang disukai melontarkan pujian, seperti ada ribuan kupu-kupu rasanya menggelitik perut. Membuat rona di pipi dengan nakal muncul ke permukaan.
"Itu ada KFC, makan di sana aja ya," ucap Eby mengalihkan topik obrolan.
"nggak mau cari restoran aja?" tawar Murat.
"Kelamaan nanti," tolak Eby.
Akhirnya mereka berdua memilih makan di restoran cepat saji terswbut sebab Eby ingin segera tiba di kostan. Ia tidak mau menunggu lebih lama lagi, jika harus mencari rumah makan yang sesuai keinginan Murat.
Selesai dengan urusan perut, Murat kembali melajukan kendaraannya menuju kostan Eby yang berjarak sekitar 500 meter dari KFC.
Sebelum Eby turun, Murat menahan tangan wanita mungil itu agar menoleh ke arahnya.
"Besok aku jemput, ya," ucap Murat lembut.
"Nggak usah, aku bawa motor sendiri aja." tolak Eby.
"Oh ya di hotel kita profesional kerja aja ya, biar nggak ada yang tau kedekatan kita. Aaku nggak mau jadi bahan gosip lagi," pinta Eby pada Murat.
"Nggak gitu, aku cuman nggak mau aja kamu jadi terseret-seret masalah aku. Jangan sampai karena kedekatan kita, reputasi kamu jadi ikut jelek," terang Eby yang kembali murung saat mengingat masalah yang ia hadapi kemarin.
"Jangan itu dijadikan beban pikiran, sweety. Yakinlah pada diri sendiri. Tunjukkan pada dunia kalau kamu tidak seperti yang orang itu tuduhkan. Hadapi dengan berani. Jangan biarkan orang lain menjatuhkanmu dengan cara apapun. Tegakkan kepala, agar tidak ada yang bisa menginjak harga diri kamu. Aku akan selalu mendukungmu," ucap Murat membangkitkan semangat kekasihnya.
Bisakah ia menempelkan status itu dalam hubungannya dengan Eby saat ini?
Eby merasa senang karena Murat selalu mendukungnya. Hal yang selama ini mungkin ia rindukan dari sosok laki-laki.
"Makasih ya. Makasih untuk semua yang udah kamu lakuin buat aku,"
"Sama-sama."
"Aku turun dulu, ya. Maaf nggak ajak kamu mampir. Udah malem,"
"Iya, aku juga mau balik. Sampai ketemu besok." Murat meraih kepala Eby, lalu mencium keningnya beberapa saat. Menciptakan semburat merah di pipi seputih pualam milik wanita itu.
__ADS_1
Eby turun, diikuti oleh Murat yang juga melakukan hal yang sama. Laki-laki itu berinisiatif mengambilkan tas pakaian yang tersimpan di kursi belakang.
Sekali lagi ia mendekati Eby, memeluk wanita itu sesaat, seakan mengisyaratkan jika dirinya enggan berpisah dengan Eby.
"Hati-hati, kabarin kalau sudah sampai hotel," pinta Eby saat Murat sudah menyalakan mesin mobilnya. Laki-laki itu mengangguk dengan senyum manis menghiasi bibir. Setelah Eby memintanya jalan, Murat menekan pedal gas kemudian berlalu dari hadapan wanita itu.
Dari jarak sekitar sepuluh meter, seseorang yang sejak tadi memerhatikan interaksi keduanya, perlahan berjalan mengekori Eby ketika wanita itu sudah melangkah memasuki gang yang sepi dan gelap.
"Sudah ada yang move on, rupanya." Suara dari belakang punggung Eby mengejutkan wanita itu. Hampir saja ia menjatuhkan travel bag yang dijinjingnya saat itu.
"Harry! Astaga! Hampir loncat jantung aku, tau nggak! Ngagetin banget sih!" Sentak Eby setelah tahu yang ada di belakangnya adalah sang sepupu.
"Wiiisss yang baru datang berlibur. Baterainya penuh nih, merepet terus, udah kayak kereta api." Bukannya menyesal karena sudah mengejutkan Eby, Harry justru semakin gencar menggoda sepupunya itu.
"Ngapain kamu ke sini? Malem-malem ngintip orang, mau jadi begal kamu?" tuduh Eby.
"Sembarangan! Dari tadi aku teleponin kamu tau! Tapi kamunya nggak angkat. Bahkan terakhir ponsel kamu nggak bisa dihubungi. Aku kan jadi khawatir, mangkanya aku datang ke sini. Eeh ketemunya malah sama orang yang sedang mesum di jalan," sindir Harry lagi.
"Siapa yang mesum?! Sembarangan aja jadi orang!" sentak Eby tidak terima.
"Itu tadi, pelukan di jalan? Apa tuh namanya kalau bukan mesum? Mana tempatnya remang-remang lagi. Inget jika manusia beda jenis berduaan, yang ketiga itu adalah setan," ucap Harry dengan nada suara menakuti.
"Kamu tuh setannya! Mulutmu itu, lemes banget ya?"
"Yeee mentang-mentang kalah berdebat, nyerangnya gitu!" sahut Harry lagi.
Eby malas berdebat. Ia mengabaikan saja ocehan sepupunya dan memilih membuka pintu kostannya.
"Ry, sebenarnya kamu tuh ngapain sih malem-malem kemari? Nggak mungkin kangen sama aku, kan?" tanya Eby setelah dirinya sudah duduk di atas kasur.
"Bikini kopi dulu dong, By. Biar semangat aku jelasin ke kamu," pinta Harry.
Eby mendengus, tapi tidak urung menuruti permintaan sang sepupu. Meski dengan malas, ia tetap melangkahkan kakinya ke dapur untuk membuatkan Harry kopi.
Ia tahu pasti ada hal penting yang akan Harry sampaikan padanya.
__ADS_1