Luka Di Ujung Asa

Luka Di Ujung Asa
Bab 75


__ADS_3

Murat menunggu Eby menyelesaikan pekerjaannya. Laki-laki itu ingin mengajak wanita pujaannya pergi ke suatu tempat untuk menenangkan diri. Ia tahu jika Eby tengah bersedih saat ini. Dan sebisa mungkin ia ada untuk menghiburnya.


"Aku lagi nggak nggak pengen kemana-mana, Murat! Aku lelah," tolak Eby saat Murat menawarkan idenya.


"Ayolah, By. Besok kan kamu libur. Kita camping untuk menghilangkan suntuk," bujuk laki-laki itu.


"Hari libur adalah waktuku untuk tidur seharian, Murat. Melepas segala lelah, bukan malah menambah rasa lelah."


Murat menarik nafas dalam. Ia duduk menyandar di motor Eby. "Sejujurnya aku bosan dengan rutinitasku selama ini. Sudah dua tahun ada di sini, aku tidak pernah liburan sama sekali. Tidak ada teman yang bisa aku ajak berlibur," ucap Murat lirih, mencoba menarik iba hati Eby.


Dan itu berhasil. Eby yang semula menatap ke sembarang arah, kini intens memandang sosok tinggi menjulang di sampingnya. Ia tahu Murat tidak punya banyak teman di sini. Bahkan sama sekali tidak ada yang bisa dikatakan sebagai teman. Sebab hubungannya hanya status atasan dan bawahan, atau rekan kerja.


Eby bisa merasakan jika laki-laki itu kesepian. Dan itu seolah membuatnya seperti bercermin, sebab dia juga sama. Hanya punya beberapa orang teman, yang kini sudah memiliki kesibukan sendiri-sendiri. Ia dan Murat memiliki kesamaan. Sama-sama kesepian.


"Memangnya kamu mau pergi ke mana?" tanya Eby akhirnya.


Murat tersenyum samar. Ia berhasil membujuk wanita keras kepala di sampingnya. Ternyata benar, menaklukkan Eby, tidak bisa dengan kekerasan. Wanita itu harus disentuh hatinya, maka dia akan luluh.


"Suasana apa yang kamu suka? Pantai, gunung, atau persawahan?" tanya Murat, nampak antusias.


"Aku suka pantai, tapi gunung juga tidak buruk. Kalau sawah aku nggak." Eby menggelengkan kepalanya.


"Ok. Kalau begitu kita ke gunung. Kamu bersiaplah, dua jam lagi aku jemput."


"Kok dua jam lagi? Kita pergi hari ini? Bukannya besok?" Eby terkejut dengan keputusan teman sekaligus atasannya itu.


"Kalau besok, kita tidak bisa menginap, dong! Kan kita mau buat api unggun, barbeque-an, menikmati suasana malam." Murat memberi alasan.


Eby nampak berpikir. Dan setelah hening beberapa saat, akhirnya ia menganggukkan kepala.

__ADS_1


"Baiklah, tapi aku ajak sepupuku juga, ya," pintanya.


"Tidak masalah," sahut Murat santai. Ia lalu menegakkan tubuhnya menjauhi sepeda motor Eby, agar wanita itu bisa segera pulang. Ia pun juga harus bersiap untuk liburan dadakan tersebut.


"Hati-hati sweety," ucapnya saat Eby sudah mengenakan helmnya.


Tiba di kostan, Eby segera menghubungi Harry, membujuk sang sepupu agar mau ikut bersamanya. Namun sayang, karena acara yang mendadak, Harry tidak bisa ikut. Laki-laki yang masih menyimpan rasa padanya itu, tengah bekerja. Dan mau tidak mau, Eby berangkat berdua saja dengan Murat.


Menempuh perjalanan kurang lebih dua jam menuju Utara, Eby sudah menyiapkan jaket dan scarf untuk melindungi tubuhnya dari suhu dingin yang menyapa. Ia juga membeli banyak makanan ringan, mie instan dan juga kopi kemasan. Tidak lupa segala minyak hangat yang tersimpan di kotak P3K miliknya ia bawa.


Murat tersenyum melihat penampilan wanita mungil itu. Merasa lucu, sebab sebelumnya Eby menolak dan mengatakan enggan bepergian, tapi melihat perlengkapan yang dibawanya, nampak jelas jika ia begitu antusias.


"Kenapa senyum-senyum?" tanya Eby saat Murat membantunya memasukkan barang bawaan.


"Tidak apa-apa," elak Murat.


"Mencurigakan sekali," sinis Eby.


"Kenapa membawa begitu banyak makanan? Kita bisa pesan di sana, bukan?" tanya Murat setelah mobil sudah melaju membelah jalanan.


"Kenapa harus pesan, kalau kita bisa membuatnya sendiri? Lagi pula di sana pasti lebih mahal harganya." Eby memberikan alasan.


Murat hanya bisa mencebikkan bibirnya. Satu hal lagi yang ia baru tahu dari wanita yang sudah berhasil memikat hatinya. Eby wanita yang cukup perhitungan.


"Kamu mengejekku?" sentak Eby, membuat wajah Murat menegang.


"Nggak. Siapa yang mengejek?" sahutnya tergagap sebab sudah tertangkap basah.


Namun Eby tidak percaya begitu saja. Ia masih menatap Murat dengan sinis.

__ADS_1


"Jangan melihatku begitu, nanti kamu jatuh cinta," Murat mendorong sedikit pipi Eby. Ia harus menutupi salah tingkahnya, jika tidak ingin ketahuan berbohong.


"Awas aja kalau berani mengejekku." Eby memalingkan wajah, sambil melipat kedua tangannya di dada.


Suasana di dalam mobil begitu hening. Bahkan Murat tidak menyalakan alat pemutar musik yang terpasang di mobil berwarna hitam itu, membuat kantuk perlahan merayap, membujuk mata Eby untuk terpejam. Berulang kali wanita itu menguap, bahkan sesekali ia menggosok matanya agar air yang hampir keluar, kembali masuk kembali ke dalam bola matanya.


"Ngantuk?" tanya Murat sesekali melirik ke arah Eby, lalu kembali fokus pada jalan di depannya.


"Sedikit," sahut wanita itu sembari meregangkan otot-ototnya. Berharap dengan menggerakkan seluruh badan, bisa menyegarkan matanya kembali.


"Tidur saja, biar nanti kuat begadang. Mau aku bantu menurunkan sandarannya?"


"Nggak usah. Udah hilang, kok, makasih." Eby menyahut dengan menampilkan senyum manisnya.


Murat tidak menjawab. Ia kembali fokus ke depan, di mana jalan yang dilewati sedikit rusak. Cukup lama percakapan mereka terhenti, karena perkara jalan berlubang tersebut.


"By," panggil Murat saat mobil sudah melaju dengan mulus.


"Hmmm,"


Murat menoleh. Dilihatnya Eby juga tengah menatapnya.


"Boleh aku tau, siapa wanita yang tadi siang mencarimu di hotel?" tanya Murat hati-hati.


"Aku jug nggak tau siapa wanita itu. Tapi rasanya, wajahnya pernah aku liat, tapi aku lupa di mana." Eby menjawab dengan alis berkerut. Seolah tengah memaksa otaknya untuk mengingat wajah tersebut.


"Banyak juga masa lalu yang belum usai dalam hidupmu ya," ucap Murat lagi.


"Apa kamu tidak berniat mencari tau siapa wanita itu? Kalau menurutku, sebaiknya selesaikan satu persatu masalah yang belum usai dari masa lalumu."

__ADS_1


"Murat, sorry. Bisakah tidak membahas tentang itu saat ini? Bukankah kamu mengajakku pergi untuk bersenang-senang?"


Eby memotong ucapan Murat, membuat suasana canggung nampak jelas di antara mereka.


__ADS_2