
Ada yang berbeda dari sikap Murat hari ini. Yang membuat bukan hanya Eby, tetapi juga staf lainnya merasa aneh. Laki-laki dengan tatapan mata kelam itu, nampak lebih murah senyum dibanding biasanya. Terlebih pada Eby, dia bahkan menyapa wanita yang postur tubuhnya hanya setinggi ketiaknya itu.
Perubahan itu tidak lepas dari nasihat dua sejoli, yang kemarin ia ganggu hingga tengah malam. Ahmed dan Ratih banyak memberinya saran bagaimana caranya mendekati Eby. Dan dari Ratih pula ia tahu banyak tentang masa lalu Eby. Tentu setelah ia meyakinkan wanita yang sebentar lagi akan menikah itu, jika dirinya punya niat serius terhadap sang sahabat.
Dan hari ini, ia akan mulai melakukan pendekatan secara terang-terangan pada wanita yang baru merasakan patah hati itu.
"Hai, By," sapanya saat wanita itu bersiap untuk makan siang.
Eby sedikit terkejut mendapat sapaan dari bosnya yang berwajah datar. Ia juga melihat kiri dan kanan, memastikan apakah ada orang lain di sekitar mereka, yang kemungkinan memiliki nama mirip dengannya? Namun hanya ada satu rekan kerjanya di sana. Itu berarti benar, dirinya yang di sapa sang atasan.
"Iya, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" ucap Eby akhirnya setelah menguasai kebingungannya.
"Sudah waktunya makan siang, mau makan bareng?" tanya Murat to the point.
"Hah!" Eby terkejut dengan tawaran sang bos. Bukan hanya Eby, staf yang kebetulan ada di samping Eby pun terkejut dengan ucapan bosnya tersebut.
"Maksud saya, Ahmed dan tunangannya mengundang untuk makan siang bersama. Apa kamu mau ikut?" ucap Murat meluruskan.
Awalnya Eby ingin menolak, tapi seketika ia teringat ada sesuatu yang ingin ditanyakan pada laki-laki itu. Jadi ia memutuskan untuk ikut.
"Tapi tidak bisa lama, Tuan. Sebab saya harus bergantian dengan teman ...."
"Tidak masalah, ayo! Mereka sudah menunggu di kafe depan." Murat memotong ucapan Eby dan menarik tangan wanita itu agar segera meninggalkan area front office.
"Mau makan di mana?" tanya Murat saat mereka sudah berada di dalam mobil.
"Lho, katanya sudah janjian dengan Ratih? Kenapa bertanya lagi?" tanya Eby bingung.
__ADS_1
"Ah? Eee mereka barusan tiba-tiba membatalkan acaranya," sahut Murat gugup.
Mata Eby memicing curiga. Menatap tajam ke arah atasannya tersebut.
"Anda berbohong kan?" tanyanya dengan tatapan tidak suka.
Murat menggaruk alisnya yang tiba-tiba gatal. Bingung harus menjawab apa, sebab tidak menyiapkan jawaban sebelumnya.
"Apa maksud Anda, Tuan? Oh ya, selama ini juga apakah Anda menguntit? Dari mana Anda tau alamat saya, sementara saya tidak pernah memberi tau Anda?" cecar Eby lagi.
Murat diam. Tidak bisa menjawab pertanyaan Eby. Ia fokus mengendalikan stir , sebab jalanan siang itu nampak begitu padat.
"Tuan,"
"Nanti saya jawab. Kita cari tempat makan dulu," sahut laki-laki itu.
Pagi tadi ia menghubungi sang sahabat, menceritakan apa yang terjadi kemarin malam. Tentang Murat yang tiba-tiba tahu alamat kostnya, sementara dia yakin belum mengatakan pada laki-laki itu. Dan Ratih dengan santainya berkata, jika laki-laki asal Turki itu menaruh hati padanya.
"Nggak usah ngadi-ngadi, Rat! Aku sama dia bagai bumi dan langit," bantah Eby
"Ih beneran! Dia sendiri yang cerita kemarin di depan aku dan Ahmed."
"Kapan?"
"Kemarin. Habis antar kamu, dia di sini sampe tengah malem, tau! Dia cerita banyak hal, gimana selama ini dia memendam perasaan sama kamu, pengen deketin tapi ragu. Diam-diam ngikutin kamu, sebab ingin memastikan kalau kamu baik-baik aja."
"Nggak mungkin lah," gumam Eby saat itu, dan segera mengakhiri panggilan.
__ADS_1
Pikiran Eby kini melayang ke mana-mana. Jika benar Murat menyukainya, apa yang harus ia lakukan? Ia belum berniat menjalin hubungan dengan siapapun. Terlebih dengan orang yang sangat jauh berbeda dengan dirinya.
"Hei, sudah sampai. Ayo turun!" Murat mengejutkan lamunan Eby. Sikap laki-laki itu berubah 180° sekarang. Meski masih menampilkan wajah datar, namun caranya berbicara tidak seketus sebelumnya.
Eby benar-benar dijamu oleh bosnya itu, membuat dia merasa tidak enak hati.
"Kenapa berlebihan begini, Tuan? Saya tidak makan sebanyak ini,"
"Saya tau. Makan saja yang mana kamu suka, nanti sisanya biar saya yang makan," sahut Murat dengan senyum tipis di bibirnya.
Eby menjadi semakin gelisah.
"Sebenarnya apa yang anda mau?" tanya Eby akhirnya. Tidak tahan dengan sikap Murat yang membuatnya jengah.
Murat menarik nafas.
"Saya menyukai kamu. Saya ingin mengenal kamu lebih jauh. Maaf selama ini saya terlalu pengecut untuk mengakuinya. Saya hanya merasa bingung bagaimana cara mengungkapkannya. Dan saya akui selama ini diam-diam membuntuti kamu. Saya hanya ingin memastikan kamu aman. Maaf kalau membuatmu tidak nyaman," ucap Murat jujur. Ia sudah tidak bisa mengelak untuk mengakui semuanya.
Eby menarik nafas dalam. Bingung harus berkata apa.
"Boleh saya makan ini?" Wanita itu justru mengalihkan topik pembicaraan, mengalihkan rasa gugupnya.
"Oh ya, makanlah," sahut Murat.
Sembari mengunyah makanan, Eby berpikir bagaimana cara bicara pada bosnya, tapi tidak membuat laki-laki itu tersinggung.
Ia tidak ingin memberikan harapan pada sosok di depannya. Namun ia juga tidak mau membuat Murat merasa dipermalukan.
__ADS_1