Luka Di Ujung Asa

Luka Di Ujung Asa
Bab 53


__ADS_3

Eby baru saja tiba di rumah sakit, setelah perjalanan lebih dari enam jam pulang pergi, dan harus mengantri di bank untuk menyimpan uang yang baru saja pihak Willi serahkan padanya. Namun pemandangan menusuk mata sudah menyambutnya ketika ia baru saja membuka pintu ruang perawatan Lingga.


Di sofa sudut ruangan, ia melihat Karina tengah duduk berdua bersama Angga, dan yang membuatnya semakin marah, tangan keduanya yang saling menggenggam.


"By!" Karina terkejut dan secepat kilat melepas tangan Angga. Ibu dari tiga anak itu bangkit mendekati putri sulungnya.


Dengan gugup ia bertanya, "Tama di mana? Kok nggak ke sini?"


Eby menatap tajam manik ibunya yang berusaha mengalihkan pandangan.


"Bisa kita bicara di luar? Bertiga." Eby tidak menanggapi pertanyaan ibunya, ia justru meminta wanita itu keluar bersama Angga yang juga mengekor di belakang.


"Ada apa? Ayah kamu baru saja terlelap, nanti kalau dia bangun, gimana?"


"Ayah bukan anak kecil yang harus ditunggui. Kita hanya di taman depan, jadi nggak perlu khawatir."


Eby melangkah lebih dulu, meninggalkan ibu dan pamannya. Dengan menahan lelah dan emosi, wanita itu menyeret kakinya menuju sebuah taman kecil yang terletak tidak jauh dari kamar rawat sang ayah.


Ia melirik dengan ekor mata, Karina dan Angga mengikutinya dari belakang.


Setelah sampai di tempat yang agak sepi, Eby membalik badan dan menatap dua paruh baya di depannya.


Karina mendekati anaknya, mencoba membujuk Eby agar tidak berkata sembarangan pada Angga.

__ADS_1


"By, ini nggak seperti yang kamu pikirkan. Om Angga hanya mencoba menghibur ibu, dia hanya ingin memberi kekuatan sama ibu," tutur Karina.


Eby mendengus. Ia mengabaikan ucapan Karina, dan mendekat ke arah Angga.


"Om, maaf sebelumnya kalau apa yang aku ucapkan nanti menyinggung om Angga. Tapi ini harus aku jelaskan sama Om. Om harus tau, apa yang terjadi di keluarga kamu selama ini."


"Ada apa, By? Apa yang terjadi?" Angga dengan wajah tegang, bertanya pada Eby.


"By, nggak ada hubungannya sama om Angga! Kamu jangan sangkut pautkan dia!" sergah Karina mencoba menghentikan anaknya. Tapi Eby tidak peduli. Ia melanjutkan ucapannya.


"Om tau? Kedekatan om sama ibu menjadi pergunjingan di sekitar kami. Ayah tertekan akan hal itu, om. Dia merasa tidak berguna karena membiarkan istrinya bergantung pada laki-laki lain selain dirinya. Dia merasa rendah diri, merasa tidak ada harganya, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa memendam semuanya sendiri. Menahan cemburu dan sakit hati sendiri. Itu yang membuat ayah kembali kolaps, om." Eby menjeda ucapannya, melihat reaksi sang paman yang nampak terkejut.


"Jadi aku minta sama om, tolong jaga perasaannya. Jangan tunjukkan kedekatan kalian di hadapan ayah. Jangan siksa kakak kandung om sendiri, dengan menunjukkan kalau om bisa menjadi penggantinya dalam menjaga ibu. Om sayang kan sama ayah? Om ingin beliau panjang umur kan?" lanjut Eby lagi.


"Terima kasih atas kepedulian om, tapi saat ini apa yang om lakukan ternyata tidak berdampak baik untuk ayah. Cara om peduli, membuat dia merasa rendah diri. Cara om menjaga ibu, membuat dia merasa tidak berguna. Aku nggak mau om, kesalahpahaman seperti ini, justru malah membuat ayah semakin parah. Om bisa mengerti kan maksud aku?"


Angga tidak bisa berkata apapun lagi. Dia hanya diam, dan tidak berselang lama memilih pamit meninggalkan Eby dan Karina.


Setelah kepergian Angga, Karina mendekati Eby dengan wajah marah.


"Apa maksud kamu berkata seperti itu pada om Angga?! Dari mana kamu belajar tidak sopan seperti itu pada orang yang lebih tua?!" bentak Karina.


Karina lupa, yang ia bentak bukan lagi anak SMA yang akan menunduk menahan tangis saat dimarahi. Dia lupa, anaknya sudah dewasa, sudah bisa membedakan baik dan buruk, benar dan salah.

__ADS_1


"Om Angga itu ipar ibu, adik dari laki-laki yang ibu nikahi. Pantas kalian berpegangan tangan seperti tadi? Aku nggak tau apa lagi yang kalian lakukan di belakang kami, tapi semua yang aku lihat cukup meyakinkan aku, kalau kalian tidak murni hanya sebatas ipar. Aku sudah katakan pada ibu, bukan? Aku tidak suka kedekatan kalian. Apa yang kalian lakukan tidak benar, Bu. Aku nggak peduli perasaan seperti apa yang kalian berdua rasakan. Yang pasti, cara kalian salah."


"Apa yang kamu tau tentang perasaan ibu? Ibu kesepian, ibu butuh teman berbagi, ibu butuh seseorang yang bisa melindungi ibu, apa kamu tau itu? Dan om Angga, dia adalah teman yang selalu mengerti ibu. Selalu ada saat ibu membutuhkannya, selalu bersedia menjadi penolong ibu, dalam keadaan apapun."


"Apa ayah tuli hingga ibu membutuhkan telinga yang lain untuk mendengar keluh kesah ibu? Apa aku, Tama, dan Elin tidak cukup menjadi teman berbagi kegelisahan ibu? Apa Tama masih terlalu kecil untuk menjadi penjaga ibu? Apa segala kerja kerasku membantu ekonomi keluarga kita tidak cukup, hingga ibu membutuhkan penopang lain dalam hidup ibu?"


"Kamu nggak akan mengerti perasaan ibu, By. Kamu nggak akan pernah tau bagaimana rasanya menjadi ibu." sahut Karina lemah, sembari menatap Eby dengan kecewa.


"Aku mungkin nggak bisa mengerti perasaan ibu. Yang aku tau, rasanya di sini sakit dan sesak, saat menyadari orang yang kita cintai telah menduakan kita, Bu." Eby memukul dadanya berulang kali dengan mata berkaca-kaca.


"Itu juga yang aku lihat dari tatapan mata ayah. Laki-laki yang dulu selalu menjadikan ibu ratu, memenuhi segala mau ibu, kini sedang terluka Bu. Bukan fisiknya, tapi hati dan jiwanya. Dia yang begitu mencintai ibu, kini tidak berdaya saat penyakit merenggut kekuatannya. Dia butuh istri yang mencintainya dengan segenap jiwa, bukan hanya raga yang tak memiliki rasa, Bu. Dia butuh ibu dengan ketulusan hati ibu."


Eby merasakan sakit, saat ia mengucapkan kata demi kata pada ibunya. Ia membayangkan bagaimana perasaan ayahnya selama ini, yang tersiksa oleh keadaan.


"Bayangkan jika ibu ada di posisi ayah saat ini. Apa yang ibu rasakan? Ketika ibu tidak berdaya, tapi ayah justru mencari wanita lain sebagai tempatnya berkeluh kesah? Persis seperti yang ibu lakukan saat ini. Apa ibu akan baik-baik saja?"


"Tapi ibu tidak berselingkuh dengan om Angga! Asal kamu tau itu!" Karina kembali tersulut emosi.


"Aku tidak peduli dengan status hubungan kalian, aku hanya minta ibu memposisikan diri seperti ayah saat ini. Apa yang akan ibu rasakan?"


Karina diam, tidak dapat menjawab ucapan anak sulungnya itu.


"Aku minta sama ibu, berhenti mencari orang lain untuk tempat ibu berbagi. Anak-anak ibu sudah besar, jadikan kami sebagai teman ibu. Bisa kan, Bu?" Eby berucap dengan lembut. Mencoba menyentuh kedalaman hati sang ibu yang keras. Berharap apa yang ia katakan mampu meluluhkan perasaan wanita yang melahirkannya itu.

__ADS_1


__ADS_2